DetikNews
Rabu 22 Mei 2019, 16:38 WIB

Dinkes Gunungkidul Cek Warga yang Sempat Kontak dengan Sapi Antraks

Pradito Rida Pertana - detikNews
Dinkes Gunungkidul Cek Warga yang Sempat Kontak dengan Sapi Antraks Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Gunungkidul - Sebanyak lima ekor sapi di Gunungkidul mati positif terjangkit antraks. Dinkes Gunungkidul kemudian memeriksa sejumlah warga yang sempat kontak langsung dengan sapi-sapi tersebut.

"Sampai saat ini belum ada yang dipastikan terkena antraks pada manusia (di Dusun Grogol 4). Tapi kami prepare (melakukan persiapan) dengan meminta orang-orang di sana, khusunya yang kontak dengan sapi mati kemudian ada kelainan di kulit untuk dikumpulkan dan diambil sampel," kata Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty.

Hal ini disampaikan Dewi kepada wartawan saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Rabu (22/5/2019). Sapi-sapi yang mati dan diketahui positif terjangkit antraks berada di di RT 3 Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul.

"Hasilnya ada tiga orang yang dikumpulkan tadi dan yang diambil samplenya hanya satu orang karena ada luka, lainnya hanya kami periksa saja. Selanjutnya, sampel yang diambil itu akan dikirim untuk diperiksa apakah mengandung antraks atau tidak, jadi belum ada yang dipastikan terkena (antraks)," imbuh Dewi.


Lanjut Dewi, hasil sampel tersebut bisa keluar beberapa hari lagi. Selain itu, pengumpulan orang dan pengambilan sampel bukan bermaksud membuat masyarakat khawatir. Namun agar bisa dipastikan tak ada warga yang terjangkit antraks.

"Meski secara klinis kami meragukan (1 orang yang diambil sampelnya kena antraks), tapi secara klinis kami tidak mau terlewat. Karena salah satu gejala antraks adanya luka, dan kita tidak mau terlewat. Pokoknya begitu ada luka terbuka itu, (sampel) kita ambil," ucap Dewi.

Menurut Dewi, penularan antraks dapat melalui kontak antara tanah dan luka. Selain itu, penularan antraks bisa melalui selaput lendir dan memakan daging yang mengandung antraks.

"Bisa jadi dari tanah dan kena luka lalu kena antraks, tapi bisa disembuhkan pakai antibiotik. Tapi sapi yang terkena (antraks) juga diobati juga agar tidak menular," ujarnya.

"Karena kalau dibiarkan nanti bisa menyerang organ-organ di dalam tubuh lalu menyebabkan kegagalan organ," imbuhnya.

Dewi melanjutkan bahwa temuan antraks baru pertama kali ini terjadi di Gunungkidul. Karema itu, saat ini Dinkes telah berupaya menanggulanginya agar tidak terjadi penyebaran lebih luas.

"Puskesmas setempat sudah kami minta melakukan surveillance secara ketat, jadi setiap hari harus melakukan pemantauan di lokasi tersebut, apakah ada dicurigai atau tidak. Surveillance itu dilakukan sampai melewati masa kritis atau masa inkubasi," pungkasnya.



(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed