Krisis Air Bersih, Warga di Banjarnegara Manfaatkan Air Sungai

Uje Hartono - detikNews
Kamis, 04 Jul 2019 15:33 WIB
Foto: Uje Hartono/detikcom
Banjarnegara - Krisis air bersih mulai terjadi di Desa Jalatunda Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara. Untuk kebutuhan sehari-hari, warga memanfaatkan sisa air di Sungai Sapi.

Warga Desa Jalatunda, Slamet Rahayu mengatakan, krisis air bersih sudah mulai terjadi sejak Bulan Ramadan lalu. Tahun ini, kekeringan terjadi lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Tahun ini bulan Ramadan sudah mulai krisis air bersih di Desa Jalatunda. Padahal biasanya mulai kekeringan itu setelah hari raya Lebaran," ujarnya saat ditemui di Desa Jalatunda, Kamis (4/7/2019).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga memanfaatkan sisa air sungai. Air tersebut digunakan untuk mencuci pakian, mandi, hingga buang air besar.

"Jaraknya antara pemukiman dengan sungai sekitar 100 meter. Warga membuat sumur resapan di sungai agar airnya lebih jernih," kata dia.
Kemarau di BanjarnegaraKemarau di Banjarnegara Foto: Uje Hartono/detikcom

Menurut dia, warga tidak punya pilihan lain mengingat saat ini sumur di Desa Jalatunda sudah kering. " Untuk MCK warga dilakukan di sungai. Tetapi di sungai tidak ada tutupnya, jadi kalau mandi dan buang air besar sebenarnya malu," tuturnya.

Sedangkan air yang digunakan untuk masak dan minum, warga membeli per galon. Harganya, Rp 5 ribu per galon. Satu galon air minum ini hanya cukup satu hari untuk satu keluarga.

"Kalau keluarga saya, biasanya satu galon hanya cukup satu hari. Belinya masih di Desa Jalatunda ada yang menjual," terangnya.

Sekretaris Desa Jalatunda, Miswan mengatakan krisis air bersih mulai bulan Maret lalu. Setiap bulan dampaknya terus bertambah hingga saat ini sekitar 800 KK mengalami krisis air bersih.

"Dari 1.500 KK, 800 KK di antaranya mengalami krisis air bersih di Desa Jalatunda. Pada bulan Maret sudah terjadi, tetapi dampaknya belum meluas seperti sekarang," jelasnya.

Untuk pembuatan sumur dalam di Desa Jalatunda sulit dilakukan. Sebab, berdasarkan penelitian tidak ada air dalam di Desa Jalatunda. Sementara ini, sebagian warga memanfaatkan air sungai yang sudah diolah.

"Kami menggunakan dana desa membuat Pamsimas untuk mencukupi kebutuhan air bersih. Air itu diambil dari air sungai yang diolah," ujarnya.

Hanya untuk mencukupi kebutuhan semua warga membutuhkan waktu lama. Saat ini, ada 12 dukuh yang mengalami krisis air bersih di Desa Jalatunda.

"Sekarang sudah ada 1 Pamsimas yang berjalan. Tetapi untuk mencukupi semua membutuhkan waktu 12 tahun lagi. Makanya kami juga sedang berusaha untuk mencari bantuan di luar dana desa," jelasnya.


Simak Video "Bupati Jadi Tersangka KPK, Warga Banjarnegara Cukur Gundul"
[Gambas:Video 20detik]
(bgk/bgs)