DetikNews
Senin 27 Mei 2019, 03:48 WIB

Masjid Pangeran Purbaya Tegal, Konon Dibangun dalam Waktu Semalam

Imam Suripto - detikNews
Masjid Pangeran Purbaya Tegal, Konon Dibangun dalam Waktu Semalam Masjid Pangeran Purbaya,Tegal. Foto: Imam Suripto/detikcom
Tegal - Sebuah bangunan masjid kuno di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, memiliki nilai sejarah mengenai berdirinya wilayah Tegal. Masjid tersebut adalah Masjid Kasepuhan Pangeran Purbaya yang berada di Desa Kalisoka, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal.

Bangunan tempat ibadah ini tergolong sederhana. Lokasinya berada di area makam Pangeran Purbaya alias Sayyid Abdul Ghofar, menantu dari Ki Gede Sebayu, pendiri Tegal. Di balik bangunan yang sederhana itu tersimpan sejarah yang menarik dan penting untuk di ketahui.

Zamzami, salah satu tokoh keluarga dari Kasepuhan Kalisoka menyebut, masjid Pangeran Purbaya ini sangat erat kaitannya dengan nama Kota Slawi dan Bendung Danawarih. Sebab, setelah membendung sungai Gung, Ki Gede Sebayu menggelar sayembara untuk merobohkan pohon jati yang akan digunakan untuk membangun masjid Kalisoka.

"Dari sayembara itu, ada 25 peserta yang terbagi dua. Kelompok pertama dari mantri atau pengikut Ki Gede Sebayu dan kelompok satunya peserta dari luar. Dari jumlah 25 peserta inilah, yang kemudian lokasinya dinamakan Slawi. Slawi berasal dari bahasa jawa selawe yang artinya 25," ujar Zamzami, Minggu (26/5/2019).


Masjid Pangeran Purbaya,Tegal.Masjid Pangeran Purbaya,Tegal. Foto: Imam Suripto/detikcom

Adapun tempat para mantri itu dikenal dengan Dukuh Preman, sementara pohon jatinya ada di Jatiwala yang sekarang Desa Jatimulya. Lokasi tempat peserta menebang (babak) pohon jati disebut Babakan.

Dari sayembara yang digelar pada tahun 18 Mei 1601 tersebut, lanjut Zamzami, Pangeran Purbaya memenangkan sayembara. Pangeran Purbaya
kemudian dijadikan menantu Ki Gede Sebayu dengan menikahkan dengan anaknya, Raden Ayu Giyanti Subalaksana.

Masjid Pangeran Purbaya,Tegal.Masjid Pangeran Purbaya,Tegal. Foto: Imam Suripto/detikcom

Ki Gede Sebayu kemudian menugasi menantunya yakni Pangeran Purbaya menjadi ulama syiar Agama Islam dan putranya Ki Hanggawana sebagai umaro atau pemimpin pemerintahan. Kata Zamzami, ini memiliki makna yang bisa dipelajari adalah ulama dan umaro harus saling mendukung.


"Konon dari cerita masyarakat dalam membangun masjid hanya membutuhkan waktu sehari semalam dan masyarakat tidak ada yang tahu," ujar Zamzami.

Masjid Pangeran Purbaya,Tegal.Masjid Pangeran Purbaya,Tegal. Foto: Imam Suripto/detikcom

Bangunan masjid Pangeran Purbaya juga punya keunikan, yakni tidak ada kubah tapi punya menara. Di bawah menara ada sumur yang digunakan untuk berwudlu.

Semua bagiannya masih asli baik bentuk maupun arsiteknya sejak pertama dibangun. Hanya saja pada tahun 1955, menurut Zamzami, ada penambahan tempat ibadah, tapi tidak merombak struktur bangunan.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed