detikNews
Rabu 21 Agustus 2019, 15:42 WIB

Bunker Belanda di Kota Magelang, Kondisinya Kini Tak Terawat

Eko Susanto - detikNews
Bunker Belanda di Kota Magelang, Kondisinya Kini Tak Terawat Bangunan bunker peninggalan Belanda yang berada di Kota Magelang. (Eko Susanto/detikcom)
Magelang - Bunker peninggalan Belanda di Kota Magelang kondisinya tidak terawat. Bahkan bangunan yang dibangun sekitar tahun 1937 itu sekarang menjadi sarang kelelawar.

Bunker tersebut berada di Jalan Doreng Timur, Kwarasan, Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, tepatnya di belakang kantor Kecamatan Magelang Tengah. Di media sosial ada yang menuliskan merupakan gua peninggalan Jepang, namun ternyata berupa bunker.

Berdasarkan pantauan detikcom, lebar pintu masuk bunker sekitar 1,5 meter dengan ketinggian bangunan 3,5 meter. Kemudian jalan masuk mirip lorong dan nantinya akan menemukan pintu kembali.

Begini Kondisi Bunker Peninggalan Belanda di Kota MagelangFoto: Eko Susanto/detikcom
Kondisi di dalam bunker ini gelap karena hanya ada satu lubang ventilasi udara. Terdapat enam ruangan, empat ruangan berukuran sekitar 3,5x3,5 meter dan yang dua ruangan berukuran kecil. Kemudian di dalamnya juga ada pintu keluar namun kondisinya tertutup tanah.



Saat ini bunker tersebut dipenuhi sarang kelelawar. Saat masuk bunker ini, akan tercium bau tidak sedap yang berasal dari kotoran kelelawar tersebut.

"Bangunan zaman Belanda. Setahu saya, cuma untuk perlindungan atau apa, saya kurang tahu. Cuma tahu dari orang tua. Yang tahu persis bangunan itu orang tua, tapi sudah nggak ada," kata warga yang rumahnya berdekatan dengan bunker, Sugiarti (62), saat ditemui, Rabu (21/8/2019).

"Kalau yang saya tahu ada enam kamar. Bangunan itu dalam modelnya setengah lingkaran. Dulu sering bersih-bersih," tuturnya.

Begini Kondisi Bunker Peninggalan Belanda di Kota MagelangFoto: Eko Susanto/detikcom


Warga berharap bangunan ini bisa dijadikan lokasi wisata agar generasi penerus mengetahui sejarah yang ada. Bahkan sudah berulang kali disurvei dari Dinas Pariwisata, baik dari Semarang maupun Jakarta, namun sampai sekarang tidak ada tindak lanjutnya.

"Ya inginnya begitu (jadi lokasi wisata). Itu sudah berulang kali ditengok dari Dinas Pariwisata, dari Jakarta pernah, Semarang juga pernah, tapi ya cuma diketahui saja. Terus tindak lanjutnya nggak ada, tetap seperti itu," ujar dia seraya bersyukur jika menjadi wisata.

"Yang penting bersih. Terus atas juga bersih," katanya.



Pegiat Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, mengatakan bangunan ini merupakan bunker atau tempat perlindungan. Pembangunan bunker ini sekitar tahun 1937 berbarengan dengan pembangunan Perumahan Kwarasan karya Herman Thomas Karsten. Pemerintah Hindia Belanda melalui LBD (Luchtgevaar en Luchtbescherming Diens), semacam lembaga perlindungan udara, membuat kebijakan dan mengimbau kepada warga masyarakat yang tinggal di Hindia Belanda untuk membuat tempat perlindungan. Bunker tersebut salah satunya untuk berlindung saat terjadi bencana maupun perang.

"Melalui LBD, semacam lembaga perlindungan udara, lembaga ini membuat kebijakan mengimbau kepada warga masyarakat yang tinggal di Hindia Belanda untuk membuat tempat perlindungan mengantisipasi bila ada bencana. Kalau di Magelang, bencana Gunung Merapi dan perang," ujar Bagus.

"Pada tahun 1930, ketika Merapi meletus, ternyata banyak memakan korban di Magelang. Terus lagi, pada tahun 1937, pemerintah Belanda mencium gelagat adanya perang oleh agresivitas dari Jepang. Karena Jepang di tahun tersebut sudah mulai masuk di wilayah China dan seterusnya," katanya.

Begini Kondisi Bunker Peninggalan Belanda di Kota MagelangFoto: Eko Susanto/detikcom


Dalam membangun bunker, kata dia, pemerintah Hindia Belanda membuat beberapa kategori yang bisa untuk keluarga, kawasan permukiman seperti di Kwarasan dan di sekolah-sekolah. Khusus di Kota Magelang, ketika terjadi bencana pemerintah Belanda membunyikan sirene yang berada di atas water toren. Sirene tersebut kemudian menyalur di tiga menara bengung, yang berada di Kemirirejo, Plengkung, dan Potrosaran.

"Khusus di Magelang, ketika terjadi bencana, pemerintah Belanda membunyikan sirene di water toren yang kemudian nyalur ke tiga menara bengung. Ketika bengung berbunyi, masyarakat segera melakukan penyelamatan diri. Jadi korelasi antara menara bengung dengan ini bangunan ini ada," jelasnya.
(skm/skm)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com