detikNews
Selasa 06 Agustus 2019, 19:54 WIB

Ini Faktanya, Soal Video Penolakan Pendirian Gereja di Semarang Viral

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Ini Faktanya, Soal Video Penolakan Pendirian Gereja di Semarang Viral Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Sebuah video penolakan pendirian Gereja di Semarang tersebar lewat pesan whatsapp. Ternyata aksi tersebut bukan didasari atas intoleransi melainkan masalah izin kenyamanan warga sekitar soal lalulintas.

Dalam video berdurasi 2 menit 50 detik itu diketahui ada seorang pria berpeci yang diketahui sebagai tokoh bernama Nur Azis dan warga di belakangnya menyuarakan agar pembangunan gereja dihentikan.

Video memang tidak utuh dan seolah memperlihatkan intolerasi menentang didirikannya rumah ibadah suatu agama. Dalam video terlihat juga Lurah Tlogosari Kulon, Andreas menengahi dan meminta warga tenang.

Lokasi dalam video tersebut ada di Jalan Malangsari RW 7 RT 6 dan terjadi hari Kamis (1/8) lalu. Pihak Pemerintah Kota Semarang dalam hal ini Camat Pedurungan memanggil mereka siang ini untuk mediasi.

Di ruang rapat Kecamatan Pedurungan Semarang, berbagai pihak mulai dari warga sekitar, pihak gereja, forum keagamaan, kepolisian, dan TNI hadir. Terungkap dalam mediasi tersebut ada luka lama terhadap munculnya IMB pendirian gereja di sana sejak tahun 1998.
Ini Faktanya, Soal Video Penolakan Pendirian Gereja di Semarang ViralFoto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

Ketua RW setempat, Asnawi mengatakan dirinya tidak mau warga sekitarnya dikatakan intoleran karena nyatanya warga yang non Muslim pun tidak masalah disana.

" Itu ada luka lama. Sudah ada yang tidak setuju dari dulu," kata Asnawi dalam mediasi, Senin (5/8/2019).

Dari sisi kenyamanan warga, lokasi calon gereja berpotensi menimbulkan kemacetan karena dekat dengan pertigaan Arteri Soekarno Hatta dekat kampus USM. Ia berharap hal itu diperhitungkan.

"Saya amati kalau itu dibangun Gereja, nanti sering macet karena ada belokan kiri dari USM itu sudah padat. Jamaah tidak ada warga situ dan nantinya bawa. Saya tidak keberatan agama lain masuk ke Malangsari," ujarnya.

Ketua RT setempat, Suaidi menimpali dan mengusulkan jika bisa lokasi pembangunan Gereja dipindahkan. Ia juga mengungkit luka lama dimana ada persetujuan warga dengan tanda tangan padahal warga tidak setuju.

"Peraturan tempat ibadah harus dilengkapi. Kalau soal yang tanda tangan bisa dipalsukan," ujarnya.
Izin termasuk IMB sudah didapat oleh pihak Gereja sejak tahun 1998. Warga mengungkap masih ada penolakan namun izin tetap keluar.

Pendeta Gereja Baptis Indonesia Semarang, Wahyudi mengatakan IMB sudah keluar dan jika ada keberatan bisa lewat proses hukum berlaku. Namun ia masih berharap tetap ada penyelesaian secara kekeluargaan.

"Saya taat hukum, kalau di pengadilan siap . Kalau kekeluargaan siap, lebih senang," kata Wahyudi.

Camat Pedurungan, Kukuh Sudarmanto menjelaskan dari hasil mediasi memang diungkit soal masalah yang sudah berlarut dan warga juga menganggap IMB tersebut harus diperbarui. Selain itu sejak dulu ternyata belum semua warga setuju pendirian gereja di sana.

"Ini sudah mengerucut, warga ingin agar perizinan diulang kembali. Karena izin sudah lama warga merasa sudah cukup karaluarsa. Pihak gereja merasa sudah lewati tahapan dan regulasi, mereka ingin tetap dilaksanakan. Maka kita temukan hari ini," kata Kukuh.
Terpisah, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengaku sudah mendapat laporan terkait hal itu. Memang ada informasi ketika tahun 1998 ada yang meminta tanda tangan ke warga untuk syukuran namun jadi ke persetujuan pembangunan gereja.


"Katanya untuk tanda tangan untuk syukuran, tapi jadi persetujuan," ujarnya.

Menurutnya warga bisa saja lewat proses hukum, namun menurutnya dalam hal ini harus menarik kebelakang dan melihat jelas akar permasalahannya. Sembari menunggu hasil, ia meminta proses pembangunan dihentikan dulu.

"Mari tarik mundur ke belakang apakah izin keluar sesuai prosedur atau tidak. Kalau sudah sesuai, warga diminta menaati," tandasnya.

Ia berharap toleransi di Kota Semarang tetap harus dijaga. Oleh sebab itu pemerintah Kota Semarang memfasilitasi dengan mediasi. Pihak-pihak yang bermediasi di Kantor Kecamatan Pedurungan pun kemudian beranjak ke Kantor Kesbangpolinmas Semarang untuk proses lebih lanjut.




Tonton Video Potret Toleransi yang Bikin Adem di Jumat Agung:

[Gambas:Video 20detik]


(alg/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com