detikNews
Senin 22 April 2019, 12:49 WIB

Gerombolan WNA Taiwan Buronan Interpol Dibekuk di Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Gerombolan WNA Taiwan Buronan Interpol Dibekuk di Semarang Gerombolan WNA Taiwan buronan interpol dibekuk di Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Gerombolan buronan dari Taiwan dibekuk di Kota Semarang, Jawa Tengah. Mereka kabur dari Jepang dan melanjutkan aksi cyber crime yang dilakukan di Indonesia.

Penangkapan dilakukan hari Kamis (18/4) lalu sekitar pukul 17.00 WIB di rumah mewah di Jalan Puri Anjasmoro Blok M2 nomor 11, Semarang Barat, Kota Semarang. Total ada 40 warga negara asing yang diamankan saat petugas Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah mendatangi rumah itu.

"Telah diamankan 40 warga negara asing," kata Kepala Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah, Sutrisman saat jumpa pers di Rumah Detensi Imigran (Rudenim) Semarang, Senin (22/4/2019).

Kadiv Imigrasi Kanwil Kemenkumham Jateng, Ramli HS menjelaskan dari 40 warga itu 12 orang merupakan warga Taiwan dan 11 di antaranya adalah buronan interpol.

"Mereka ini orang-orang yang dicari isi surat perwakilan Taiwan di Jakarta mengatakan paspor 11 orang ini dinyatakan tidak berlaku lagi," kata Ramli.

Gerombolan WNA Taiwan buronan interpol dibekuk di Semarang.Gerombolan WNA Taiwan buronan interpol dibekuk di Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

Sebelas buronan itu melakukan penipuan kepada korban di China dan Taiwan melalui sambungan telepon yang dilakukan dari luar negeri untuk menghasilkan uang. Mereka melakukan hal itu di Jepang, kemudian kabur ke Indonesia untuk melakukan aksi serupa.

"Di Jepang melakukan hal yang sama, dari sana diminta oleh orang yang memobilisasi mereka untuk mengamankan diri ke Indonesia," kata Ramli.


"Mereka langsung ke Bali dan berpindah-pindah tempat hingga akhirnya ke Semarang," imbuhnya.

Pihak keimigrasian mulai curiga karena banyak WNA Taiwan dan China yang usianya muda datang ke Semarang. Penelusuran dilakukan hingga kecurigaan mengerucut pada rumah mewah di Puri Anjasmoro yang dihuni banyak WNA sejak sebulan terakhir.

Dari segi dokumen imigrasi, mereka melakukan berbagai pelanggaran terkait dokumen seperti paspor dan izin tinggal. Kanwil Kemenkumham Jateng kemudian berkoordinasi dengan Polda Jateng terkait tindak pidana yang mereka lakukan.

"Modus yang dilakukan yaitu menggunakan sarana internet untuk melakukan panggilan telepon dengan fasilitas Voice Over Internet Protocol (VOIP) dan menggunakan aplikasi Skype untuk menghubungi target," kata Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Agus Triatmaja.


Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Pol Hendra Suhartiyono menambahkan para tersangka juga memodifikasi rumah yang mereka sewa agar kedap suara. Mereka kemudian menelepon korban di negara mereka untuk melancarkan penipuan.

"Mereka berpura-pura sebagai penegak hukum yang menghubungi target yang berada di China dan Taiwan dan menginformasikan bahwa target (korban) terlibat pidana dan dibuktikan dengan surat dari penegak hukum. Pelaku kemudian menawarkan bantuan untuk menghapis catatan itu bila korban menyetor uang," jelas Hendra.

"Mereka juga mendapatkan data nomor telepon target secara ilegal," imbuhnya.

Saat ini 12 warga Taiwan dan 28 warga China itu masih berada di Rudenim Semarang untuk dimintai keterangan. Pihak berwajib dari Taiwan juga sudah hadir di sana untuk berkoordinasi.
(alg/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed