detikNews
Selasa 13 Agustus 2019, 13:09 WIB

Menhan Ajak Mahasiswa UNS Tolak Paham Khilafah

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Menhan Ajak Mahasiswa UNS Tolak Paham Khilafah Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu bersama Rektor UNS Jamal Wiwoho, Selasa (13/8/2019). (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu memberi kuliah umum kepada mahasiswa baru di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Dia berbicara mengenai paham radikal, khilafah, hingga terorisme.

Ryamizard menegaskan khilafah tidak dapat diterima di Indonesia. Dia mengingatkan bahwa para mahasiswa itulah yang nanti bisa menyelamatkan Indonesia dari paham tersebut.

"Mungkin khilafah paling benci sama saya, saya ngomong terus, tapi nggak apa-apa. Yang penting bangsa ini selamat. Yang menyelamatkan bangsa Indonesia ini 30 tahun ke depan ya kalian semua. Makanya kalian harus betul-betul mempraktikkan ini," ujar Ryamizard, Selasa (13/8/2019).

Dia juga menjelaskan kemunculan paham khilafah pertama kali di jazirah Arab. Paham tersebut awalnya digunakan oleh bangsa Barat untuk memecah peradaban Ottoman Turki Utsmani dengan bekerja sama dengan Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.

"Mereka mulai mengkafirkan semua golongan selain kelompoknya, menolak tafsir Alquran yang menurutnya mengandung bid'ah. Mula-mula menyerang Syiah, sufi, lalu ahlussunnah. Kita ini ahlussunnah," ujar dia.

Hingga kini, kata Ryamizard, paham tersebut sudah ditolak di 21 negara, seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi, Malaysia, dan Indonesia.

"Wajah Islam Indonesia penuh damai. Semuanya, Islam membawa rahmat di seluruh muka bumi, menjunjung tinggi nilai persatuan dan toleransi. Kedamaian Islam memiliki peran penting dalam kemerdekaan Indonesia," katanya.

Dia juga menyampaikan mengenai bahaya paham khilafah jika terus berkembang di Indonesia. Ryamizard khawatir paham tersebut akan berkembang menjadi radikalisme hingga terorisme.

"Harimau yang ganas makan orang, tapi tidak pernah dia melukai anaknya. Itu macan. Tapi kalau kita lihat bom bunuh diri kemarin, bagaimana seorang ibu dengan dua anak menyongsong bom bunuh diri. Harusnya takut, tapi kenapa tidak takut? Mindset-nya sudah diubah, oleh siapa? Khilafah, teroris," katanya.
(bai/skm)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com