DetikNews
Jumat 17 Mei 2019, 04:00 WIB

Kayu Masjid di Banjarnegara Ini Dipercaya Berusia Ribuan Tahun

Uje Hartono - detikNews
Kayu Masjid di Banjarnegara Ini Dipercaya Berusia Ribuan Tahun Masjid KH Muhammad Hasan, Banjarnegara. Foto: Uje Hartono/detikcom
Banjarnegara - Sekilas, Masjid KH Muhammad Hasan yang berada di Pondok Pesantren Alif Baa di Desa Mantrianom, Kecamatan Bawang, Banjarnegara ini terlihat biasa. Namun, ternyata masjid dengan atap ijuk ini dibangun menggunakan kayu yang dipercaya usianya ribuan tahun.

Tidak hanya itu, udara sejuk dan suara gemericik air begitu terasa saat berada di masjid dengan ukuran 15x15 meter ini. Sebab, Masjid KH Muhammad Hasan ini dibangun di tepi sungai di bawah rimbunan pohon bambu.

Pengasuh Pondok Pesantren Alif Baa Khayatul Maki menyebutkan, kayu yang digunakan sebagai tiang Masjid sudah berumur 650 tahun. sedangkan yang ada di bagian imam masjid berusia 1.200 tahun.

"Ini menggunakan kayu jati yang sudah berusia ratusan sampai ribuan tahun. Bahkan yang di bagian imam sudah sampai mengkristal seperti batu," kata dia saat ditemui di Masjid KH Muhammad Hasan, Rabu (15/5/2019).


Kayu tersebut, ia dapatkan dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Yakni di Tuban, Bojonegoro, Blora, Banyumas dan Banjarnegara. Sebagian besar ditemukan dalam keadaan terpendam.

"Sebagian besar kami ambil dari Jawa Timur dan rata-rata saat ditemukan kayunya dalam keadaan terpendam," ujarnya.

Saat ditanya perihal penaksiran usia kayu, pria yang akrab disapa Gus Khayat ini menuturkan ada tim Apprasial dari ITB yang menghitung perkiraan usia kayu tersebut. Sedangkan untuk ijuk yang digunakan sebagai atap masjid, didapat dari Kecamatan Pandanarum, Kalibening Kabupaten Banjarnegara.


"Kalau ijuknya semuanya dari Banjarnegara, itu diambil dari 2.600 pohon aren," terangnya.

Saat ini, masjid dengan kapasitas 1.000 jamaah ini digunakan santri di Pondok Pesantren Alif Baa dan warga sekitar di Desa Mantrianom. Sedangkan usia masjid hingga saat ini baru sekitar 2 tahun.

"Sebenarnya dulu awalnya mau dibangun biasa menggunakan beton. Bahkan, kami juga sudah membeli pasir, semen, genteng dan lain-lain. Tetapi setelah kami melakukan munajat akhirnya membangun masjid dengan kayu dan atap ijuk," tuturnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed