detikNews
Selasa 06 Agustus 2019, 13:59 WIB

Nasib SMA Bilingual di Sragen, Dulu Favorit Kini Tutup

Andika Tarmy - detikNews
Nasib SMA Bilingual di Sragen, Dulu Favorit Kini Tutup Foto: Andika Tarmy/detikcom
Sragen - SMA Negeri Sragen Bililingual Boarding School (SBBS) Gemolong, telah ditutup pemerintah sejak 2017 lalu. Sejumlah pihak mendesak Pemerintah kabupaten (Pemkab) Sragen dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah, agar SMA yang pernah menyandang predikat sekolah unggulan itu kembali dibuka pada tahun ajaran 2019/2020.

SMAN SBBS Gemolong dinilai memiliki fasilitas dan sarana prasarana yang mumpuni, namun tak lagi digunakan sejak sekolah tersebut ditutup 2017 lalu. Di saat yang sama, sejak diberlakukannya kebijakan zonasi, para lulusan SMP di wilayah Gemolong justru kesulitan mendapatkan sekolah yang dekat.

"Bayangkan saja, hanya ada tiga SMA di wilayah Gemolong. Sementara jumlah SMP mencapai 34 sekolah. Dampaknya anak-anak kami terpaksa sekolah di tempat yang jauh," ujar Ketua Komite SMAN SBBS Gemolong, Agung Purnomo saat dihubungi detikcom, Selasa (6/7/2018).

Selain itu, lanjut Agung, pembukaan SMAN SBBS juga akan menghidupkan kembali nilai historis sekolah yang sempat dikenal sebagai sekolah unggulan yang sarat prestasi.

"Pada dasarnya yang kami inginkan hanya dibangun SMA baru. Baik meneruskan SMA SBBS ataupun mendirikan (sekolah) baru, kami serahkan kebijakan pihak berwenang," tegas Agung.
Nasib SMA Bilingual di Sragen, Dulu Favorit Kini TutupFoto: Andika Tarmy/detikcom

Senada, salah satu mantan wali murid SBBS, Rus Utaryono berharap dinas kabupaten dan provinsi segera merealisasikan desakan warga untuk menghidupkan kembali SMA SBBS. Hal ini sangat diperlukan terlebih dengan diberlakukannya sistem zonasi.

"Jika regulasi saat ini menyulitkan untuk mendirikan sekolah berstandar internasional, pilihan yang paling mungkin adalah menghidupkan SBBS sebagai SMA reguler," kata Rus.

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen, Suwardi, mengaku mendukung wacana pendirian SMA di wilayah Gemolong. Hal tersebut sesuai dengan kebutuhan saat ini. Sebab jumlah lulusan SMP/MTs tidak sebanding dengan jumlah SMA negeri.

Namun, lanjut Suwardi, kondisi terkini di lapangan perlu dipahami terlebih dahulu. Fasilitas dan gedungnya SBBS sebenarnya tidak mangkrak, justru saat ini digunakan untuk pengembangan TK, SD dan SMP.

"Untuk sekolah dasar saja kita sudah punya 13 rombel. SMP juga semakin berkembang, tentu saja sangat memerlukan sarana baru, termasuk menggunakan ruangan bekas SMA SBBS" ujar Suwardi.

Jika nantinya akan didirikan SMA baru, pihaknya mempersilakan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan. Bisa saja sekolah didirikan di kompleks SBBS, ataupun mencari tanah lain.

"Seluruhnya kewenangan provinsi, kita hanya bisa mendukung dengan memperhatikan kondisi yang ada," terangnya.

Perlu diketahui, SMAN Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) Gemolong menjadi sekolah favorit di awal pendiriannya. Sekolah yang mulai dibuka tahu 2008 ini ditutup Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud per 7 Desember 2017, meninggalkan aset pendidikan berupa belasan ruang kelas dan ruang laboratorium.

SBBS Gemolong sempat menjalin kerjasama dengan lembaga asing asal Turki, Pasific Countries Social and Economic Solidarity (Pasiad). Kerjasama ini berakhir sejak terjadi kisruh politik di Turki. Pasiad dituding pemerintah Presiden Erdogan, berafiliasi dengan kelompok pelaku aksi kudeta militer di Turki 2016 silam.


Tonton video Jual Beli KK Demi Masuk Sekolah:

[Gambas:Video 20detik]


(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com