detikNews
Kamis 18 Juli 2019, 18:00 WIB

Cerita Warga Desa di Bantul, Sedot Selang Pakai Mulut Demi Air Bersih

Pradito Rida Pertana - detikNews
Cerita Warga Desa di Bantul, Sedot Selang Pakai Mulut Demi Air Bersih Sejumlah warga di Bantul masih menggunakan cara manual mengalirkan air ke rumahnya. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - Musim kemarau yang datang lebih awal membuat debit air di dua sumber mata air Dusun Kalidadap, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul menyusut. Bahkan, untuk mendapatkan air bersih, warga harus menyedot selang air menggunakan mulut di sumber mata air secara bergantian.

Memasuki Dusun Kalidadap, detikcom mendapati banyak selang air di pinggir jalan. Selang air itu ada yang mengarah ke lahan pertanian dan rumah-rumah warga. Setelah menyusuri aliran selang-selang tersebut, ternyata ujungnya ada di dua sumber mata air. Benar saja, tak lama kemudian beberapa warga tampak berdatangan ke sumber mata air sembari mencari selang air miliknya. Hal itu karena pada bak penampungan di sumber mata air terdapat puluhan selang air dengan aneka warna.

Setelah memastikan selang air itu miliknya, warga lantas mencopot salah satu sambungan selang dan menaruh sambungan lainnya di mulut. Selanjutnya, warga menyedot air dari sambungan selang itu dengan mulut, dan setelah air keluar lantas warga kembali menyambungkan selang ke posisi awal agar air bisa mengalir ke rumahnya.

Sastro (72), warga Dusun Kalidadap I, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul mengatakan bahwa penyedotan air secara manual ini sudah berlangsung sejak empat tahun lalu. Selain itu, penyedotan air tersebut hanya dilakukan saat musim kemarau datang.

"Kalau pas musim hujan sebenarnya tidak perlu nyedot air dari selang seperti ini, karena kan air di bak selalu penuh. Tapi kalau kemarau ini kan air di bak jadi menyusut," ujarnya saat ditemui di sumber mata air Wonosari, Dusun Kalidadap, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul, Kamis (18/7/2019) sore.

"Karena susutnya debit air, saya harus nunggu air di bak penuh dulu. Setelah penuh baru menyedot selang air pakai mulut dan menyambungkannya ke sambungan selang yang nyambung sampai rumah," imbuh Sastro.

Pria yang kerap disapa Mbah Sastro ini melanjutkan, bahwa dalam sehari ia bisa dua sampai tiga kali bolak balik ke sumber mata air Wonosari untuk menyedot air. Hal itu karena air baru bisa mengalir saat bak dalam kondisi penuh, meski diakuinya ada dua sumber mata air di Dusun Kalidadap.

Cerita Warga Desa di Bantul, Sedot Selang Pakai Mulut Demi Air BersihJadin saat menyedot tiga selang air miliknya di sumber mata air Padokan, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom


"Biasanya saya nyedot air jam 7 pagi, jam 12 siang dan jam 3 sore, kadang bisa lebih tergantung kebutuhan. Kenapa di jam-jam itu? Karena perlu tiga jam agar air di bak (mata air Wonosari) penuh, dan kalau tidak penuh mana bisa mengaliri 74 selang air yang terpasang di sini (bak mata air Wonosari)," ucap Sastro.


"Untuk airnya sendiri nanti mengalir ke bak rumah saya dan airnya saya pakai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, masak dan lain-lain," sambungnya.

Cerita Warga Desa di Bantul, Sedot Selang Pakai Mulut Demi Air BersihSelang-selang air milik warga. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom


Lebih lanjut, 74 selang tersebut memiliki panjang ratusan meter. Mengingat sumber mata air itu berada di perbukitan Dusun Kalidadap dan agak jauh dari pemukiman warga.

"Kalau jalan kaki dari sini (mata air Wonosari) ke rumah itu sekitar 20 menit, untuk panjang selang punya saya sekitar 500 meter. Jadi ya lumayan kalau bolak balik 3 kali sehari ke sini untuk nyedot air dari selang," kata Sastro disusul gelak tawa.

"Tapi nanti kalau sudah sore itu airnya giliran untuk mengairi sawah sampai pagi melalui pipa," imbuhnya.

Cerita Warga Desa di Bantul, Sedot Selang Pakai Mulut Demi Air BersihSastro saat mencari selang air miliknya. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom


Menurut Sastro, untuk menikmati air bersih dari mata air tidaklah murah, hal itu karena panjang selang yang diperlukan mencapai ratusan meter. Terlebih harga 1 rol selang air dengan panjang 50 meter Rp 200 ribu, sehingga untuk mengalirkan air dari sumber mata air Wonosari ke rumahnya memerlukan sekitar 10 rol selang air dengan biaya sekitar Rp 2 juta.

"Harga (selang air) per rol Rp 200 ribu, itu termasuk yang paling murah, ada yang Rp 500 sampai Rp 600 ribu per rolnya. Tapi untung saja airnya gratis, jadi tidak ada biaya tambahan selain tenaga saja," ucapnya.


Terkait alasan warga tidak menggunakan pipa pvc untuk mengalirkan air, Sastro menjelaskan bahwa hal itu hanya akan menimbulkan masalah. Mengingat, ukuran bak yang kecil dan tidak bisa menampung 74 pipa pvc.

"Kalau pakai pralon (pipa pvc) nanti malah sak menange dewe (sesuka hati menyalakan air), Mas. Karena warga pasti inginnya air mengalir terus dan bisa-bisa yang lain tidak kebagian air. Kalau pakai selang kan bisa menyesuaikan kebutuhan masing-masing, meski ya harus nyedot (pakai muut) dulu," katanya.

Sastro (mengenakan kemeja putih) saat mencari selang air miliknya dan selanjutnya menyedot air dari selang yang terhubung pada bak sumber mata air Wonosari.Sastro saat mencari selang air miliknya. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom


Detikcom pun menuju sumber mata air lainnya yakni sumber mata air Padokan yang berlokasi lebih jauh dari sumber mata air Wonosari. Sama seperti di sumber mata air Wonosari, di sumber Padokan warga juga tampak silih berganti menyedot selang air agar selang yang memanjang hingga rumahnya dapat teraliri air.

Jadin (48), warga Dusun Kalidadap I, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul mengatakan, bahwa di sumber mata air Padokan terpasang 70 selang air milik warga. Selang-selang tersebut sebagian besar memanjang hingga ke persawahan milik warga.

"Kalau di sini (sumber mata air Padokan) kebanyakan airnya dimanfaatkan untuk pertanian. Jadi dalam sehari warga bisa enam kali bolak balik ke sini, tiga kali dari pagi sampai siang dan tiga kali dari malam sampai pagi," ujarnya disela-sela menyedot air dari selang di sumber mata air Padokan, Dusun Kalidadap I, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul, Kamis (18/7/2019).

"Untuk enam kali (sedot selang itu) sistemnya sama yaitu copot pasang, jadi kalau bak penuh selang dicopot lalu disedot dan disambung lagi biar airnya mengalir," imbuh Jadin.

Jadin mengaku bahwa ia memasang tiga selang di sumber mata air Padokan, dengan rincian dua selang memiliki panjang 900 meter dan satu selang memiliki panjang 600 meter. Menurutnya, dengan memasang tiga selang mampu mencukupi kebutuhan air untuk pertanian dan rumah tangganya.

"Yang 900 meter itu untuk pertanian, dulu beli selangnya Rp 4,5 juta, kalau yang 600 meter untuk di rumah. Maksudnya yang pertanian itu hanya untuk mengairi sawah di sekitar Dusun Kalidadap saja, kalau yang bagian bawah sana kebanyakan ambil air dari sumur bor dan beli perkubik," ujarnya.

Menurutnya, ia beralih memanfaatkan air dari sumber mata air Padokan karena tidak pernah mengering meski musim kemarau. Terlebih, ia tidak dikenakan biaya saat memanfaatkan air tersebut.

Pria yang sudah dua tahun memanfaatkan selang air untuk kebutuhan sehari-hari ini menambahkan, bahwa ia sempat kesulitan menemukan selang airnya ketika hendak digunakan. Namun hal itu hanya berlangsung sebentar, mengingat ia telah menandai selang air miliknya dengan tanda khusus.

"Ya kalau dulu memang suka bingung, kan warna selang airnya kebanyakan sama mas. Tapi sekarang sudah hafal karena saya ikat pakai tali rafia sebagai penanda," katanya.

Simak Video "Warga Ponorogo Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Turun di Bumi Reog"
[Gambas:Video 20detik]

(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com