ADVERTISEMENT

Kisah WNI Saksi Mata Penembakan Brutal di New Zealand

Usman Hadi - detikNews
Selasa, 19 Mar 2019 08:54 WIB
Irfan Yunianto, mahasiswa Indonesia yang berada di New Zealand. Foto: Dok. Pribadi
Yogyakarta - Jumat (15/3) lalu adalah hari kelam yang tak terlupakan buat Irfan Yunianto. Ketika sedang mengikuti prosesi salat Jumat di Masjid Al Noor Christchurch, New Zealand, tiba-tiba muncul tembakan beruntun menghujani jemaah masjid.

Irfan, yang juga pengajar di Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini berhasil selamat dalam insiden itu. Hanya saja dia mengalami trauma luar biasa dan membutuhkan pemulihan.

Irfan bercerita, mulanya dia tak menaruh curiga sama sekali. Sama seperti hari Jumat sebelumnya, dia menyempatkan diri ke Masjid Al Noor untuk menunaikan salah Jumat. Dengan mengendarai sepedanya, pukul 13.40 waktu setempat dia sampai di masjid.

"Nah, kemudian saya masuk (masjid). Saya melihat bahwa di ruang salat utama itu masih agak lengang. Di situ tidak banyak jemaah. Kemungkinan karena memang hujan dari pagi," kenang Irfan dalam teleconference di Kampus 1 UAD, Senin (18/3/2019).

Karena jaket yang dipakainya basah kehujanan, Irfan memutuskan tak ke ruang salat utama. Dia menuju ruang meeting yang ketika Jumat juga dimanfaatkan untuk tempat salat. Lima menit setelahnya dia mendengar suara tembakan.

Semula Irfan mengira suara tersebut berasal dari trafo masjid yang meledak. Namun suara tembakan terus terjadi, hingga akhirnya dia menyadari suara itu berasal dari senjata api. Mengetahui hal itu dia langsung keluar melalui emergency exit door.

Irfan dan jemaah lainnya berlarian ke parkiran belakang masjid. Setelahnya mereka berlindung di sebuah rumah tak jauh dari lokasi. Hingga akhirnya pukul 18.30 waktu setempat aparat kepolisian setempat mengecek tempat persembunyian Irfan.

"Kami disuruh stand by, sekitar pukul 7.00 (19.00 waktu setempat) kami dikumpulkan di halaman depan. Kemudian dievakuasi dengan menggunakan tank polisi, dan pukul sekitar 7.30 saya diantar oleh polisi sampai ke rumah dengan selamat," katanya.

Jika Irfan, mahasiswa S3 Biologi di University of Otago berhasil selamat tanpa luka-luka, maka lain hal dengan Zulfirmansyah beserta anaknya. Meski selamat, Warga Negara Indonesia (WNI) bapak-anak ini terkena tembakan dan harus mendapat perawatan intensif.

"Dari info istrinya, istrinya dapat info dari pihak medis kalau Zul (sapaan akrab Zulfirmansyah) terkena tembakan di Paru. Anaknya terkena (tembakan) di kaki," ucap sobat Zulfirmansyah, Erizal As kepada detikcom di Yogyakarta, Jumat (15/3) lalu.

Erizal adalah sobat lama Zulfirmansyah. Mereka sudah saling kenal sejak di SMSR Padang. Kemudian keduanya sama-sama melanjutkan studi di Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Usai lulus di ISI Yogyakarta, keduanya aktif di Komunitas Seni Sakato.

Pembantu Rektor (PR) 3 ISI Yogyakarta, Anusapati, mengecam penembakan brutal yang mengenai alumnusnya itu. Dia menilai apa yang dilakukan pelaku adalah aksi tak berprikemanusiaan. Terlebih aksi teror itu dilakukan ketika jemaah sedang beribadah.

"Penyerangan kepada masyarakat sipil, apalagi sedang melakukan ibadah itu kan perbuatan yang biadab dan pengecut, dan saya pikir itu betul-betul melukai rasa kemanusiaan kita, mencederai harkat dan martabat kemanusiaan," kecam Anusapati.


Saksikan juga video '13 Korban Teror di New Zealand Masih Kritis':

[Gambas:Video 20detik]

(ush/sip)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT