detikNews
Sabtu 10 Agustus 2019, 12:06 WIB

Kisah Tanaka, Tentara Jepang Bela Indonesia Hingga Akhir Hayat

Eko Susanto - detikNews
Kisah Tanaka, Tentara Jepang Bela Indonesia Hingga Akhir Hayat Foto: Eko Susanto/detikcom
Magelang - Tanaka Mitsuyuki adalah salah satu eks tentara Jepang pada masa Perang Dunia II yang kemudian ikuy berjuang menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia. Jiwa raga Tanaka hingga akhir hayatnya untuk Indonesia.

Ia dulunya merupakan tentara Jepang. Saat Jepang kalah dengan Sekutu, dia memilih tidak kembali ke negara asalnya. Ia justru bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk ikut berjuang melawan penjajah Belanda di Magelang dan sekitarnya.

Dia kelahiran 10 Oktober 1921 di sebuah desa kecil bernama Kiyomimachi di Kota Takayama Provinsi Gifu, Jepang. Saat berusia, 18 tahun Tanaka pun harus ikut wajib militer. Ketika dikirim menuju daerah lain saat ikut wajib militer. Saat itu ia sudah menikah.

Setelah mengikuti pendidikan militer di jepang, Tanaka pertama kali dikirim menuju wilayah Manchuria di Tiongkok pada tahun 1939. Setahun berikutnya menuju Taiwan, Filipina, Singapura dan Thailand. Pada tahun 1940, Tanaka ditugaskan di Hindia Belanda (Indonesia), mulai Tarakan, Kalimantan dan Surabaya.
Tanaka atauSutoroTanaka atauSutoro Foto: Eko Susanto/detikcom

Pada masa antara tahun 1942-1945, baginya merupakan masa yang sulit karena karena harus berperang melawan Sekutu. Saat terjadi bom di Nagasaki dan Hiroshima pada tahun 1945, membuat Jepang bertekuk lutut pada Sekutu.

Ketika itu, tidak sedikit tentara Jepang yang menyerahkan diri kepada Sekutu, bahkan ada yang melakukan bunuh diri atau harakiri. Tanaka ketika itu, justru memilih tetap berada di Magelang dan kemudian bergabung dengan BKR. Saat bergabung dengan BKR inilah, dia berganti nama menjadi Sutoro.

"Nama Jepang, bapak saya, Tanaka Mitsuyuki. Pada waktu itu, Jepang kekurangan militer, pemerintah setempat membutuhkan anak-anak muda untuk dikirim ke Asia Timur Raya. Bapak saya cerita setelah didaftar dibawa dan dikirim ke Manchuria, Tiongkok dilatih disana," ujar Sugiyon (60), salah satu putera Sutoro saat ditemui di rumahnya Jalan Kalingga 668, Kota Magelang, Rabu (7/8/2019).

"Setelah di Manchuria, cerita bapak saya baru dikirim ke Taiwan, Filipina dan lainnya. Kalau sampai di Indonesia sekitar tahun 1942, saat ini masih tentara Jepang dengan pangkat buco, disini setingkat sersan," tuturnya.

Saat di Indonesia tersebut, dia pernah keliling hingga Papua, Kalimantan dan kawasan Indonesia Timur. Saat Jepang kalah dan pemerintah Jepang meminta para tentaranya untuk menyerahkan diri. Namun Sutoro tidak mau kembali menuju negara asalnya, ia justru memilih tetap berada di Indonesia.

"Bapak punya prinsip mungkin, kenapa diperintahkan untuk mati sekarang, belum mati menyerah. Terus bapak berpikir Indonesia juga belum merdeka, nantinya kalau pulang (Jepang) menyerah, Belanda datang. Dari pada bunuh diri, lebih baik bantu Indonesia berjuang untuk kemerdekaan," katanya.

"Setelah itu, bapak menghubungi BKR ada Pak Suryo Sumpeno, Pak Sarbini," kata Sugiyon.

Selain ia bergabung dengan BKR, ada teman lainnya yang seperti Muhammad, Winata dan Jono. Selama di Magelang, Sugiyon menceritakan, bapaknya ikut berjuang melawan Belanda di Kampung Tulung. Ia sempat menembaki dua pesawat cocor merah dari atas Water Toren di Kota Magelang. Pesawat yang ditembaki tersebut jatuh di Sapuran, Wonosono dan Kaliangkrik, Magelang. Selain berjuang di Magelang dan sekitar, ia jua turut berperang melawan Belanda saat peristiwa Palagan Ambarawa.

Agar tidakketahuan, nama Tanaka diganti jadi Sutoro. Kemudian sekitar tahun 1948, Sutoro menikah dengan gadis asal Salaman, Suparti. Ia bertemu Suparti saat bertugas di sekitar Salaman. Pernikahan dengan Suparti ini dikaruniai 11 anak, sekarang tinggal 6 orang.

Setelah kemderkaan Sutoro di Magelang. Ia terakhir bertugas dengan pangkat Mayor, kemudian saat pensiun 1974 mendapatkan pangkat kehormatan Letkol. Bahkan, Sutoro pernah mendapatkan piagam Bintang Gerilya dari Presiden Sukarno pada tanggal 10 November 1958. Tepatnya, pada 1 Agustus 1998, Sutoro meninggal dunia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Dharmoloyo Magelang.

"Bapak sebagai orang Jepang, jiwa raganya diserahkan untuk tanah air Indonesia. Sebagai orang Jepang, tapi beliau sudah mendarah daging menjadi orang Indonesia, cinta tanah air Indonesia," tuturnya.

"Anak-anak dipesan jangan jadi tentara kalau tidak ada peperangan Indonesia dengan negara lain. Seandainya ada peperangan, nggak usah dipanggil, langsung mendaptarkan diri," kenangnya.

Jeep Willys
Kisah Tanaka, Tentara Jepang Bela Indonesia Hingga Akhir HayatFoto: Eko Susanto/detikcom

Sugiyon pun menceritakan, ayahnya semasa hidupnya dekat dengan Jenderal Ahmad Yani saat bertugas di Magelang. Bahkan Sutoro mendapatkan kenang-kenangan dari A Yani berupa mobil Jeep Willys.

"Bapak waktu itu dekat dengan Bapak Jenderal Ahmad Yani. Pada waktu Pak Ahmad Yani dinas di Magelang, bapak diberi hadiah karena mau ditinggal ke Jakarta. Diberi hadiah itu sebuah mobil Willys buatan 1943," katanya.

"Bapak pesan, meskipun ini (mobil Willys) besinya sampai habis tidak boleh dijual atau dipindahtangankan," pungkasnya.
(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed