DetikNews
Kamis 21 Maret 2019, 22:41 WIB

TKD Jokowi-Ma'ruf Sangsikan Hasil Survei Litbang Kompas

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
TKD Jokowi-Maruf Sangsikan Hasil Survei Litbang Kompas Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
semarang - Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jateng Jokowi-Ma'ruf Amin, Bambang Wuryanto mengomentari terkait hasil survei Litbang Kompas. Hal yang disoroti yaitu data yang menunjukkan penurunan elektabilitas paslon nomor 01 menjadi 49,2 persen.

"Survei adalah sebuah riset akademis. Tapi kemudian dibumbui dengan bumbu-bumbu politik, sehingga dipersepsikan. Sudah diolah," kata pria yang akrab disapa Bambang Pacul itu, Kamis (21/3/2019).

Ketua DPD PDI Perjuangan Jateng itu menganggap dalam hasil survei tersebut ada ekstrapolasi elektabilitas di angka 57 persen sampai 61 persen. Hal itu pula yang dianggap hasil tersebut merupakan survei yang diolah kemudian dipersepsikan agar mengira Jokowi-Ma'ruf kalah.

"Sangat berbeda. Itu olahan survei, riset diolah agar terdapat bahasa politik, agar semangat pendukung Jokowi mentalnya jatuh dan pendukungnya surut," kata Bambang.

Menurut Bambang, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 61,6 persen tidaklah sesuai kenyataan di lapangan. Dari survei internal PDIP 10 hari lalu, lanjut Bambang, elektabilitas pasangan 01 mencapai 68,8 persen. Hasil survei terbaru menunjukkan angka 72 persen.

"Itu 100 persen salah, mengolah angkanya salah. Jateng justru naik terus, secara periode tidak pernah turun," tegasnya.



Ia kemudian mengungkit hasil Survei Litbang Kompas pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah. Bambang menjelaskan saat itu hasil survei menyebutkan Ganjar-Yasin akan meraih suara 79 persen. Faktanya, suara yang diraih 57 persen.

"Bagaimanapun sebuah survei tak bisa dipercaya penuh. Tidak boleh berpegang mati pada surve. Survei hanya alat kita agar bekerja lebih baik lagi," ujar pria asal Sukoharjo itu.

Bambang juga menegaskan upaya pemenangan Jokowi-Ma'ruf di Jawa Tengah terus dilakukan termasuk mengandalkan para caleg. Selain itu ada 48 kelompok relawan di Jawa tengah yang telah didaftarkan.

"Pak Jokowi punya relawan yang terus bergerak. Sedangkan partai punya pasukan reguler dan non reguler. Semua terus bergerak," tutupnya.



(alg/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed