Selama dua tahun ini, ia bertugas sebagai petugas kebersihan, sekaligus penjaga tugu gapura perbatasan naungan pemprov Jawa Tengah itu. Siang dan malam ia dituntut untuk selalu siaga atas apapun yang terjadi di wilayah tersebut.
Saat ditemui detikcom, Tarmuji mengaku dirinya hanya mendapatkan upah dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah senilai Rp 1,2 juta per bulan. Namun, upah yang diterimanya itu tidak sepenuhnya sebagai imbalan atas kerjanya menjaga gapura.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain setiap bulan ia harus keluar biaya untuk membeli pupuk guna merawat rumput di area perbatasan, ia juga harus keluar biaya pribadi untuk berkirim surat dengan pihak Pemerintah Provinsi tiap bulannya. Surat tersebut adalah rekap laporan dirinya soal kinerjanya.
"Setiap bulan saya harus kirim surat ke provinsi buat laporan. Lha kirim-kirim itu kan juga keluar biaya lagi. Sebenarnya sih tidak masalah, tapi keluarnya kan juga bukan itu saja," akunya.
"Yang membuat saya harus siaga dalam tugas ini itu harus mengawasi setiap pengunjung yang datang kesini. Berkali-kali saya menegur pengunjung utamanya anak-anak yang corat-coret dan suka berbuat tidak benar disini," lanjutnya.
Tarmuji bertugas sendirian menjaga sekaligus merawat kebersihan dua unit gapura kanan dan kiri, serta tower yang terdapat sebanyak 16 unit lampu. Jika ada kerusakan salah satu diantaranya, ia yang melapor kepada pihak pengelola dari provinsi.
"Tapi sayangnya, kalau saya laporan pasti responnya lamban. Entah mengapa. Padahal ya ini berbatasan langsung sama wilayah provinsi lain, kok terkesan lamban gitu. Ini ada tower lampu dinamonua rusak, sudah 2 minggu ini tidak segera diperbaiki. Coba lihat sebelah timur sana, beda kan," ucapnya sembari menunjuk gapura perbatasan milik Jawa Timur yang jaraknya hanya sekitar 50 meter.











































