detikNews
Senin 22 April 2019, 15:29 WIB

Belum Dideportasi, 40 WNA yang Dibekuk di Semarang Terancam Bui 6 Tahun

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Belum Dideportasi, 40 WNA yang Dibekuk di Semarang Terancam Bui 6 Tahun Gerombolan WNA buronan interpol dibekuk di Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Warga Negara Asing (WNA) yang berjumlah 40 orang dan ditangkap karena melakukan cyber crime di Semarang belum akan dideportasi. Mereka bahkan terancam penjara 6 tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.

Kadiv Imigrasi Kanwil Kemenkumham Jateng, Ramli HS mengatakan pihaknya tidak akan langsung mendeportasi agar ada efek jera. Saat ini pihaknya menunggu apakah para tersangka itu akan dilakukan projustitia atau tidak.

"Jangan tangkap terus deportasi, tangkap terus deportasi, nanti tidak ada penjeraan. Kita tunggu perintah pusat apakah akan proju di sini atau akan dilimpahkan ke Direktorat Jenderal Imigrasi," kata Ramli di Rumah Detensi Imigran Semarang, Senin (22/4/2019).

Para WNA tersebut melanggar ketentuan terkait dokumen imigrasi seperti paspor, penyalahgunaan visa, bahkan ada yang benar-benar ilegal yaitu 11 orang warga Taiwan yang ternyata juga buronan polisi dari negara asalnya.


Ramli menjelaskan, Taiwan sudah menyatakan paspor 11 orang buronan itu tidak berlaku. Berarti mereka sudah dinyatakan ilegal berada di Indonesia.

"Mereka ini kategori ilegal dan overstay," tegasnya.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Agus Triatmaja menjelaskan, terkait tindak pidana yang para WNA lakukan tersebut, merupakan perbuatan melanggar pasal 28 ayat (1) UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE berikut perubahan pada UU nomor 19 tahun 2016.

"Ketentuan pidananya yaitu pasal 45A ayat (1) UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman pidana paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak Rp 1 miliar," jelas Agus.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Pol Hendra Suhartiyono menambahkan modus yang dilakukan para WNA tersebut adalah dengan menelepon orang di negara mereka seolah sedang terkena masalah hukum. Jika ingin bebas maka harus menyerahkan sejumlah uang.


"Mereka berpura-pura sebagai penegak hukum yang menghubungi target yang berada di China dan Taiwan dan menginformasikan bahwa target (korban) terlibat pidana dan dibuktikan dengan surat dari penegak hukum. Pelaku kemudian menawarkan bantuan untuk menghapus catatan itu bila korban menyetor uang," jelas Hendra.

Aksi itu dilakukan 40 WNA yang terdiri dari 12 orang merupakan warga Taiwan dan 28 sisanya dari China. Mereka memodifikasi rumah yang mereka sewa di Jalan Puri Anjasmoro Blok M2 nomor 11, Semarang Barat, Kota Semarang agar kedap suara.

Penangkapan dilakukan hari Kamis (18/4) lalu sekitar pukul 17.00 WIB di rumah mewah tersebut. Sebelum ke Indonesia, ternyata mereka melakukan aksi serupa di Jepang kemudian kabur ke Bali hingga akhirnya sampai di Semarang.
(alg/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed