detikNews
Senin 13 Mei 2019, 23:14 WIB

Masjid di Bantul Ini Sediakan Bubur Sayur untuk Buka Puasa

Pradito Rida Pertana - detikNews
Masjid di Bantul Ini Sediakan Bubur Sayur untuk Buka Puasa Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - Berbeda dengan Masjid-masjid yang menyediakan beraneka ragam menu takjil untuk berbuka puasa, Masjid Sabilurrosya'ad di Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Bantul menyediakan bubur sayur untuk menu berbuka.

Bukan hari ini saja, menu berbuka berupa bubur yang disiram sayur lodeh atau sayur tempe krecek ini ternyata disajikan setiap hari saat bulan ramadhan. Hal tersebut telah berlaku selama turun temurun.

Pantauan detikcom di Masjid Sabilurrosya'ad, tampak beberapa orang baik laki-laki dan perempuan tengah bahu-membahu memasak makanan untuk berbuka puasa. Selain itu, tampak pula seorang pria tua tengah duduk di depan panci berukuran besar berisi beras dan air.

Sembari mendengarkan alunan lagu era jaman dahulu, pria bertopi ini dengan santai mengaduk rendaman beras dan air di panci tersebut. Sesekali tampak pria tua ini berhenti sejenak, karena
Bubur sayur lodehBubur sayur lodeh Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
menambah kayu ke tungku agar api yang menyulut panci itu tidak padam.

Takmir Masjid Sabilurrosya'ad, Nur Jauzak (52) mengatakan, bahwa apa yang dilakukan orang-orang tersebut adalah memasak bubur sayur lodeh untuk berbuka puasa. Nur menjelaskan kegiatan tersebut rutin dilakukan saat bulan ramadhan, mengingat setiap hari Masjid Sabilurrosya'ad menyediakan menu berbuka berupa bubur sayur lodeh.

"Setiap ramadhan memang menu berbuka di Masjid ini (Masjid Sabilurrosya'ad) bubur dengan sayur, dan itu sudah berlangsung sejak lama," ucapnya saat ditemui detikcom di Masjid Sabilurrosya'ad di Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Bantul, Senin (13/5/2019).

Lanjut Nur, ia tidak mengetahui secara pasti kapan tradisi membuat bubur untuk menu berbuka dimulai. Menurutnya, sejak ia berusia belasan tahun tradisi tersebut sudah dilakukan oleh warga sekitar.

Lebih lanjut, meski tidak tahu siapa yang memulai tradisi tersebut. Nur menilai menu bubur sayur yang dibuat warga dahulunya merupakan media dakwah para penyebar agama Islam di Dusun Kauman.

"Tidak ada yang tahu sejak kapan dimulainya buat bubur untuk takjil berbuka puasa. Tapi kemungkinan sudah ada sejak Panembahan Bodho (Raden Trenggono) ke sini saat menyebarkan agama Islam," ujarnya.
Memasak bubur sebelum buka puasaMemasak bubur sebelum buka puasa Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Nur menjelaskan, bahwa pemilihan bubur sayur sebagai menu berbuka puasa selama bulan ramadhan di Masjid Sabilurrosya'ad memiliki banyak makna. Mengingat kata bubur sendiri berasal dari kata bibirin yang berarti kebagusan.

"Filosofi bubur kan halus ya dan halus itu bagus, jadi maksudnya mungkin agama Islam akan sangat diterima masyarakat jika masuknya dengan cara yang halus dan tanpa kekerasan," katanya.

"Selain itu mengapa dipilih bubur mungkin pada saat itu orang Jawa kesulitan makan, sehingga bagaimana nasi yang hanya 1 kilogram bisa dibuat jadi banyak porsi atau beber, nhah caranya dibuat bubur ini biar semua kebagian makan," imbuh Nur.

Pria murah senyum ini melanjutkan, untuk bahan-bahan pembuatan bubur sayur ini berasal dari warga sekitar. Bahkan yang mengolah juga warga sekitar, sehingga bisa dikatakan biaya untuk membuat menu tersebut tidak terlalu memakan biaya.

"Semua bahan dari masyarakat, seperti beras, kelapa dan sayur mayur untuk membuat lodeh. Selain sayur kadang ada warga yang menyumbang ayam atau bahan makanan lainnya, jadi lauknya tidak hanya sayur saja," kata Nur.

Nur menambahkan, bahwa ada hari khusus yang membuat warga datang lebih awal ke Masjid tersebut untuk memasak bubur sayur. Hari khusus itu adalah hari Jumat, dan pada hari itu warga yang biasanya datang jam 1 siang akan datang sejak jam 8-9 pagi untuk mulai memasak bubur sayur.

(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com