detikNews
Kamis 04 April 2019, 13:14 WIB

Sapto Nugroho, Pengusung 'Ideologi Kenormalan' dari Solo Tutup Usia

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Sapto Nugroho, Pengusung Ideologi Kenormalan dari Solo Tutup Usia Sapto Nugroho. (Foto: Dok, Pribadi)
Solo - Kabar duka menyeruak dari kalangan difabel. Pejuang disabilitas asal Solo, Sapto Nugroho, tutup usia, Kamis (4/4/2019) pagi.

Sapto sebelumnya mengalami gagal ginjal dan sempat dirawat di rumah sakit. Dia kemudian meninggal saat dirawat di RS Panti Waluyo, Solo.

Meski menjadi difabel sejak kecil, Sapto dikenal sebagai aktivis dalam berbagai hal. Kawan akrabnya, Didik Wahyudiono, mengatakan Sapto tidak pernah malu dengan kondisi kedua kakinya yang cacat karena polio.

"Sapto telah menjadi aktivis sejak 1980-an. Awalnya justru tidak di bidang disabilitas, aktif di berbagai LSM, pejuang demokrasi," kata Didik saat ditemui rumah duka, Jalan Baturan Indah, Fajar Indah, Solo.

Kemudian Sapto mengabdikan diri untuk difabel dengan mendirikan Yayasan Talenta pada awal 1990-an. Dia pun mengusung 'ideologi kenormalan' untuk memperjuangkan kesetaraan dengan nondifabel.

"Saat itu kan difabel ditangani oleh YPAC, tapi advokasinya tidak kuat. Sapto ini kemudian yang aktif melakukan advokasi," ujar dia.

"Beliau bisa memotivasi teman-teman difabel, menjadi pembicara di mana-mana, dan itu yang ikut tidak hanya dari Solo, dari mana saja," lanjutnya.

Sapto Nugroho, Pengusung 'Ideologi Kenormalan' dari Solo Tutup UsiaPara pelayat di rumah duka Sapto Nugroho di Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Rekan Sapto lainnya, Gunawan Wibisono, mengatakan sifat terbuka yang dimiliki Sapto bukan dibawa sejak lahir. Dia terus berproses untuk menjadi lebih baik.

"Awalnya agak tertutup, kami saling belajar satu sama lain. Semakin banyak berinteraksi, dia semakin terbuka dan bisa melahirkan banyak gagasan," ujar Gunawan yang hadir melayat.


Salah satu 'peninggalan' Sapto, kata Gunawan, ialah peraturan daerah tentang disabilitas. Sapto pernah memperjuangkan hak-hak difabel, mulai dari mendapatkan askes hingga akses pekerjaan.

"Ada Perda di Solo yang mengatur agar difabel lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Itu beliau yang memperjuangkan. Hingga saat ini beliau terus mengajak belajar difabel mengenai hak-haknya," kata dia.

Perjuangan 'ideologi kenormalan' tetap dipegang teguh Sapto hingga wafatnya. Menjelang wafatnya, Sapto mengalami sakit ginjal yang mengakibatkan tubuhnya melepuh. Namun kepada kawan-kawannya yang menjenguk, Sapto dengan tegas menolak disebut sakit ginjal. Dia menegaskan ginjalnya sedikit kurang berfungsi.

Kini Sapto meninggal pada usia 54 tahun. Dia meninggalkan istrinya, Pamikatsih, serta dua anak yakni Ravi Nugroho dan Ryan Nugroho. Sapto akan dimakamkan di Pemakaman Moren, Baturan, Colomadu, Karanganyar, siang ini.
(bai/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com