detikNews
Rabu 03 Juli 2019, 17:38 WIB

Petilasan Mbah Dudukan, Jejak Hindu di Demak

Wikha Setiawan - detikNews
Petilasan Mbah Dudukan, Jejak Hindu di Demak Foto: Wikha Setiawan/detikcom
Demak - Di Desa Blerong Kecamatan Guntur Kabupaten Demak terdapat benda cagar budaya yang diperkirakan peninggalan zaman Hindu. Situs itu disebut warga setempat disebut sebagai petilasan Mbah Dudukan.

Di petilasan Mbah Dudukan itu ada empat arca, diantaranya patung Ganesha, batu lingga-yoni, batu ukuran kecil seperti prasasti dan batu berbentuk kerucut namun sudah sulit dikenali yang diperkirakan Nandi atau patung lembu.

Hingga saat ini, arca itu masih berada di petak lahan persegi di tengah sawah. Lokasinya hanya dipagari bambu setengah lingkaran, dan di sekitar arca terdapat bekas sesaji dan dupa atau kemenyan.

Desa Blerong Kecamatan Guntur berbatasan dengan Desa Bulusari Kecamatan Sayung.
Petilasan Mbah Dudukan, Jejak Hindu di DemakFoto: Wikha Setiawan/detikcom

Kepala Plt UPTD Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak, Achmad Widodo menuturkan keberadaan arca itu menjadi penunjuk adanya jejak Hindu di wilayah Demak.

Tidak tahu persis kapan arca tersebut pertama kali ditemukan. Namun, dari catatan yang diperolehnya dari Belanda tercatat tahun 1910 silam. Karena sudah tercatat sejak zaman Belanda, situs itu diperkirakan sudah ada sebelum kerajaan Islam di Demak.

"Iya, arca itu memang asli ditemukan di Desa Blerong karena dicatatan yang kami peroleh dari Belanda tahun 1910 ada arca di Blerong itu. Dan di tahun 1914 nomor register 193 bahwa di Demak Desa Brelong ada sebuah arca berupa Ganesha, Yoni dan Nandi. Diperkirakan ada sebelum kerajaan Islam di Demak," ujarnya kepada detikcom, Rabu (3/7/2019)

Beberapa waktu lalu, arca itu didatangi Tim Arkeologi Nasional dan seorang peneliti dari Belgia. Hal itu untuk menelusuri jejak arca sekaligus mencari lokasi sebenarnya arca itu berada.

"Beberapa hari lalu ada penelitian untuk mencocokkan catatan yang dari Belanda itu dengan kondisi sebenarnya. Selain itu untuk menelusuri jejak cagar budaya lainnya, sekaligus mencari tahu lokasi tepatnya arca itu dulunya," paparnya.

Widodo menyebutkan keberadaan arca itu sebagai tempat pemujaan jaman Hindu.

"Itu bukan makam, dilihat dari arca itu tempat pemujaan dulunya," imbuhnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak, Afiv Taufiq R menambahkan arca itu merupakan benda cagar budaya yang harus dijaga.

"Demak sendiri sebenarnya banyak ditemukan benda cagar budaya, sehingga perlu dijaga," tuturnya.

Diharapkannya, penelitian yang dilakukan Tim Arkeoloig Nasional nantinya mampu menelusuri jejak artefak yang lain di Kabupaten Demak.

"Iya, cagar budaya ini kan termasuk kekayaan sejarah," tandasnya.

Sementara itu, petilasan Mbah Dudukan dirawat secara swadaya oleh Sumadi, seorang warga setempat. Tiap hari dia membersihkan lokasi di sekitar arca.

Bahkan dia membeli batu untuk akses jalan menuju lokasi menggunakan biaya pribadi. Sebab, lokasi arca berada di tengah sawah sekitar 50 meter dari jalan desa.

"Saya memang yang merawat petilasan ini dari dulu. Saya kasih pagar di sisi utara dan barat dengan bambu tapi saya biarkan terbuka biar orang-orang bisa datang ke sini. Saya juga buka jalan menuju sini dengan membeli krokol (batu)," kata Sumadi.

Sumadi menjadi juru kunci karena ia dipesan oleh seorang tokoh masyarakat setempat.

"Iya dipesan untuk menjaga. Saya tidak tahu apa itu arca-arca dan sejarahnya, tapi saya jaga," paparnya.

Selain itu, dia juga membuat gazebo dari kayu yang diletakkan di lokasi arca. Itu, dia berharap orang yang berkunjung dapat beristirahat.

"Saya buat gazebo habisnya Rp 3 juta. Ini inisiatif saya sendiri. Kalau dulu juru kunci dapat honor dari desa, sekarang tidak," imbuhnya.

Sumadi berharap, keberadaan petilasan Mbah Dudukan dapat menjadi destinasi wisata di desanya.

"Siapa tahu nanti banyak yang berkunjung ke sini. Ya, saya rawat semampu saya," ungkapnya.

Dikatakannya, arca Ganesha dulunya masih utuh, namun saat ini sudah rusak.

"Kepalanya yang gajah dulu masih, tapi tidak tahu apakah disalahi orang atau memang rusak sendiri, kepalanya hilang," pungkasnya.

Simak Video "Budidaya Perkutut, Demak"
[Gambas:Video 20detik]

(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com