detikNews
Kamis 15 Agustus 2019, 12:06 WIB

JK: Bicara tentang Pancasila Jangan Dipersulit

Pradito Rida Pertana - detikNews
JK: Bicara tentang Pancasila Jangan Dipersulit Kongres Pancasila XI di UGM. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Sleman - Wakil Presiden (Wapres) RI, Jusuf Kalla (JK) berharap Kongres Pancasila XI di UGM menghasilkan pembahasan yang sederhana akan Pancasila. Menurutnya, semakin sederhana pemahaman akan Pancasila membuat orang-orang bisa memahami dan memaknai Pancasila.

JK mengatakan, bahwa saat ini Pancasila kerap menjadi tema dalam suatu diskusi dan pembahasan dalam acara-acara tertentu. Menurutnya, hasil pembahasan dan diskusi terkait Pancasila itu malah mempersulit masyarakat memahami Pancasila.

"Jadi jangan Pancasila itu dipersulit lah, jangan jadi tema seminar saja dan jangan jadi bahan indoktrinasi," ucapnya dalam Kongres Pancasila XI bertema 'Aktualisasi Pancasila dalam Merajut Kembali Persatuan Bangsa' di Balai Senat UGM, Kabupaten Sleman, Kamis (15/8/2019).

"Karena kalau makin dipersulit makin sulit dipahami, kalau sulit dipahami gimana mau dihayati. Maka yang sederhana saja, karena makin sederhana pembahasan Pancasila makin orang mudah dipahami, makin paham makin bisa dihayati," imbuh JK.


Berkenaan dengan hal tersebut, JK meminta Kongres Pancasila ini berlangsung secara sederhana dan tidak terlalu banyak mengurai makna Pancasila dengan falsafah-falsafah khusus. Mengingat Pancasila hanya terdiri dari 5 sila dan mudah untuk menghayatinya dal kehidupan sehari-hari.

"Maka, sekali lagi harapan saya semoga pertemuan ini (Kongres Pancasila XI) menghasilkan sesuatu yang sederhana, sesuatu yang mudah dipahami, sesuatu yang mudah dihayati dan diukur (masyarakat akan Pancasila)," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UGM, Panut Mulyono menambahkan bahwa Kongres Pancasila XI kali ini mengambil tema 'Aktualisasi Pancasila dalam Merajut Kembali Persatuan Bangsa'. Menurutnya, tema tersebut menegaskan tanggung jawab segenap elemen masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

"Perjuangan para pendahulu kita dalam menentang kolonialisme adalah demi merontokkan struktur yang membeda-bedakan warga negara, menolak struktur anti-kesetaraan dan anti-kebebasan. Sayangnya, dalam kehidupan kita hingga saat ini masih terjadi relasi kuasa yang tidak seimbang," kata Panut dalam pidatonya.


Lanjut Panut, untuk mewujudkan visi bernegara seperti yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945 alenia kedua, maka dibutuhkan kemauan dan kemampuan setiap warga negara untuk bekerja sama di dalam segala ragam perbedaan yang ada.

"Pancasila menjadi penting dalam semua usaha ini. Kita dapat belajar tentang metode kerja sama dan cara mengembangkan persatuan bangsa melalui sejarah Pancasila. Bung Karno adalah orang yang telah membuktikan dengan gagasannya berupa Pancasila," ucapnya.


Menhan: Kalau Pancasila Diotak-Atik, Bangsa Akan Lemah
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed