Uniknya Masjid An Nuur, Berpadunya Hindu-Islam di Purworejo

Rinto Heksantoro - detikNews
Sabtu, 11 Mei 2019 04:18 WIB
Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
Purworejo - Sebuah bangunan masjid di Purworejo, Jawa Tengah memiliki keistimewaan tersendiri karena dibangun dengan gaya Hindu-Islam. Perpaduan dua budaya itu sebagai bentuk akulturasi saat itu.

Model bangunan Hindu-Islam tersebut terdapat pada Masjid An Nuur yang terletak di Desa Purwodadi, RT 03/ RW 02, Kecamatan Purwodadi. Masjid yang termasuk benda cagar budaya tersebut dibangun pada sekitar tahun 1900.

Meski sudah dipugar beberapa kali, namun bentuk asli masjid tidak dirubah sama sekali termasuk 4 buah yoni yang terbuat dari batu dan menjadi dasar soko guru atau tiang utama masjid. Yoni sendiri adalah simbol/lambang kesuburan pada masa perkembangan agama Hindu di waktu lalu. Batuan candi seperti lingga dan yoni saat itu banyak ditemukan di di wilayah Purwodadi yang sebelumnya masyarakat masih menganut agama Hindu sebelum Islam datang.

Sedangkan bangunan masjid mirip dengan bangunan model Jawa dengan empat tiang dari kayu. Sedangkan di dekat pengimaman, mimbar juga masih menggunakan kayu seperti halnya masjid-masjid bergaya arsitektur lama,

Masjid An Nuur di Purwodadi, PurworejoMasjid An Nuur di Purwodadi, Purworejo Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
Soko guru pakai batu candi, yoni Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

"Yang beda dengan masjid lain karena di sini terdapat yoni yang merupakan salah satu simbol dari agama Hindu, dan sampai sekarang masih dijadikan dasar pada soko guru. Soko gurunya juga masih asli dari dulu," kata takmir masjid, Ngateman (58) sambil menunjuk yoni yang dimaksud, Jumat (10/5/2019).

Keistimewaan lainnya, masjid yang berumur lebih dari seabad ini memiliki bedug yang dibuat dari pohon yang sama dengan bedug di Masjid Agung Purworejo. Hanya saja, bedug di Masjid An Nuur ini menggunakan kayu bagian ujung pohon sehingga lebih kecil dari bedug di masjid agung yang menggunakan kayu bagian pangkal dan merupakan bedug terbesar di dunia.

"Selain itu, seluruh temboknya dari ruang utama sampai serambi juga masih asli bangunan dulu. Terus ada mimbar dan daun pintu juga asli, ada sumur tua juga peninggalan jaman dulu yang airnya tidak pernah kering walaupun musim kemarau. Bahkan penduduk sekitar kalau kehabisan air ambilnya di sini. Tapi sumurnya sekarang ditutup pakai semen dan ambil airnya pakai pompa air," lanjutnya.
Soko guru menggunakan batuan candi (Hindu) yoniSoko guru menggunakan batuan candi (Hindu) yoni Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

Diwawancara terpisah, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Purworejo, Eko Riyanto mengatakan bahwa penggunaan yoni dalam masjid menjadi salah satu daya pikat penyebaran Islam di Purworejo. Kentalnya pengaruh Hindu waktu itu membuat para penyebar Islam kemudian mengakulturasi kebudayaan Hindu dengan Islam.

"Yoni yang berada di dalam masjid di wilayah Purworejo ketika itu sebagai salah satu bukti awal penyebaran ajaran Islam yang mana masyarakat umumnya sudah memeluk agama Hindu. Upaya ulama menyebarkan Islam dengan cara salah satu budaya hindu dibawa masuk dalam masjid itu adalah strategi penyebarannya. Mungkin saking kuatnya ajaran hindu di wilayah selatan Purworejo saat itu," ucap Eko.
(bgk/bgs)