Sandal Bandol Banyumas yang Mulai Terlupakan

Sandal Bandol Banyumas yang Mulai Terlupakan

Arbi Anugrah - detikNews
Jumat, 16 Agu 2019 18:38 WIB
Foto: Arbi Anungrah/detikcom
Foto: Arbi Anungrah/detikcom
Banyumas - Ban bekas atau sering disebut ban bodol/rusak bisa dibuat sandal. Sanda ini sering disebut sandal bandolatau sandal dari ban bodol (ban bekas). Kabupaten Banyumas merupakan salah sentra sandal bandol yang sudah ada sejak puluhan tahun.

Sampai sekarang sandal bandol ini masih banyak dicari baik warga Banyumas dan sekitarnya maupun para wisatawan. Pusat kerajinan sandal bandol Banyumas ini berada di Grumbul Banaran, Kelurahan Pasir Kidul, Kecamatan Purwokerto Barat.

Namun perlahan-lahan sandal bandol mulai dilupakan masyarakat. kalah bersaing dengan sandal produksi pabrik. Pemasaran yang kurang mengakibatkan orang yang menggeluti kerajinan sandal bandol ini semakin menyusut. Untuk meningkatkan pemasaran dan menyambut hari kemerdekaan RI, diadakan lomba desain sandal bandol dengan tampilan yang lebih menarik.

"Harapannya dari lomba lomba ini mereka berinovasi mebmuat model yang unik menarik, Kita akan mencoba memasarkan ke menengah keatas," kata Imam Tahyudin, Ketua Kelompok pengrajin alas kaki bandol Simba kepada wartawan, Jumat (16/8/2019).

Dia menjelaskan ada lima kriteria sandal bandol yang diperlombakan, diantaranya kenyamanan, kerapihan, desain atau tingkat kreativitas dari desain tersebut, inovasi dan kekuatannya. Bahan baku tetap dari ban bekas.

"Kami ingin mencari potensi mereka para perajin supaya lebih kreatif membuat model-model, desain-desain baru dari bandol," jelasnya.

Dia menjelaskan jika dengan adanya lomba ini pula akan ditemukan model model terbaru hasil kreativitas pengrajin sandal bandol. Selain itu juga bisa meningkatkan pemasaran sandal bandol melalui hotel-hotel.

"Kita sudah menggandeng hotel, jadi melalui hotel ini kita akan membuat semacam katalog, jadi bisa ditaruh dikamar hotel itu. Sehingga harapan para tamu-tamu itu bisa memesan melalui paguyuban kita di sini," ucapnya.

Dia mengungkapkan biasanya untuk membuat satu sandal bandol saja, pengrajin bisa memakan waktu tiga hari hingga satu minggu. Harga yang dijual pun kisaran Rp 75 ribu hingga Rp 200 ribu tergantung tingkat kesulitan modelnya.

"Ada beberapa teman-teman mengkolaborasi ban murni kemudian desainnya juga dibuat sederhana, simple, casual sehingga pembuatannya lebih cepat," jelasnya.

Menurutnya saat lomba ada 25 peserta, terdapat bermacam macam desain sandal bandol. Beberapa diantaranya sandal bandol yang dibuat menyerupai sandal Aladin, sandal gunung ataupun sepatu sandal.

Sementara itu Camat Purwokerto Barat, Totok Subagyo menambahkan lomba desain sandal bandol ini berawal dari persoalan yang selama ini dirasakan mereka yakni dalam pemasarannya.

"Untuk hanya mendapatkan satu (sandal bandol) saja sangat sulit. Sementara itu dari konsumen jarang sekali membeli sehingga mereka mereka beralih ke Spandol (sandal dari bahan spon). Sementara masyarakat di luar Banaran itu minatnya ke bandol yang asli karena itu unik dan antik," ujarnya.

"Pengrajin secara keseluruhan ada 32. Tapi yang masih aktif menggeluti bidang khusus bandol itu sekarang dan yang benar-benar ahli hanya 3, belum ada generasi. Generasi ini bisa muncul kalau kita bisa membuktikan bahwa tidak ada masalah lagi dengan pemasaran. Kami bisa mengawali regenerasinya dan ada peningkatan," imbuhnya.

Sementara Wakil Ketua Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, Anggit Pandu Baskara mengatakan pihaknya saat ini tengah mencari produk-produk unggulan untuk masing- masing daerah di Jawa Tengah.

"Dan kita di Banyumas ternyata ada bandol dan bandol namanya sudah ngangkat cuma pemasarannya saja. Dengan lomba ini harapannya bisa menjadi solusi terhadap desain produk itu sendiri," jelasnya.

Pihaknya akan terus mendorong produk sandal bandol agar bisa menjadi produk unggulan, terutama untuk Jawa Tengah bagian selatan secara ekonomi kreatif Jawa Tengah.


(arb/bgs)