detikNews
Selasa 09 Juli 2019, 16:00 WIB

BMKG: Puncak Kemarau di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Terjadi Agustus

Eko Susanto - detikNews
BMKG: Puncak Kemarau di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Terjadi Agustus Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Temanggung. Foto: Eko Susanto/detikcom
Temanggung - BMKG menyebutkan bahwa puncak musim kemarau di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan terjadi pada Agustus 2019. Sedangkan puncak dampak kemarau terjadi pada Bulan September.

"Jadi kondisi puncak musim kering di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara itu puncak musim kering Agustus. Tapi dampaknya mengalami puncak September, dampaknya. Puncak musim kemarau itu Agustus. Namun dari kemarau ini berdampak, dampaknya puncak di bulan September," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Hal ini disampaikan Dwikorita kepada wartawan wartawan usai menutup Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap 3, Stasiun Klimatologi Semarang, di Dusun Paladan, Desa Tegalsari, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Selasa (9/7/2019).


Dwikorita mengatakan bahwa hal tersebut sudah disampaikan kepada pemerintah pusat hingga daerah. Hal ini terkait sejumlah rekomendasi langkah yang bisa dipersiapkan terkait pasokan air bersih selama musim kemarau.

"Kalau dalam peta itu warnanya sudah merah, nah jauh hari sudah kami sampaikan ada beberapa rekomendasi ya. Antara lain tadi menyesuaikan pola tanam. Kemudian juga rekomendasi untuk menjaga bagaimana irigasi, bagaimana untuk pertanian, ini saya yakin kementerian-kementerian terkait sedang dalam proses menindaklanjuti. Juga untuk kesehatan dalam kondisi kering ini kan jenis-jenis penyakit juga akan muncul yang tipenya berbeda," jelasnya.


Dia menjelaskan bahwa musim kemarau telah berlangsung di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Namun kondisi berbeda terjadi di Indonesia Timur. Bahkan untuk di Indonesia Timur masih turun hujan saat ini.

"Di Indonesia Timur, masih mengalami hujan lebat, jadi Indonesia itu tidak satu iklim. Jadi di sisi selatan mengalami kering, ada yang sudah terbakar, tapi di sisi timur masih banjir dan masih bisa banjir bandang. Jadi, kita harus benar-benar memahami itu dan mewaspadai," kata Dwikorita.

Untuk musim kemarau yang terjadi di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Rita mengimbau, agar warga berhemat menggunakan air. Selain itu, perlu mewaspadai kondisi kesehatan dan banyak minum air putih untuk menghindari dehidrasi.

"Kemudian juga debu sekali lagi, ya mungkin penyakit Ispa itu dan selain itu juga untuk menyesuaikan mungkin malamnya semakin dingin. Malamnya semakin dingin, nah ini juga agar mewaspadai jangan sampai kedinginan itu ya. Saya yakin masyarakat bisa beradaptasi malam dingin, siang panas," ujar dia.

Setelah puncak dampak kemarau terjadi pada September, diprediksi hujan akan mulai turun pada Bulan Oktober.

"Namanya perkiraan ya, Oktober, November sudah mulai hujan. Namun sekali lagi, namanya saat ini iklim itu kadang-kadang juga sulit ditebak, sulit diprediksi sehingga yang kami lakukan selalu memberikan update. Kalau saat ini, kami katakan puncaknya Agustus, kalau tiba-tiba ada perubahan fenomena, kami akan segera menyampaikan perubahan-perubahan tersebut," tuturnya.

Simak Video "BMKG: Lebih dari Setahun Aktivitas Seismik di Laut Banda Alami Peningkatan"
[Gambas:Video 20detik]

(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed