Pengaduan PPDB Jateng: Jarak Berubah hingga Token Hilang Misterius

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Senin, 01 Jul 2019 14:32 WIB
Posko PPDB 2019 Jateng (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Posko PPDB 2019 Jateng (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang - Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online SMA Negeri dan SMK Negeri Jawa Tengah mendapatkan keluhan di hari pertama pelaksanannya. Para orangtua dan calon siswa banyak yang mengadu ke sekolah atau langsung ke kantor dinas pendidikan.

Salah satu yang dikeluhkan pendaftar yaitu jarak kelurahan dan sekolahan yang berbeda dari ketika simulasi dan pendaftaran. Tri Sunarko, mendampingi anaknya ke SMA Negeri 2 Semarang untuk mempertanyakan hal itu.

"Saat anak saya simulasi jarak SMA 2 dan Kelurahan Kalicari itu 1,4 kilometer, waktu daftar tadi kok jadi 2 kilometer. Sedangkan Pedurungan Tengah sebelumnya 1,9 kilometer jadi 1,5 kilometer," kata Tri usai bertemu kepala sekolah bersama para orang tua lainnya, Senin (1/7/2019).

Orangtua yang datang SMA Negeri 2 Semarang itu kebanyakan memang dari Kelurahan Kalicari yang mengalami perubahan jarak. Namun mereka pasrah setelah menerima penjelasan dari Kepala Sekolah dan dibuktikan dengan googlemaps jika jaraknya memang 2 kilometer.

"Kita sudah berjuang sebagai orangtua tapi tidak bisa apa-apa kalau begini," jawabnya pasrah.


Sementara itu di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah tepatnya di Posko PPDB Online lantai 3, pengaduan juga silih berganti datang. Bahkan ada yang menangis karena akun verifikasinya dicabut orang misterius.

Iva Yuliastuti dan putrinya nampak khawatir bahkan menangis saat mengadukan masalah itu ke petugas. Ia mengatakan anaknya awalnya ingin mendaftar ke SMK N 2 Semarang, kemudian tanggal 24 cabut berkas dari sana karena ingin ke SMK N 6 Semarang. Ternyata saat akan mendaftar, token akunnya tidak berlaku padahal itu syarat pendaftaran online.

"Tadi pagi mau daftar tiba-tiba tidak bisa, katanya token tidak berlaku," kata Iva usai mengadu.

Pagi tadi ia pun buru-buru ke SMK N 6 yang dipilih anaknya itu dan ternyata akunnya dicabut tanpa sepengetahuan pendaftar. Dari rekam jejak online, yang mencabut adalah seseorang bernama Zakaria Adiwibowo.

"Dari SMK 6 tidak tahu Zakaria itu siapa. Di sini (Dinas Pendidikan) juga tidak tahu. Tadi dijelaskan yang bisa mencabut itu hanya operator itu pun atas persetujuan yang bersangkutan," ujar Iva.


Beruntung petugas Dinas Pendidikan Jateng cepat tanggap dan membantu putri Iva untuk kembali mengaktifkan akun untuk mendaftar ke SMK N 6 Semarang. Selain itu terlihat petugas mengontak sejumlah pihak untuk mencari pemilik nama Zakaria itu.

"Ini sudah selesai alhamdulillah. Sudah bisa daftar tadi," pungkasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Jumeri, masih belum bisa memberikan keterangan karena keluar kantor memantau PPDB.


Sementara itu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengatakan ada desk pengaduan yang siap menampung aduan dalam PPDB. Kekhawatiran orangtua yang sudah diduga yaitu terkait perpindahan, ia pun menegaskan para orangtua agar jujur dan tidak bermain dengan data kependudukan.

"Kami sudah siapkan meja dan desk aduan. Ada kekhawatiran dapat sekolah tidak, ada yang cemburu dan marah akibat KK, pindah dadakan. Para orangtua, hati-hati, ayo yang jujur," kata Ganjar.


PPDB Sistem Zonasi Bikin Orang Tua Siswa di Makassar Waswas:

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Serangga unik, Banyumas Jawa Tengah"
[Gambas:Video 20detik]
(alg/mbr)