detikNews
Rabu 03 Juli 2019, 18:47 WIB

Warga Pemalang Mulai Kesulitan Air Bersih

Robby Bernardi - detikNews
Warga Pemalang Mulai Kesulitan Air Bersih Foto: Robby Bernardi/detikcom
Pemalang - Sebagian warga Pemalang, Jawa Tengah mulai kesulitan air bersih di awal musim kemarau saat ini. Sudah hampir dua bulan ini, warga yang berada di 14 desa di 2 Kecamatan di Kabupaten Pemalang, mengalami kesulitan air bersih.
Dua Kecamatan yang mengalami kesulitan air bersih yakni di Kecamatan Pulosari dan Kecamatan Belik. Di Kecamatan Pulosari ada 12 desa sedangkan di Kecamatan Belik ada 2 Desa.

"Di Pemalang desa terdampak kekeringan ada 14 desa, 12 desa di Kecamatan Pulosari dan 2 desa di Kecanatan Belik," KataKepala BPBD Kabupaten Pemalang, Wismo saat ditemui detikcom di Desa Clekatak, Kecamatan Pulosari, Rabu (03/06).

Dijelaskanya, di Kecamatan Pulosari sendiri krisis air bersih terjadi di seluruh desa yang ada di Kecamatan Pulosari. Kebutuhan air warga, selama ini menggantungkan pada sejumlah mata air di Desa Karangsari. Mata air terbesar yakni di Lungsir, Karangsari.

"Untuk droping air bersih kita ambilkan dari mata air karangsari. Namun tidak semua desa bisa tercover, karena keterbatasan armada," kata Wismo.
Warga Pemalang Mulai Kesulitan Air BersihFoto: Robby Bernardi/detikcom

Aris Rahardja, Staf Kecamatan Pulosari menambahkan, dari 12 desa di kecamatannya hampir seluruhnya mengambil air di sumber mata air di Karangsari.

"Kalau warga yang tidak kebagian air bersih dari BPBD, mereka menggunakan jasa layanan pengambilan air bersih," katanya.

Dikatakan Aris, mata air Lungsirlah yang paling banyak diambil untuk memenuhi kebutuhan air bersih di 12 desa di wilayah Kecamatan Pulosari. Hal ini disebabkan karena akses sumber mata air tersebut berada persis di tepi jalan raya Karangsari.

Kendati di Desa Karangsari terdapat sejumlah mata air, ada beberapa dusun yang terdampak kekeringan, diantaranya Dusun Waryan.

Sementara itu, dalam pantauan detikcom di sumber mata air Karangsari, beberapa kendaraan pick up dan truk tengah berjajar menyedot air yang mengalir di sumber mata air setempat. Kendaraan angkut barang ini, diberi toren atau bak penampung air dan mesin pompa air, untuk menyedot air.
Untuk kendaraan kecil, bisa menampung air total muatan 1.400 liter, yang terdiri dari toren besar dan toren kecil. Sedangkan truk engkel, bisa menampung toren besar, dengan total muatan 4 ribu liter air.
Warga Pemalang Mulai Kesulitan Air BersihFoto: Robby Bernardi/detikcom

"Saya biasanya datang ambil disini sepuluh kali mas. Satu kali ambil, sekitar 1.400 liter untuk satu rumah. Saya jual antara limapuluh hingga enampuluh ribu, tergantung jarak desanya," kata Kukuh Prihanto, pengemudi jasa layanan air bersih.

Dia biasa melakuman pengiriman air ke rumah-rumah warga di Desa Gambuhan.
Adapula yang menggunakan truk engkel yang dapat menampung dua toren besar dengan total kapasitas 4.000 liter.

"Kalau saya untuk pengiriman ke Desa Clekatakan. Desa terjauh. Mereka membayar antara 160 hingga 170 ribu untuk sekali angkut," kata Udin, pengenudi truk engkel.

Dalam sehari Udin bisa 10 kali angkut, hingga pukul 22.00 WIB. Dalam pantauan detikcom di desa terjauh dari simber mata air yakni Desa Clekatakan, hampir di setiap rumah menyediakan bak penampumgan air. Kalau tidak dalam bentuk bak penam;ungan besar,mereka juga buat sendiiri.

"Disini setiap rumah pasti memiliki penampungan. Lebih banyak dibuat sendiri guna menampung air," Kata Sukirman, Kadus Kandanggotong, Desa Clekatakan.

Menurutnya, kegunaan penampung air tersebut, untuk menampung air. Biasanya untuk air hujan.

"Jadi air hujan dari atap rumah, disalurkan ke penampungan air," katanya.

Diakuinya, di wilayahnya tidak ada sumber mata air, warga hanya mengandalkan air hujan.

"Kalau musim kemarau ini, ya kita beli air kalau tidak di droping BPBD," katanya.

Untuk warga yang mengecer, bisa membeli air. Satu pikul berisi dua jeriken dengan kapasitas masing masing 35 liter, total 70 liter, seharga Rp 5 Ribu.

"Yang jelas, kalau kemarau air beli, karena tidak ada air hujan yang bisa memenuhi penampung air rumah," katanya.

Di desa setempat ada sekitar 6.000 KK, yang setiap memasuki musim kemarau mengandalkan jasa penjualan air.

"Kalau penampungan air kering kita beli. Sudah sejak akhir Mei lalu," kata Masitoh warga Desa Clekatakan.

Menurut Masitoh kebutuhan air dihemat sehemat mungkin, misalnya untuk cuci dan mandi.

"Tidak setiap hari mencuci. Kalau mandi biasanya sehari dua kali, sekarang satu kali, ya karena dingin juga," katanya.




Simak Juga 'Saat Air Katulampa Surut Drastis':

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Warga Ponorogo Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Turun di Bumi Reog"
[Gambas:Video 20detik]

(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com