detikNews
Jumat 21 Juni 2019, 19:13 WIB

Sutrisno, Penjual Mie Lidi di Kota Pekalongan Ini Selalu Necis

Robby Bernardi - detikNews
Sutrisno, Penjual Mie Lidi di Kota Pekalongan Ini Selalu Necis Foto: Robby Bernardi/detikcom
Pekalongan - Barang daganganya memang umum dijual di Kota Pekalongan dan sekitarnya yakni mie lidi. Sebuah mie yang terbuat dari tepung terigu berbentuk lidi.

Namun, cara berjualannya yang lain dibandingkan sesama pedagang lainnya. Pedagang mie lidi di Kota Pekalongan ini banyak didatangi pembeli, lebih-lebih kaum hawa. Mengapa?

Ia berdandan ala karyawan kantoran, bersepatu pantofel, kemeja putih lengkap dengan dasi merahnya. Ia nama Sutrisno (23) yang selalu berjualan di sekitar Alun-alun Kota Pekalongan. Setiap berjualan langsung banyak didatangi kaum hawa.

Sutrisno adalah seorang pemuda warga Perumahan Tanjung, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Ia baru memulai usaha mie lidinya baru 5 bulan lalu.

Kepada detikcom saat ditemi di rumahnya, anak pertama dari pasangan Sugeng Prayitno (60) dan Suritmi (48) menceritakan awal mula dirinya berjualan mie lidi karena kesukaan keluarga pada makanan tersebut.
SutrisnoSutrisno Foto: Robby Bernardi/detikcom

"Ya awalnya kita memang suka sering membeli mie lidi. Lama kelamaan akhirnya membuat sendiri," katanya.

Sedangkan saat ditanya ide berpakaian rapi lengkap dengan sepatu, kemeja dan dasinya, Sutrisno mengatakan awalnya ia adalah seorang pekerja di sebuah pabrik.

"Seragram pabrik atasan putih kemeja dan bawahan hitam. Karena kerja saya kadang berangkat malam, pagi libur dan sebaliknya, bingung mau ngapain," jelasnya .

Berangkat dari kesukaan keluarga dengan mie lidi inilah kemudian tercetus ide dirinya ingin berjualan keliling sepulang kerja dari pabrik.

"Nah sepulang dari pabrik saya langsung berjualan keliling mie lidi, masih menggunakan kemeja, celana hitam dan bersepatu. Eh banyak yang suka. Saya tambahin dasi merah yang tidak pernah saya pakai," jelas Sutrisno.

Dalam sehari, sutrisno bisa menghabiskan mie lidi sebanyak 5 kg. Karena banyak peminatnya akirnya dengan tidak banyak pertimbangan dirinya keluar dari pekerjaan dan memutuskan untuk fokus jualan mie lidi.

"Saya ingin menjadi bos bagi diri saya sendiri dulu, sebelum jadi bos buat orang lain. Makanya saya keluar dari pabrik," katanya.

Menurutnya saat berjualan semakin hari dagangannya semakin meningkat. Banyak yang sudah dengan mie lidi yang dijajakannya setiap sore hari.

"Banyak yang suka terutama ibu-ibu. Katanya keliatan rajin. Banyak yang minta foto juga, termasuk ABG-ABG," ungkap Sutrisno.

Suritmi (48) ibu Sutrisno mengakui anaknya memang berkemauan keras untuk mandiri.

"Tidak ada yang menyuruh berjualan. Berjualan karena idenya sendiri setelah kita kecanduan mie lidi dan membuat sendiri," jelasnya.

Ia menuturkan Kesibukan di rumah untuk membuat mie lidi dimulai sejak pagi. Semua keluarga terlibat untuk mempersiapkan Sutrisno jualan pada sore hari.
Suritm yang membuat sambal. Adik pertama Sutrisno yang menggoreng mie lidi. Sedang adik keduanya sibuk mempersiapkan pakaian dan sepatu Sutrisno, sementara ayahnya sibuk mempersiapkan motor dan gerobak. Sutrisno sendiri keluar untuk membeli persedian mie lidi mentah untuk persedian besoknya.
Sutrisno, Penjual Mie Lidi di Kota Pekalongan Ini Selalu NecisFoto: Robby Bernardi/detikcom

Setelah selesai semua sekitar pukul 15.00 WIB, Sutrisno berangkat ke lokasi berjualan di sekitar Alun-alun Kota Pekalongan. Berdandan rapi dan berdasi menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang melintas.

Rombongan emak-emak asal Medan misalnya mengaku gara-gara penampilan Sutrisno membuat mereka penasaran.

"Iya karena mamas inilah dengan berdasi keliatan rapi kita penasaran dan mencicipi barang dagangannya," kata Ny Fajar pengunjung Kota Pekalongan asal Kota Medan.

Hal yang sama juga diakui oleh Safitri. Bahkan tidak segan-segan Sutrisno menjadi obyek swafoto pembeli mie lidinya.

"Mamasnya cakep dan rajin. Jadi kita mebeli makanan enak saja memandangnya," katanya.

Harapan Sutrisno sendiri selepas dia keluar dari pekerjaanya di pabrik tekstil, dirinya akan fokus dan mengembangkan mie lidi miliknya. Sutrsino mengaku sejak sore hingga malam hari sekitar pukul 20.00 WIB dirinya berjualan bisa membawa uang sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.

"Target saya bisa berkembang dan mempunyai karyawan dengan seragram yang sama pula," pungkasnya.


(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com