DetikNews
Jumat 26 April 2019, 15:28 WIB

Cek Kondisi EWS, Bantul Gelar Simulasi Bencana Tsunami

Pradito Rida Pertana - detikNews
Cek Kondisi EWS, Bantul Gelar Simulasi Bencana Tsunami Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - BPBD Kabupaten Bantul menggelar sosialisasi mitigasi bencana dalam rangka kegiatan simulasi bencana tsunami di kawasan Pantai Kwaru. Simulasi itu sekaligus untuk mengecek fungsi Early Warning System (EWS).

Pantauan detikcom di Tempat Evakuasi Sementara (TES) kawasan pantai Kwaru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Bantul, ratusan orang yang berasal dari berbagai instansi dan aparat memenuhi tempat tersebut. Selain itu, terdengar pula imbauan dari salah seorang petugas BPBD untuk melakukan persiapan terkait gempa besar yang mengguncang kawasan pantai.

Setelah imbauan itu dikeluarkan, baik TNI, polisi dan petugas BPBD tampak siaga sembari berkomunikasi melalui handy talkie. Tak lama kemudian terdengar suara sirine yang menandakan terjadi gempa besar yang berpotensi memicu gelombang tsunami.

Mendengar suara sirine tersebut, para petugas tampak bergegas untuk saling berkoordinasi dengan aparat lainnya. Kendati demikian, tidak ada warga yang memadati gedung bercat oranye tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto menjelaskan, kegiatan tersebut hanyalah simulasi terkait mitigasi bencana tsunami di tingkat posko. Hal itu juga berkenaan dengan peringatan hari kesiapsiagaan bencana yang jatuh hari ini, Jumat (26/4/2019).

"Kegiatan ini untuk melatih kesiapan petugas dalam menyelamatkan warga yang terdampak gempa dan tsunami di kawasan Pantai (Kabupaten Bantul). Selain itu, simulasi ini juga untuk mengantisipasi dan menghadapi kemungkinan terburuk jika tiba-tiba terjadi gempa yang berpotensi tsunami di Bantul," ujarnya saat ditemui detikcom di TES kawasan pantai Kwaru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Bantul, Jumat (26/4/2019).

Selain dalam rangka memperingati hari kesiapsiagaan bencana kata Dwi, juga untuk mengecek fungsi setiap EWS di kawasan pantai. Mengingat EWS berfungsi untuk memperingatkan masyarakat di kawasan pantai jika terjadi potensi tsunami.

"Ini (simulasi) juga untuk mengetahui masih berfungsi atau tidaknya EWS," katanya.
Dwi DaryantoDwi Daryanto Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Dwi menambahkan, selain melibatkan aparat dan instansi terkait, dalam simulasi ini juga melibatkan 30 orang yang berasal dari negara ASEAN. Menurut Dwi, 30 orang itu tergabung dalam Resilience and Costal Tourism in South-Easr Asia.

"Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan negara sahabat yang saat bencana Aceh ikut terkena dampak. Sehingga dengan ikut simulasi, mereka bisa lihat bagaimana mekanisme kesiapan aparatur pemerintah jika ada gempa besar yang berpotensi tsunami," ucapnya.

Koordinator Resilience and Costal Tourism in South-Easr Asia, Bambang Sunaryo menyebut, 30 orang tersebut berasal dari negara ASEAN yang memiliki pantai dan berisiko terjadi tsunami. Terlebih, dengan ikut dalam simulasi ini diharap mereka dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat saat pulang ke negara asalnya.

"Jadi 30 orang ini ikut simulasi untuk studi banding, karena mereka menilai kesiapan menghadapi bencana di Bantul cukup maju. Harapannya mereka dapat ilmu setelah ikut simulasi ini dan syukur-syukur bisa di aplikasikan mereka di negaranya sana," kata Bambang.

Dwi menambahkan Early Warning System (EWS) di kawasan pantai Bantul dijadikan pilot project nasional. Hal itu karena sistem EWS di Bantul melibatkan masyarakat lokal.

"Tahun 2019-2020 itu nanti sistem EWS di Bantul akan jadi pilot project EWS di Indonesia. Jadi sistem yang ada di Bantul ini nanti jadi pilot project, contoh yang akan dipasang di beberapa tempat di Indonesia, mulai dari Sukabumi sampai Banyuwangi itu terpasang sirine yang terintegrasi," imbuh Dwi.

"Sehingga di manapun bencana itu terjadi sudah bisa terkomunikasi dengan alat (EWS) yang terpasang di wilayah santai selatan Jawa," kata dia.

Menurut Dwi, hal itu karena EWS di Bantul merupakan salah satu EWS lokal yang cukup tangguh dan handal. Terlebih dari sisi pembiayaan dan perawatan tidak terlalu memakan biaya.

"Selain itu, dijadikannya pilot project karena penerapan EWS di Bantul diterima dan melibatkan masyarakat lokal," ucapnya.

"Karena di Bantul ada 8 EWS yang terpasang di sepanjang pantai (Kabupaten Bantul) disamping itu, ada 24 yang terkoneksi dengan masjid-masjid untuk mempercepat peringatan adanya bencana ke masyarakat," pungkas Dwi.

(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed