Terkendala Biaya dan Jarak, Bocah Gunungkidul ini Belum Dapat Sekolah

Terkendala Biaya dan Jarak, Bocah Gunungkidul ini Belum Dapat Sekolah

Pradito Rida Pertana - detikNews
Kamis, 11 Jul 2019 17:54 WIB
Muhamat Pasha Pratama menunjukkan alat tulis yang sudah dibelinya. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Muhamat Pasha Pratama menunjukkan alat tulis yang sudah dibelinya. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Gunungkidul - Sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) membuat Muhamat Pasha Pratama (12) tidak bisa Sekolah di SMP negeri yang berada tak jauh dari rumahnya. Saat ini Pasha belum mendaftar SMP lain karena terkendala jarak dan biaya.

Detikcom mengunjungi rumah Pasha di RT 05 RW 14, Dusun Bulu, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (11/7/2019).

Di rumah sederhana itu, Pasha tampak duduk dengan raut muka kecewa didampingi sang nenek. Bahkan ia tidak mau berbicara banyak.

Pasha menceritakan awal mula ia mendaftar di SMPN 2 Karangmojo hingga akhirnya belum mendapatkan sekolahan hingga saat ini. Dia mendaftar SMPN 2 Karangmojo karena dekat dari rumah, terlebih banyak teman-temannya yang mendaftar di sekolah tersebut.

"Daftar di situ (SMPN 2 Karangmojo) karena dekat dari rumah, dan teman-teman saya juga banyak yang mau sekolah di situ," katanya dengan nada lirih, Kamis (11/7/2019).

Namun, saat pengumuman PPDB ternyata namanya tidak tercantum pada daftar calon siswa yang diterima. Padahal, kata Pasha, antara rumahnya dengan sekolah tersebut berjarak 2 kilometer dan nilai UN miliknya lebih tinggi dibanding beberapa teman lainnya.

"Pas saya cari nama saya di papan pengumuman kok tidak ada, ternyata saya tidak diterima dan itu rasanya sedih sekali," katanya.

Muhamat Pasha Pratama.Muhamat Pasha Pratama. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

"Tapi teman saya yang nilainya lebih rendah dan rumahnya lebih jauh (dari SMPN 2 Karangmojo) malah keterima. Itu yang membuat saya kecewa, padahal nilai (UN) saya tidak begitu buruk yaitu 15,83 dan teman saya yang nilainya 13 malah keterima," sambung Pasha.

Pasha mengaku masih ingin melanjutkan sekolah di bangku SMP. Namun, sampai saat ini ia masih terganjal dengan masalah transportasi ke sekolah yang jaraknya jauh dari rumah.

"Masih bingung (mau mendaftar ke mana setelah tidak diterima di SMP negeri), karena (sekolah) lainnya jaraknya jauh-jauh," ucapnya.

Nenek Pasha, Rebi (65) mengatakan, bahwa dirinya juga belum menentukan akan mendaftarkan cucunya ke sekolah lain. Hal itu karena Pasha masih menginginkan Sekolah di SMPN 2 Karangmojo.

Terlebih, jika mendaftar ke SMP lain jaraknya terlalu jauh dari rumah dan hal itu jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan SMP swasta terdekat berjarak sekitar 5 kilometer dari rumahnya.

"Niatnya mendaftar di sana (SMPN 2 Karangmojo) itu kalau berangkat ke sekolah biar bisa nebeng temannya. Karena kalau (sekolahnya) jauh tidak ada angkutan dari sini (Dusun Bulu) dan kalau daftar di (sekolah) swasta terkendala biaya," ujarnya.

Keterbatasan ekonomi yang mendera Pasha dikarenakan penghasilan kakek dan neneknya yang tidak menentu sebagai buruh tani. Selain itu, selama ini Pasha tidak hidup bersama kedua orangtuanya.

"Pasha sudah saya asuh sejak kelas 3 SD karena ibunya meninggal dunia saat kecelakaan di Gading (Kecamatan Playen), dan ayahnya agak kurang (mengalami gangguan jiwa)," ujarnya.

"Terus penghasilan sebagai buruh (tani) ya tidak seberapa, tapi saya inginnya ya dia (Pasha) tetap Sekolah," imbuh Rebi.

Menurutnya, keinginan cucunya bersekolah sangatlah besar. Hal itu dibuktikan dengan perlengkapan sekolah yang sudah dibeli Pasha untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.

"Anaknya itu niat ingin Sekolah, karena selama liburan kan dia (Pasha) sering dimintai tolong sama tetangga dan dikasih upah (uang). Nah, uangnya itu dikumpulkan Pasha untuk beli buku sama tas," ucapnya.

"Mungkin itu salah satu hal yang bikin Pasha sedih, karena dia sudah beli perlengkapan sekolah ternyata malah tidak diterima di SMP yang diinginkannya," sambung Rebi.

Tak hanya Pasha, kejadian tidak mengenakkan juga dialami Romi Kurniawan (12), warga Dusun Bulu, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Pasalnya, ia juga tidak diterima di SMPN 2 Karangmojo.

Romi Kurniawan. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

"Saya daftar di SMPN 2 Karangmojo karena dekat rumah dan nilai UN saya 18. Pas daftar nama saya di urutan tengah dan pas pengumuman tiba-tiba ada di urutan bawah," ujarnya saat ditemui detikcom di rumahnya, Dusun Bulu, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (11/7/2019).

Romi melanjutkan, ia merasa kecewa karena tidak berhasil bersekolah di SMPN 2 Karangmojo.

"Tidak diterima ya rasanya kecewa, apalagi empat orang teman saya yang rumahnya lebih jauh dari rumah saya malah keterima (di SMPN 2 Karangmojo), dan nilainya di bawah saya," katanya.

Akan tetapi, Romi tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan ia telah mendaftar di salah satu sekolah swasta di Kecamatan Wonosari. Hal itu dilakukan agar ia tetap bisa melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya.

"Tapi ya kepinginnya tetap Sekolah di SMPN 2 Karangmojo karena banyak teman-teman yang sekolah di sana (SMPN 2 Karangmojo)," ucapnya.

Diwawancarai terpisah, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul, Kisworo mengatakan, bahwa Pasha tidak diterima di SMP negeri karena tidak memenuhi salah satu variabel PPDB online. Menurutnya, kejadian itu bukan kali pertamanya terjadi.

"Variabel yang digunakan (PPDB online SMP) memang yang pertama jarak, yang kedua usia dan ketiga adalah (waktu) saat pendaftaran. Nah itu, dia (Pasha) kalahnya di usia," ujarnya saat dihubungi wartawan, Kamis (11/7/2019).

"Terus sudah kita cek juga, dan jaraknya kalah, artinya ada yang lebih dekat (jarak dari rumah dengan SMPN 2 Karangmojo selain Pasha). Toh, kalau sama dekatnya dia kalah di usia yang terpaut tiga hari," sambung Kisworo.

Kisworo menjelaskan, batasan usia pendaftar PPDB SMP tidak lebih dari 15 tahun. Namun, jika rata-rata usia pendaftar adalah 12 tahun atau 12 tahun lebih 1 hari maka otomatis Pasha terlempar dari peringkatnya.

"Sedangkan untuk NEM (nilai UN) memang diabaikan karena hanya untuk pelengkap administrasi saja," kata Kisworo.


Simak Juga 'Penampakan Bangku Kosong di SDN Kendari saat Tahun Ajaran Baru':

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Dampak Sistem Zonasi Abaikan Nilai UN"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/sip)