detikNews
Rabu 12 Juni 2019, 08:37 WIB

Berebut Kupat Jembut, Tradisi Unik Syawalan di Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Berebut Kupat Jembut, Tradisi Unik Syawalan di Semarang Berebut Kupat Jembut di Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Matahari belum terbit, suara teriakan anak-anak di Kampung Jaten Cilik, Pedurungan Tengah, Kota Semarang sudah riuh terdengar. Mereka berlari berebut Kupat Jembut sebagai bentuk syukur bulan Syawal.

Diawali kembang api dan petasan di depan Masjid Rudhotul Muttaqiin usai Salat Subuh, para tokoh masyarakat dan agama membawa baki berisi ketupat. Anak-anak yang sudah menanti langsung datang berebut berusaha mendapatkan ketupat yang juga disisipi uang itu.

Habis ketupat di baki, suara tiang listrik diketuk terdengar dari kejauhan dan menarik perhatian. Anak-anak berlarian menghampirinya dan kembali berebut ketupat yang dibagikan warga.

Tradisi berebut ketupat jembut di Semarang. Tradisi berebut kupat jembut di Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

Pola itu berulang sehingga anak-anak berlarian ke sana kemari. Dalam tradisi Syawalan ini memang warga-warga di Jateng Cilik menyiapkan Kupat Jembut alias ketupat berisi tauge sambal kelapa beserta uang untuk dibagikan kepada anak-anak.

Uniknya ada juga warga yang mengisi ketupat dengan uang receh. Anak-anak yang berebut pun gembira dan saling bersaing mendapatkan ketupat serta uang terbanyak.

Tradisi berebut ketupat jembut di Semarang. Tradisi berebut kupat jembut di Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom


Kupat Jembut sebenarnya hanya salah satu sebutan untuk kuliner khas Syawalan di Semarang itu. Nama lain yang lebih nyaman didengar yaitu Kupat Tauge.


Salah satu tokoh masyarakat di sana, Munawir (45) mengatakan tradisi bagi bagi ketupat itu sudah ada sejak tahu 1950-an setelah warga asli Jaten Cilik kembali ke kampungnya pasca mengungsi akibat perang dunia kedua.

"Sudah ada sejak tahun 1950-an, pulang ngungsi perang dunia," kata Munawir di Kampung Jaten Cilik, Rabu (12/6/2019).

Munawir menceritakan, kala itu warga hidup dalam kesederhanaan. Namun karena tetap ingin mengungkapkan rasa syukur setelah melewati bulan Ramadhan, maka digelar syukuran sepekan setelah Idul Fitri atau Syawalan dengan membagikan Kupat Tauge tanpa opor.

Tradisi Kupat Jembut di Semarang.Tradisi Kupat Jembut di Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

"Itu simbol kesederhanaan. Jadi adanya cuma tauge, kelapa, dan lombok, jadi isinya ya tauge sama sambal kelapa. Jadi menyampaikan Lebaran Cilik (Syawalan) ini tidak harus dengan opor," jelasnya.

Tradisi tersebut memang dilakukan orang dewasa dan diperuntukkan untuk anak-anak. Sehingga para dewasa menyiapkan ketupat untuk dibagikan kepada generasi yang lebih muda.


"Bada Syawal ini memang diwujudkan oleh orang dewasa untuk anak-anak," pungkasnya.

"Sempat berhenti dua tahun karena ramai-ramai PKI waktu itu," imbuh Munawir.

Terkait penamaan, Munawir mengakui memang banyak versi penyebutan, namun karena kampung Jaten Cilik lebih lebih relijius maka lebih nyaman menyebut ketupat khas itu dengan sebutan Kupat Tauge daripada Kupat Jembut.

Tradisi berebut kupat jembut di Semarang. Tradisi berebut kupat jembut di Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

"Karena kampung ini relijius, namanya nyebutnya Kupat Tauge. Tapi sebutannya macam-macam," tandasnya.

Ternyata tradisi itu tidak hanya di Kampung Jaten Cilik. Di sejumlah titik di Kelurahan Pedurungan Tengah juga menggelar hal serupa termasuk di daerah Sendangguwo atau daerah yang berada di sisi Timur Kota Semarang.

"Sudah lama sekali tradisi Kupat Jembut ini. Warga asli sini tahu semua," ujar Titik, salah satu warga Pedurungan Tengah.
(alg/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed