Gaya Dakwah KH Chudlori: Beli Gamelan Dulu, Masjid Menyusul Kemudian

Gaya Dakwah KH Chudlori: Beli Gamelan Dulu, Masjid Menyusul Kemudian

Eko Susanto - detikNews
Jumat, 19 Jul 2019 09:58 WIB
KH Chudlori (Foto: istimewa)
KH Chudlori (Foto: istimewa)
Jakarta - Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, adalah salah satu pesantren ternama di tanah air. Ponpes ini dirintis dan didirikan oleh KH Chudlori, ulama sederhana yang memilih jalan dakwah dengan pendekatan hati. Kegembiraan beragama menjadi salah satu hal penting dalam dakwah yang disampaikannya.

Ponpes API didirikan Mbah Chudlori pada tahun 1944. Pada masa itu, perkampungan di sekitar lokasi yang dipilihnya untuk mendirikan pesantren adalah kawasan pedalaman yang cukup di segani karena banyak pelaku kriminal.

Untuk lebih mengakrabkan dengan warga abangan di sekitarnya, pesantren itu semula tanpa nama. Hanya disebut dengan nama Pondok Tegalrejo. Selanjutnya, setelah berkembang menjadi besar, atas desakan banyak pihak, Mbah Chudlori memberinya nama Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo. Tetap memakai nama bahasa setempat.

"Ini memang agak berbeda dengan nama-nama pesantren yang lain yang memakai idiom Arab," kata KH Muhammad Yusuf Chudlori, salah satu putra Mbah Chudlori yang kini meneruskan amanah menjadi salah satu pengasuh ponpes API Tegalrejo.
Gaya Dakwah Kiai Chudlori: Beli Gamelan Dulu, Masjid Menyusul KemudianPonpes API Tegalrejo (Foto: Eko Susanto/detikcom)

"Kalau ini (Asrama Perguruan Islam) kan full Indonesia, agar lebih dekat masyarakat. Yang kedua, Asrama Perguruan Islam menegaskan visi misi dari pendiri yang sangat berharap lulusan-lulusan Tegalrejo menjadi guru tentang keislaman di tengah-tengah masyarakat. Guru itu kan ya, guru ngaji secara langsung di Madrasah, di masjid dan musala, juga sekaligus dalam guru yang bisa menjadi digugu dan ditiru, contoh di masyarakat. Karemna itu cukup diberi nama Asrama Perguruan Islam," lanjut Gus Yusuf.


Tak hanya melahirkan guru dalam arti pengajar. Banyak lulusan pesatren ini yang sukses menjadi tokoh penting. Salah satunya adalah Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Presiden keempat RI ini pernah menjadi santri di pesantren Mbah Chudlori.

Semasa KH Chudlori, selalu dekat dengan masyarakat setempat. Kiai yang pernah berguru langsung kepada pendiri NU, KH Hasyim Asy'arie, tersebut selalu menjadi tempat bagi warga untuk berkeluh kesah tentang kehidupan maupun memecahkan berbagai persoalan kemasyarakatan. Kiai Chudlhori selalu menemani mereka dengan penuh kegembiraan.

Suatu ketika, serombongan warga Tepus, Kecamatan Pakis, Magelang, datang sowan Mbah Chudlori di pondoknya. Menurut catatan Gus Yus, peristiwa itu terjadi saat Gus Dur nyantri di Tegalrejo, karena disebutkan saat itu Gus Dur ikut mendampingi Mbah Chudlori menemui para tamu tersebut.

Para tamu itu datang bukan hanya untuk silaturahmi. Rupanya ada perbedaan pendapat sengit dari warga terkait pemanfaatan dana kas desa. Ada yang menginginkan untuk membangun masjid, namun sebagian ingin membeli gamelan untuk hiburan warga. Mereka meminta pertimbangan kepada Mbah Chudlori untuk menentukan pilihan.
Gaya Dakwah Kiai Chudlori: Beli Gamelan Dulu, Masjid Menyusul KemudianPara santri Ponpes API Tegalrejo (Foto: Eko Susanto/detikcom)

Saran Kiai Chudlori sungguh di luar dugaan. fatwa berharap agar masyarakat guyub dan rukun. "Kiai Chudlori spontan mengatakan, bahwa yang penting masyarakat guyub, rukun, dan desanya tentram. Untuk itu, Kiai Chudlori menyarankan dana kas tersebut lebih baik untuk membeli gamelan saja," kata Gus Yusuf.

Atas hal ini, kata Gus Yusuf, orang bisa mengambil satu nilai bahwa Islam tidak hanya simbolik untuk bangunan, namun lebih pada pendekatan nilai-nilai.

"Kiai Chudlori mengatakan, 'Nanti kalau masyarakatnya rukun dan guyub, masjidnya pasti akan berdiri dengan sendirinya'. Akhirnya betul, setelah masyarakat yang menginginkan masjid bisa mengalah (uangnya) untuk beli gamelan, akhirnya belakangan warga kompak lalu gotong royong membangun masjid yang besar," papar Gus Yus.

"Apalah gunanya masjid itu berdiri megah, tapi masyarakatnya congkrah (tak bersatu), masyarakatnya tidak rukun. Akhirnya masjid hanya simbol, tapi kosong tidak ada isinya. Yang diharapkan tidak seperti itu. Masjid ya harus betul-betul dari masyarakat, itu salah satunya," katanya.


Setelah KH Chudlori wafat pada tahun 1977, Ponpes API dilanjutkan diasuh oleh KH Abdurrahman Chudlori (kakak tertua) dan KHA Muhammad Chudlori. Namun setelah keduanya meninggal, pengasuh ponpes diteruskan, KH Mudrik Chudlori, KH Hanif Chudlori dan Gus Yusuf.

Para putra ini tetap berusaha menjaga tinggalan-tinggalan orang tua yang baik dan relevan. Oleh karena itu, pondok pesantren salaf dengan racikan dan metode kuno, namun masih dibutuhkan tetap dijaga.

"Pondok pesantren salaf yang dengan metode-metode kuno, tetapi masih sangat dibutuhkan, ini kita jaga. Di sini ada yang salaf itu tanpa terikat kurikulum Diknas maupun Kemenag dan tidak ada ijazah formal. Itu murni racikan kurikulum Pesantren Tegalrejo. Ini masih kita rawat sampai hari ini ada sekitar 6.000 santri putra dan 4.000 santri putri," ujarnya.
Gaya Dakwah Kiai Chudlori: Beli Gamelan Dulu, Masjid Menyusul KemudianMakam Kiai Chudlori (Foto: Eko Susanto/detikcom)


Namun demikian dalam perkembangannya, Gus Yusuf bersama KH Abdurrahman Chudlori, mendirikan Yayasan Syubbanul Wathon yang membawahi pendidikan formal. Pendidikan formal yang dikelola mulai dari TK, SD, SMP, SMA/SMK hingga Sekolah Tinggi. Para siswa ini, pagi harinya sekolah formal, namun sore dan malam ngaji dengan sistem boarding.

"Jadi pagi sekolah formal, sore ngaji, malam ngaji, itu sekarang ada sekitar 4.000-an santri, itu perkembangannya bahkan juga Syubbanul Wathon setahun ini kita Alhamdulillah berhasil mendirikan rumah sakit ya untuk pelayanan masyarakat dan santri. Artinya bahwa Tegalrejo itu terus berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat," kata Gus Yusuf.

Lebih dari itu, hingga kini Ponpes Tegalrejo juga tetap menjalin hubungan baik dengan kelompok-kelompok seni lokal di Magelang dan sekitarnya. Gus Yus masih terus mengikuti dan mendukung kegiatan kesenian rakyat yang berkembang di daerah tersebut. Meneruskan berdakwah dengan hati ala Mbah Chudlori.

Simak Video "Inspiratif! Dari Tugas Skripsi Menjadi Bisnis Produk Kulit"
[Gambas:Video 20detik]
(mbr/mbr)