DetikNews
Selasa 19 Maret 2019, 07:26 WIB

Round-Up

Melihat Lagi Dampak Banjir dan Longsor yang Melanda Bantul

Pradito Rida Pertana - detikNews
Melihat Lagi Dampak Banjir dan Longsor yang Melanda Bantul Longsor di kompleks makam Raja Mataram, Imogiri, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - Hujan deras yang mengguyur sejak Minggu (17/3) mengakibatkan beberapa titik di Bantul terdampak banjir dan tanah longsor. Tercatat ada lima orang korban akibat bencana ini. Sebanyak tiga orang di antaranya meninggal dunia dan dua lainnya belum ditemukan.

"Korban meninggal ada tiga orang. Selain itu ada dua orang korban lagi yang masih hilang tertimbun tanah longsor di Imogiri," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto saat dihubungi detikcom, Senin (18/3/2019).

Dwi menjelaskan, korban meninggal masing-masing bernama Painem (70), warga Dusun Numpukan, Desa Karangtengah, Kecamatan Imogiri, Bantul, Sudi Atmojo (80), warga Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul dan Sukiyat (56), warga Dusun Nogosari II, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul. Lanjut Dwi, Painem dan Sudi Atmojo ditemukan meninggal pada Minggu (17/3) saat banjir dan longsor melanda.

"Kalau Sukiyat ditemukan meninggal (Senin 18/3 siang) karena hanyut saat banjir hari Minggu," ucap Dwi.

Selain itu, hingga saat ini tercatat masih ada dua korban hilang tertimbun longsoran di Dusun Kedung Buweng, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul.

Ketua RT 02 Dusun Kedung Buweng, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul, Ismoyo Haryanto mengatakan, bahwa ada dua rumah yang terkena tanah longsor. Di mana jumlah penghuni kedua rumah tersebut yakni tujuh orang.

"Korban ada tujuh dan yang selamat sempat, satu orang ditemukan tadi malam dengan kondisi meninggal (Sudi Atmojo) dan dua orang lagi masih tertimbun," kata Ismoyo saat ditemui di lokasi longsoran, Senin (18/3/2019).

Ismoyo mengungkapkan identitas korban yang masih dicari yaitu Eko Supatmi (45) dan Rufi Kusuma Putri (9).

BPBD bersama pihak-pihak terkait melakukan pencarian dengan menggunakan tiga backhoe. Selain itu sejumlah relawan dan potensi SAR turut membantu dalam pencarian sejak kemarin.

Namun pencarian terhadap dua korban belum membuahkan hasil hingga malam tadi. Hal itu dikarenakan kondisi tanah di lokasi kejadian masih labil.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto mengatakan proses pencarian akan dilanjutkan pagi ini.

"Kami lanjutkan besok pagi sekitar jam 8," imbuh Dwi kepada detikcom.

"Sebetulnya kalau posisi kedua korban sudah bisa dipastikan, tidak jauh dari rumah korban yang terpendam. Tapi kondisi tanah di atasnya (lokasi tanah longsor) masih labil karena ada aliran air yang liar, itu yang membuat kondisi tanah belum stabil," ucapnya.

Dwi menambahkan, banjir dan longsor di Bantul terjadi karena akibat curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang sangat tinggi ini membuat Sungai Oya dan Sungai Celeng meluap.

Selain itu, hujan deras juga menggerus tanah di lereng-lereng pegunungan di Bantul sehingga menyebabkan tanah longsor di berbagai titik. Menurut Dwi, bencana itu melanda 13 Kecamatan di Kabupaten Bantul dan 4.427 jiwa sempat diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Sedangkan lokasi yang paling parah terdampak banjir dan tanah longsor adalah di Kecamatan Imogiri.

Para pengungsi kemudian pulang ke rumahnya masing-masing, mengingat luapan air berangsur-angsur surut pada Senin (18/3).

Tanah longsor terpantau juga terjadi di kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri. Di mana bangunan sisi timur makam tersebut ambrol dan materialnya menjatuhi 2 rumah di Dusun Kedung Buweng, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul.


Salah seorang abdi dalem dan penjaga makam Sri Sultan HB IX, Joko Nugroho menyebut, bahwa bangunan yang runtuh merupakan bangunan calon makam Sri Sultan HB X.

Menurutnya, bangunan tersebut ambrol karena fondasi bangunan retak dan tergerus karena terus menerus diterjang air hujan.

"Yang jebol itu fondasi pada bangunan calon makam Sri Sultan HB X, memang bangunannya baru dibandingkan dengan makam Sri Sultan HB IX," ujarnya kepada wartawan, Senin (18/3).

"Kemungkinan karena fondasi tidak kuat menahan air, apalagi ada retakan akibat gempa bumi tahun 2006," ujarnya.

Akibat bencana tersebut, Bupati Bantul, Suharsono menetapkan status tanggap darurat bencana. Rencananya status itu diberlakukan tanpa batasan waktu.

"Seminggu paling ndak (status tanggap darurat bencana di Bantul), kalau perlu kita nggak perlu batas waktu, pokoknya kita kerja keras, sampai malam nggak masalah," ujar Suharsono saat ditemui di lokasi tanah longsor, Dusun Kedung Buweng, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul, Senin (18/3).


Sementara itu, Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut penyebab banjir dan longsor di Bantul karena curah hujan ekstrem. Menurut BMKG, cuaca ekstrem berpotensi masih akan melanda DIY untuk beberapa waktu ke depan.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, bahwa curah hujan yang turun sejak kemarin, Minggu (17/3) di DIY terbilang sangat ekstrem. Menurutnya, hal tersebut membuat tanah di Kabupaten Bantul terkikis dan menyebabkan tanah longsor dan banjir.

"Untuk terjadi tanah longsor itu perlu gunung, nah lereng-lereng gunung ini (di Bantul) dipicu oleh curah hujan ekstrem maka menjadi longsor. Kalau banjirnya karena berada di daerah datar," ujarnya saat ditemui di kompleks pemakaman Raja-raja Mataram, Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Bantul, Senin (18/3).

"Ditambah curah hujannya kemarin (Minggu 17/3) mencapai 148 milimeter, padahal namanya ekstrem itu 50 milimeter per hari sudah ekstrem, nah berarti ini hampir tiga kalinya," imbuh Dwikorita.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY, Reni Kraningtyas melanjutkan, bahwa badai Savannah yang berada di selatan Indonesia telah melemah. Kendati demikian, ia menilai hujan dengan kategori ekstrem tetap akan melanda DIY.

"Jadi memang potensi terjadi cuaca ekstrem sampai beberapa hari ke depan itu masih terjadi. Tetapi dengan potensi badai Savannah yang sudah menjauh ini mengindikasikan potensi curah hujan yang ekstrem akan mulai berkurang dan melemah," ucapnya.


"Yang perlu diwaspadai daerah selatan Jateng yang bagian tengah, termasuk DIY khususnya Imogiri masih berpotensi terjadi curah hujan tinggi. Karena memang puncak musim hujan itu (bulan) Februari tapi awal Maret kemungkinan masih terjadi," sambung Reni.

Selain menimbulkan korban jiwa, banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Bantul juga berdampak pada sektor pertanian dan wisata, khususnya wisata minat khusus.

Sujiman (60), warga Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Bantul menjelaskan bahwa penutupan sementara akses menuju area makam karena bangunan sisi timur makam tersebut ambrol. Namun penutupan akses hanya dilakukan sementara.

"Ditutup dari jam 10 pagi sampai 1 siang tadi. Sebenarnya boleh naik (ke tangga menuju area pemakaman), tapi nggak boleh masuk ke dalam (area pemakaman). Tadi kami sarankan pengunjung untuk berada di bangsal Masjid saja," ujarnya saat ditemui di pintu masuk makam raja-raja Mataram Imogiri, Senin (18/3).

Namun, jika situasi dan kondisi telah stabil, makam raja-raja Mataram itu kembali dibuka seperti biasa.

Sedangkan untuk sektor pertanian, 62 hektare lahan pertanian di Bantul terancam gagal panen. Hal itu karena luapan air menggenangi lahan.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (Dispertautkan) Kabupaten Bantul, Pulung Haryadi mengatakan, bahwa lahan yang terendam luapan air sebagian besar adalah lahan tanaman padi. Menurutnya, umur tanaman padi di lahan yang terdampak rata-rata masih berumur 50 hari.

"Yang paling parah itu di Desa Parangtritis, Tirtohargo dan Tirtosari, semuanya di Kecamatan Kretek. Untuk luas lahan yang terdampak di tiga desa itu sekitar 62 hektare, padahal ada yang sudah siap panen itu," ujarnya saat dihubungi wartawan, Senin (18/3).

Lanjut Pulung, selain tanaman padi, di lahan yang terdampak itu terdapat pula tanaman bawang merah. Karena terendam air, Pulung memastikan tanaman bawang merah itu gagal dipanen.

"Kalau terendam banjir, (tanaman bawang merah) pasti akan mati. Tapi unuk tanaman padi bisa bertahan sampai tiga hingga lima hari meski setelahnya jadi pusau," katanya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed