DetikNews
Jumat 15 Maret 2019, 14:45 WIB

Heboh Apel Kebangsaan Rp 18 M, Ida Fauziyah: Persatuan Mahal Harganya

Akrom Hazami - detikNews
Heboh Apel Kebangsaan Rp 18 M, Ida Fauziyah: Persatuan Mahal Harganya Ida Fauziyah. Foto: Wildan/detikcom
Kudus - Direktur Penggalangan Pemilih Perempuan TKN Jokowi-Ma'ruf, Ida Fauziah menanggapi heboh acara Apel Kebangsaan yang bianyanya Rp 18 miliar. Berikut ini penilaian Ida tentang hal itu.

"Apel Kebangsaan di Semarang, saya kira itu mengajak kepada masyarakat, di pilpres, pileg, beda politik. Biar pilpres tidak memecahkan persatuan bangsa kita. Anggarannya saya tidak tahu persisnya. Yang tahu persis teman-teman DPRD," kata Ida kepada wartawan di Rakor Perempuan Jaringan NU Kabupaten Kudus Jokowi-Amin, di Gedung Muslimat NU, Jati, Kudus, Jumat (15/3/2019).

"Mudah-mudahan sudah bisa dihitung itu. Kalau saya melihat kebutuhan persatuan, kita bisa bayar semahal apapun. Persatuan itu mahal harganya jangan sampai beda politik, beda pilihan presiden, menghancurkan persatuan yang sudah lama terbangun," imbuh dia.

Die mengatakan bahwa Pilpres merupakan kegiatan lima tahunan dan persatuan itu sesuatu yang mahal. Dia lebih memilih untuk melihat substansi acara itu daripada harga yang dikeluarkan.

"Saya nggak lihat biayanya tapi ini mendukung substansi itu," ujarnya.


Dalam kesempatan ini, Ida juga menjelaskan dia kini sedang mengajak konsolidasi perempuan NU Kabupaten Kudus.

"Saya kira kepentingannya adalah konsolidasi perempuan NU yang kita minta sebenarnya untuk bergerak, karena kita meyakini Jokowi dan Ma'ruf Amin adalah pasangan yang bisa membawa Indonesia maju," ujar Ida.

Dia melihat saat ini suasana jelang Pilpres juga kian menghangat. Hal itu ditandai dengan maraknya fitnah, hoaks, dan lainnya. Maka dia berharap perempuan NU Kudus bijak menyikapinya.

"Perlu kita tekankan bahwa suasana jelang Pilpres kian menghangat, fitnah, hoaks begitu merebak di kalangan masyarakat. Kita minta perempuan NU di Kudus untuk bagaimana teman-teman bisa mengklarifikasi atau memberi penjelasan bila ada hoaks yang begitu meluas," ujar Ida.


"Teman-teman harus bisa memberikan jawaban dan klarifikasi yang jelas. Yang kita undang ini pimpinan ranting muslimat, fatayat, IPPNU se-Kabupaten Kudus. Teman-teman diharapkan lebih cerdas dalam menggunakan media sosial, karena fitnah cukup luas di media sosial. Mereka juga pengguna medsos, yang kita minta bijak bisa memberikan tabayun atas berita-berita," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Ida menargetkan di Jawa Tengah capres 01 paling tidak bisa sampai 70 persen.


"Itu (target 70 persen) paling jelek. Tapi saya yakin Jateng akan lebih dari 70 persen," sambungnya.

Dalam acara, muslimat belajar cara mencoblos di pemilu nanti. Asyrofi Masyitho sebagai ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Kudus berpesan agar warga memanfaatkan hak pilihnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed