DetikNews
Kamis 14 Maret 2019, 20:55 WIB

Pusham UII: Jokowi Harus Panggil Agum yang Ngaku Tahu Penculikan

Usman Hadi - detikNews
Pusham UII: Jokowi Harus Panggil Agum yang Ngaku Tahu Penculikan Agum Gumelar bersama Wiranto (Foto: Tsarina/detikcom)
Yogyakarta - Direktur Pusat Studi Hukum dan Hak Asasi Manusia (Pusham) UII, Eko Riyadi, meminta Presiden Jokowi memanggil Agum Gumelar. Agum harus didesak membeberkan ke publik atas klaim dia yang mengaku tahu detail kasus penculikan aktivis tahun 1998.

"Presiden (Jokowi) harusnya panggil Agum Gumelar itu untuk mempertanggungjawabkan apa yang dia katakan itu (terkait tragedi 1998) di depan pemerintahan," ujar Eko saat dihubungi wartawan, Kamis (14/3/2019).

"Dari situ kemudian diungkaplah para korban yang waktu itu hilang misalnya, itu apakah masih hidup atau tidak. Kalau sudah mati, matinya di mana, di kubur di mana, dan itu adalah informasi publik," sambung Dosen FH UII ini.


Menurut Eko, Agum Gumelar secara moral wajib membuka dokumen peristiwa 1998 kepada publik. Kemudian pemerintah berkewajiban untuk membongkar kasus yang diduga berkaitan pelanggaran HAM berat ini di depan hukum.

Eko justru mempertanyakan apabila Agum tak bersedia membuka dokumen insiden 1998 ke publik. Dia juga mengecam apabila kasus dugaan pelanggaran HAM berat ini hanya dijadikan komuditas politik.

"Sebenarnya saya berpikirnya begini. Kejahatan yang serius adalah ketika informasi mengenai pelanggaran berat HAM masa lalu itu hanya dijadikan komoditas politik oleh siapapun," ungkapnya.


"Tetapi ketika itu hanya menjadi wacana untuk kepentingan elektoral, itu adalah kejahatan baru. Kejahatan baru dalam bentuk melanggengkan impunitas bagi para pelaku," lanjutnya.

Oleh karenanya, Eko menilai kasus 1998 perlu segera diungkap. "Ini monumen, benar. Tetapi seharusnya sudah dilakukan dari dulu. Karena kalau ini tidak dituntaskan, nanti Pilpres yang akan datang muncul lagi," tutupnya.


Seperti diberitakan sebelumnya, Agum Gumelar membuat pengakuan seputar sidang pemecatan Prabowo Subianto dari dinas kemiliteran. Baik BPN maupun TKN menanggapi pernyataan Agum.

"Tim Mawar yang melakukan penculikan itu, bekas anak buah saya semua dong. Saya juga pendekatan dari hati ke hati kepada mereka, di luar kerja DKP. Karena mereka bekas anak buah saya dong. Di sinilah saya tahu bagaimana matinya orang-orang itu, di mana dibuangnya, saya tahu betul," ujar anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini.
(ush/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed