Mengapa di Solo Marak Warung Kuliner Anjing, Ini Kata Sejarawan

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Sabtu, 22 Jun 2019 19:02 WIB
Salah satu warung kuliner anjing di pinggiran Kota Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo - Kota Solo memang dikenal dengan kulinernya yang khas. Namun diam-diam, di kawasan tersebut juga kuliner ekstrem daging anjing yang cukup merebak. Seperti ini sejarahnya.

Kemunculan kuliner ekstrem ini ternyata sudah sejak tahun 1940-an. Sejak saat itu, daging anjing mulai diperdagangkan secara terang-terangan.

"Bahkan saat itu ada nama penjual yang cukup melegenda, yaitu Mitro 'Jologug'. Sebutan itu didapat karena sering menjala anjing," kata sejarawan Solo, Heri Priyatmoko saat dihubungi detikcom, Sabtu (22/6/2019).


Menurut penelusurannya, zaman dahulu masih kerap ditemui para penangkap anjing. Mereka membawa cambuk dan kala (perangkap) berupa kayu panjang dengan kaitan dari kulit atau jala untuk menjerat leher anjing.

Bisnis ini ternyata mampu bertahan hingga bertahun-tahun dan turun-temurun ke anak cucu. Dosen sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu mengatakan langgengnya usaha itu disebabkan oleh segmentasi yang jelas.

"Lestarinya sebuah makanan hingga bertahun-tahun, berabad-abad itu karena konsumennya jelas dan diturunkan ke anak cucu. Sedangkan kuliner anjing ini didukung kaum abangan dan nonmuslim," ujarnya.

Hingga sekitar tahun 1990, masih banyak ditemui penjaja kuliner daging anjing goreng atau grabyasan yang berkeliling kampung. Kemudian mulai muncul warung-warung kuliner anjing berkedok 'sate jamu'.


Setelah diprotes masyarakat karena dianggap menipu, kini mereka berjualan secara terang-terangan dengan menggunakan nama 'sate guguk'. Kini kuliner ini disajikan dalam beberapa menu, seperti tongseng, sate dan rica-rica.

Merujuk data Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) pada Januari 2019, kini terdapat 82 warung yang berada di Kota Solo. Dalam sebulan, ada 13.700 anjing yang dikonsumsi atau hampir 500 ekor per hari.


Jumlah tersebut cukup banyak, belum lagi ditambah dari kabupaten sekitar Kota Solo yang juga terdapat warung guguk. Anjing-anjing itu rata-rata disetor dari Jawa Barat dan sebagian dari Jawa Timur. (bai/mbr)