Polisi Sita 180 Knalpot Creampie Palsu dari Pengepul di Purbalingga

Arbi Anugrah - detikNews
Kamis, 25 Jul 2019 16:15 WIB
Ilustrasi. Pengrajin knalpot di Purbalingga. Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Purbalingga - Polisi menyita 180 knalpot palsu dari seorang pengepul di Purbalingga. Merek knalpot yang dipalsukan yakni Creampie dan kasus ini kini ditangani oleh Polda DIY.

"Itu kasus pemalsuan merek yang ditangani oleh Polda DIY. Yang memalsukan ada di Purbalingga, Kecamatan Padamara. Proses sidiknya oleh Krimsus Polda DIY," kata Kapolres Purbalingga AKBP Kholilul Rochman kepada wartawan, Kamis (25/7/2019).

Knalpot-knalpot palsu itu diamankan dari tangan seorang pengepul berinisial WG (49). WG mengaku hanya menjual barang dari produsen atau pengrajil nkalpot tanpa tahu merek tersebut telah dipatenkan.

"Pihak Creampie tidak terima, (lalu) melaporkan ke polisi. Saya (jualan) Creampie, tapi beda sama yang asli. Yang aslinya saja saya tidak tahu, jadi ada merek apa aja diterima. Karena di sini pengepul, kita terima dari berbagai pengrajin knalpot," jelas WG kepada wartawan di rumahnya.

WG mengatakan bahwa polisi awalnya menangkap sales knalpot palsu di Yogyakarta. Hingga akhirnya sales itu mengaku membeli knalpot palsu itu dari WG.


Dia menjelaskan bahwa sepengetahuannya,knalpot merek Creampie yang asli memiliki nomor seri dengan cetakan huruf timbul. Sedangkan knalpot dari Purbalingga polisi dan hanya memiliki emblem merek yang dipasang oleh pengrajinnya.

"Yang disita ada 180 knalpot, itu kemarin datang polisi dari Yogya. Saya juga kaget, karena sales-nya Purbalingga sedang pemasaran di sana. itu sales freelance dan dia ambil dari berbagai produsen," ucapnya.

WG mengaku membeli knalpot-knalpot itu dari para pengrajin seharga Rp 50 ribu per buah. Biasanya dia jual kembali ke para sales seharga Rp 65 ribu.

"Saya cuma terima barang saja, saya bukan industri, setelah beli saya jual, sudah ada merek dan emblem, sudah dikemas, hanya siap jual," ucapnya.

Menurutnya, merek tersebut sudah ada sejak 3-4 tahun lalu. Namun dia mengaku tak mengetahui apakah yang ada di Purbalingga merupakan produk asli atau palsu.

"Rata-rata knalpot yang terkenal pasti banyak tiruan. Di sini ada merek lokal Purbalingga, tapi karena penjualan tidak kenceng makanya pada pasang merk yang terkenal," ujarnya.

"Kami se-Purbalingga minta maaf karena tidak tahu. Jadi jangan sampai diproses lagi, cukup sampai sini. Yang asli atau palsu sendiri saya tidak tahu, intinya kami minta maaf," ucapnya.


Penasihat Asosiasi Pengrajin Knalpot Purbalingga (Apik Bangga), Agung Sudrajat menambahkan ada tujuh Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang tergabung dalam asosiasi.

"Kalau produsen itu se-Purbalingga sekitar 700-1000-an. Itu home industry dan belum semuanya gabung di asosiasi. Itu pengrajin mobil dan motor digabung semua," ujarnya.

Untuk mengantisipasi penyalahgunaan merek, Agung mengatakan bahwa saat ini anggota yang tergabung dalam asosiasi sudah memproses pematenan sekitar 100 merek.

"Hampir semua itu sekitar 100-an merek sudah diproses. Yang sudah jadi hanya 10 merek lokal Purbalingga, cuma proses patennya itu lama, sekitar tiga tahun baru jadi," ujarnya.

Kabid Perindustrian Dinas Perindustrian Kabupaten Purbalingga Agus Purhadi Satya menambahkan, pihaknya sudah berupaya agar para pengrajin knalpot bisa mempunyai merek sendiri yang terdaftar. Agus mengungkap sudah ada sekitar 30 pengrajin knalpot yang mengajukan hak paten.

Selain itu, kata Agus, Pemkab berusaha mengangkat produk Purbalingga itu melalui pameran-pameran.

"Tidak selama itu (Tiga tahun proses buat merek), sebanyak 30 pengrajin kita hak paten. Hanya tiga bulan kemarin sudah pada keluar rekomendasinya. Nanti bulan Agustus kita akan mematenkan lagi teman-teman yang belum punya. Kita support terus harapan ke depan mereka bisa jual produk sendiri," ungkapnya. (sip/sip)