Suhu Air Waduk Kedungombo Berubah, Petani Ikan di Sragen Merugi

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Senin, 01 Jul 2019 18:41 WIB
Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Sragen - Fenomena ikan mati mendadak di Waduk Kedung Ombo (WKO) di Jawa Tengah kembali terjadi. Para petani ikan keramba di Sragen terancam merugi hingga ratusan juta rupiah.

Fenomena alam yang datang tiap tahun ini sudah menyerang ikan-ikan dalam sepekan terakhir. Petani keramba terus memantau kondisi waduk agar bisa melakukan langkah cepat jika serangan itu datang.

"Di sini ada puluhan ton ikan milik petani yang mati," kata petani ikan keramba Dusun Boyolayar Rt 26, Desa Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Sajimin, kepada detikcom, Senin (1/7/2019).

Fenomena tersebut biasa disebut upwelling. Hal ini terjadi akibat perubahan suhu bawah air dengan permukaan.
Ikan mati mendadakIkan mati mendadak Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Air yang berwarna putih dari dasar waduk tiba-tiba naik ke permukaan. Bakteri dan limbah pakan ikan yang ada di dasar pun ikut naik dan meracuni ikan.

"Biasanya terjadi saat pergantian musim seperti ini. Airnya tiba-tiba keruh, ikannya naik lalu mati," ujar dia.

Petani sebenarnya bisa mengantisipasi dengan menggeser karamba ke tempat lain sebelum upwelling menyerang. Namun cara ini butuh perhatian ekstra dari petani.

Petani lain di desa yang sama, Sunardi, mengaku sulit menerapkan cara itu. Sebab menarik keramba itu membutuhkan dua hingga tiga perahu, padahal petani biasanya memiliki satu perahu.

"Kami harus jeli. Kalau sudah ada tanda-tanda air keruh naik harus segera digeser pakai perahu kerambanya. Tapi ini membutuhkan biaya dan perahu berjumlah dua sampai tiga," kata Sunardi.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Sragen, Muhamad Djazairi, mengimbau agar petani mematuhi aturan batas maksimal lahan perikanan.

"WKO itu ada kapasitas maksimalnya, yang mengatur BBWS Bengawan Solo. Kalau ikannya terlalu banyak, ada limbah pakan yang berlebih, sehingga saat air naik ikut meracuni ikan," katanya.

Sementara untuk penanganan darurat, petani diminta memindahkan keramba ke tempat lebih aman.

"Itu kan terjadi biasanya sehari saja. Lalu kembali seperti biasa," ujar dia.


Simak Video "Mampir ke Rest Area Ngawi yang Bangunannya Mirip di Eropa"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)