detikNews
Rabu 10 Juli 2019, 18:29 WIB

Musim Kemarau Telah Tiba, Petani Garam di Grobogan Panen Raya

Akrom Hazami - detikNews
Musim Kemarau Telah Tiba, Petani Garam di Grobogan Panen Raya Petani garam di Grobogan. Foto: Akrom Hazami/detikcom
Grobogan - Petani garam di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan menyambut kemarau dengan panen raya. Meski jauh dari laut, air sumur di wilayah ini mengandung garam.

Pantauan di lokasi, Rabu (10/7/2019), aktivitas pembuatan garam terlihat menggeliat. Sejumlah pria menimba air yang mengandung garam dari sumur sedalam 25 meter. Lantas mereka menyalurkan air melalui pipa menuju penampungan.

Dari penampungan, mereka memindahkan air ke barisan belahan bambu atau klakah hingga rata. Selanjutnya, di bawah terik matahari, air di barisan klakah dibiarkan sampai mengkristal berbentuk garam.

Petani melakukan panen garam bila klakah penuh dengan butiran berwarna putih kecoklatan. Mereka mengeruk garam dan airnya, kemudian dimasukkan ke ember.

Mereka biasanya memasukkan garam yang sudah dipanen ke karung. Adapun sisa air dalam klakah yang tidak ikut mengkristal jadi garam, tidak dibuang. Namun air tersebut akan ditaruh dalam jeriken, dan gentong berbahan plastik atau berbahan tanah liat.

Cairan tersebut dikenal dengan nama bleng. Cairan bleng biasanya laku Rp 15 ribu per jeriken dengan kapasitas 20 liter.


Salah seorang petani garam di Desa Jono, Masiyam (65) mengatakan, saat ini di musim kemarau petani panen lebih cepat.

"Lebih cepat panennya di musim kemarau ini," kata perempuan yang sedari kecil menjadi petani garam di desanya.

Menurut dia, panen yang cepat terjadi karena air garam cepat mengkristal. Kondisi demikian amat menguntungkan petani.

"Ya petani senang karena bisa sering memanen," tambah Masiyam.

Muhtarom (42), petani garam lain menuturkan, pada musim panas ini waktu produksi bisa lebih singkat. Saat cuaca terik seperti ini, proses produksi garam hanya butuh waktu sekitar sepuluh hari.


"10 hari sudah bisa panen," kata Muhtarom.

Menurut dia, kondisi ini berbeda jika melakukan produksi garam saat musim hujan yang berjalan lebih lambat.

"Kalau musim hujan, proses produksi garam bisa memakan waktu 15 hari. Lebih lama dan ribet," tambah dia.

"Pada cuaca panas ini, air di dalam klakah sudah mengkristal jadi garam," ujar pria yang puluhan tahun menjadi petani garam.

Simak Video "Tradisi Meriah Tabuh Jedor Grobogan Jawa Tengah"
[Gambas:Video 20detik]

(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com