detikNews
Selasa 25 Juni 2019, 15:09 WIB

Pasrah Orang Tua Daftarkan Anak yang Jauh dari Sekolah

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Pasrah Orang Tua Daftarkan Anak yang Jauh dari Sekolah Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Sistem zonasi PPDB SMA membuat calon siswa yang rumahya jauh dari sekolah negeri hanya bisa pasrah. Untuk kuota zonasi murni, penilaiannya yaitu jarak kelurahan dan sekolah yang di tuju.

Kuota penerimaan sesuai Permendikbud yaitu 90 persen yang terbagi dalam maksimal 15 persen prestasi dalam zona, dan 75 persen murni zona atau yag paling dekat. Kemudian ada 5 persen untuk pretasi luar zona, dan 5 persen perpindahan tugas orangtua.

Di Jawa Tengah, hari ini prosesnya yaitu pengambilan akun atau verifikasi yang dibuka hingga 28 Juni 2019. Akun tersebut merupakan syarat untuk mendaftar online pada 1-5 Juli 2019.

Pada hari pertama pengambilan akun kemarin, para calon siswa berbondong-bondong datang membuat akun di sekolah yang diinginkan. Padahal kesempatan masih bisa sampai tanggal 28 Juni dan bisa di sekolah negeri manapun.

Alhasil hari ini calon siswa yang membuat akun berkurang drastis jumlahnya daripada hari pertama kemarin. Di SMA N 1 Semarang antrean panjang sudah tidak terjadi.

Salah satu orang tua calon siswa, Irfin Adikara mengatakan anaknya tidak mengantre dan langsung dilayani panitia. Ia mengaku tidak ikut panik pada hari pertama karena sudah tahu jadwalnya.

"Cuma ambil token akun. Mungkin kemarin tidak pada tahu dibuka sampai 28 Juni," kata Irfin, Selasa (25/6/2019).

Di tengah persiapan Irfin agar anaknya masuk ke SMA N 1 Semarang, tersimpan rasa pasrah karena ia akan mendaftar dalam kuota zonasi murni padahal rumahnya berjarak 4,4 KM dari sekolah yang berada di pusat kota tersebut.

"Optimis sih tidak karena kita di Sampangan, Gajahmungkur. Dari sini jaraknya 4,4 KM, di SMA N 3 juga sekitar segitu. Kecamatan Gajahmungkur kan tidak ada SMA Negeri, kita di tengah-tengah zonasi mau ke SMA yang mana juga bingung," pungkasnya.

Meski demikian ia dan anaknya mengaku pasrah sehingga jika tidak diterima di SMA pilihannya maka akan ke sekolah swasta dengan risiko biaya yang menurutnya mahal.

"Kalau masuk swasta yang kualifikasinya sama dengan negeri ya mahal," ujarnya.

Di SMA N 2 Semarang, salah satu orangtua siswa, Rita memilih anaknya daftar ke SMA N 2 Semarang lewat jalur prestasi dalam zona yaitu dengan nilai NEM. Rumahnya berada di daerah Jangli yang lumayan jauh dari SMA tersebut.

"Kesempatannya lebih terbuka lewat prestasi. Kalau tidak di sini ya nanti ke SMA 11," ujar Rita.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Jumeri menjelaskan penerimaan jalur zonasi memang diprioritaskan menurut jarak Kelurahan dan sekolah terdekat. Nilai NEM hanya untuk jalur prestasi.

"Kalau ambil jalur pretasi, nilai akan mempengaruhi, kalau zonasi, jarak sekolah dan kelurahan. Nilai nem dipakai jaur prestasi," kata Jumeri.

Ia menjelaskan, diterima tidaknya calon siswa bisa dipantau online dan pendaftaran diberi janka waktu 1-5 Juli 2019 sehingga jika terpantau tidak diterima maka bisa dicabut dan daftar ke sekolah lain.

"Kalau tidak aman bisa langsung dicabut," tegasnya.

Jumeri mengakui SMK dan SMA Negeri di Jawa Tengah saat ini hanya mampu menampung 45 persen dari total pendaftar. Maka ia mendorong yayasan sekolah swasta agar bisa menampung dan bisa memberikan kompensasi untuk siswa miskin.

"Kita akan dekati yayasan untuk bisa anak kurang mampu beri bebas biaya," pungkasnya.

Menurut Jumeri manfaat dari zonasi cukup banyak mulai dari pemerataan mutu pendidikan hingga mengurangi macet dan biaya sehari-hari. Ia menjelaskan biaya transportasi bisa dipangkas karena siswa bisa hanya naik sepeda bahkan jalan karena sekolahnya dekat.

"Di depan sekolah tidak perlu antri jemput sekolah, cukup jalan atau naik sepeda," katanya.



Tonton video Ortu & Calon Siswa Serbu Sekolah Gegara Isu 'Siapa Cepat Dia Dapat':

[Gambas:Video 20detik]


(alg/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com