DetikNews
Selasa 19 Maret 2019, 09:10 WIB

Round-Up

Ceritanya Diungkap Sandi Saat Debat, Bu Nis Penderita Kanker Buka Suara

Mochamad Zhacky, Sukma Indah Permana, Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Ceritanya Diungkap Sandi Saat Debat, Bu Nis Penderita Kanker Buka Suara Niswatin Naimah. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Yogyakarta - Sandiaga Uno mengungkap kisah seorang penderita kanker yang obatnya tak tercover BPJS Kesehatan. Di panggung debat, Sandi menyebut nama Bu Lis tapi pada akhirnya perempuan yang dimaksud muncul dan ternyata bernama Bu Nis.

Nama lengkap perempuan yang kini sedang berjuang melawan kanker payudara grade 2 ini yaitu Niswatin Naimah.

"Yang dimaksud Pak Sandi itu saya," kata Niswatin saat ditemui wartawan di kawasan Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen, Senin (18/3/2019).

Dalam pertemuannya dengan Sandi, ia mengaku sebagai penderita kanker payudara yang pengobatannya tidak tercover BPJS Kesehatan. Padahal sebelumnya, jenis pengobatan tersebut dicover BPJS.

Niswatin yang kemarin menonton debat cawapres, mengaku kaget karena Sandiaga bercerita tentang dirinya. Dia tidak menyangka Sandi masih mengingatnya.


"Iya kemarin nonton debatnya. Ya kaget saja, ternyata Pak Sandi masih ingat sama saya," ujar guru honorer SMK Muhammadiyah 1 Sragen itu.

Kekeliruan penyebutan nama itu, menurutnya wajar. Sebab saat di Pasar Bunder, Sragen, kondisinya ramai dan dia pun menggebu-gebu menyampaikan aspirasinya.

"Saya saat itu memang datang karena tahu Pak Sandi ke situ. Tapi saya menyampaikan itu spontan saja, sampai menggebu-gebu, karena memang saya rasakan betul," ujar warga Babadan RT 08 RW 02, Desa Bentak, Sidoharjo, Sragen itu.

Cerita Bu Nis tentang Sakitnya

Kepada wartawan, perempuan asal Sragen itu memastikan bahwa yang disampaikan Sandiaga benar adanya. Dia pun menunjukkan bukti-bukti terkait sakit yang dia derita.

"Saat ini dokter mendiagnosa saya terkena kanker payudara stadium dua," kata Niswatin di kawasan Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen, Senin (18/3/2019).


Niswatin merupakan peserta BPJS kelas dua yang dibiayai secara mandiri. Dia mengatakan tidak bisa memperoleh pengobatan berupa suntikan herceptin.

Menurutnya, setelah menyelesaikan rangkaian pengobatan kemoterapi selama tujuh kali, seharusnya ia mendapatkan suntikan herceptin. Namun karena terkendala aturan, kata dia, jenis pengobatan ini tidak dia peroleh.

"Setelah pengobatan yang dikover BPJS, yang kemo dan sebagainya selesai, itu harus ada suntikan herceptin. Tapi terhalang aturan baru. Menurut informasi, dulu terkover tapi sekarang saya tidak mendapatkannya," ungkap dia.

Terakhir kali dia melakukan kemoterapi pada Oktober 2018. Hingga saat ini dia hanya mengonsumsi obat-obatan herbal.


"Selama ini herbal saja. Saya yakin kesembuhan itu dari Allah. Barangkali dari medis tidak saya dapatkan, harus ikhtiar yang lain," kata perempuan berusia 44 tahun itu.

Niswatin yang merupakan guru honorer SMK Muhammadiyah 1 Sragen mengaku tidak mampu membiayai suntikan tersebut karena harganya sekitar Rp 15 juta sekali suntik. Padahal paling tidak, dia harus mendapatkan delapan kali suntikan.

"Minimal delapan suntikan, walaupun kemarin dokter bilang yang efektif itu 16 kali suntikan. Itu pengobatan yang efektif buat penyakit saya," katanya.

Saat bertemu Sandiaga Uno di Pasar Bunder, Sragen, 30 Desember 2018 lalu, Niawatin mengaku spontan menyampaikam aspirasinya. Dia mengaku juga memperjuangkan nasib penderita kanker payudara lainnya.

"Saya yakin ada kasus-kasus yang seperti saya. Harapannya BPJS diperbaiki lebih baik lagi karena kemarin dikover, kenapa sekarang tidak," tutupnya.

BPJS Kesehatan Beri Klarifikasi

Diwawancara terpisah, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surakarta Bimantoro menjelaskan pihaknya telah memeriksa data dan berkoordinasi dengan pihak rumah sakit terkait Bu Nis.

"Hasilnya, Ibu Nis mendapatkan haknya sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS)," kata Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surakarta Bimantoro dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/3).

Bimantoro menjelaskan Bu Nis, yang mempunyai nama lengkap Niswatin, terdaftar sebagai peserta JKN-KIS sejak 2015. Pada Maret 2018, dia didiagnosis oleh dokter, berdasarkan pemeriksaan, menderita penyakit kanker payudara grade 2 non-metastasis.

Sejak itu Niswatin menjalani pengobatan secara rutin. Dia menjalani kemoterapi gelombang pertama sebanyak tujuh kali hingga Oktober 2018.

"Sesuai indikasi medis dan restriksi Formularium Nasional, pasien belum dapat diresepkan obat Herceptin karena obat ini untuk penderita kanker payudara metastasis dengan pemeriksaan HER2 positif, sementara Niswatin masih belum ke arah itu," jelasnya.

Bimantoro menuturkan, berdasarkan konfirmasi dengan pihak RS dr Soehadi Pridjonegoro, Sragen, Bu Nis saat ini sudah selesai menjalani pemeriksaan kemoterapi. Namun harus tetap menjalani pengobatan rutin dan dalam pemantauan dokter.

"Kami sudah bertemu dengan pasien dan persoalan ini sudah diselesaikan dengan baik. Terima kasih kepada pihak yang memberikan masukan untuk penyelenggaraan Program JKN-KIS yang lebih baik," terang Bimantoro.

Diberitakan sebelumnya, Sandiaga kembali mengungkap kisah masyarakat di panggung debat. Kali ini yang diungkap adalah kisah Bu Nis dari Sragen. Namun Sandiaga menyebut 'Bu Nis' sebagai 'Bu Lis'.

"Kisah yang dihadapi Ibu Lies di mana program pengobatannya harus terhenti karena tidak di-cover oleh BPJS itu tidak boleh lagi kita tolerir Indonesia. Apalagi akan menjadi negara-negara yang ekonominya nomor lima terbesar di dunia di 2045," tutur Sandiaga dalam debat di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3).


Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di detik.com/pemilu
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed