detikNews
Rabu 27 Februari 2019, 13:29 WIB

Sempat Ditolak, Keberadaan 14 Anak ADHA di Solo Diminta Dirahasiakan

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Sempat Ditolak, Keberadaan 14 Anak ADHA di Solo Diminta Dirahasiakan Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listiarti. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memastikan 14 anak dengan HIV/AIDS (ADHA) di Solo telah terpenuhi hak-haknya. Namun KPAI menyarankan agar keberadaan mereka dirahasiakan.

Setelah ditolak orang tua murid, 14 ADHA itu kini telah dipindah ke sekolah lainnya secara terpencar. Namun tempat sekolah mereka yang baru kini dirahasiakan.

"ini antara dua sisi, terbuka dan tidak terbuka semuanya punya dampak, sama-sama menolak. Memang buah simalakama bagi pemerintah kota," kata Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listiarti usai beraudiensi di Balai Kota Surakarta, Rabu (27/2/2019).

Keberadaan mereka dikhawatirkan dapat berdampak buruk bagi psikologis anak. Sebab ADHA mungkin saja mendapatkan perlakuan buruk oleh temannya.

"Kalau anak itu dibully, upaya pemulihan tekanan psikologis akan diberikan teman-teman pekerja sosial. Termasuk pengasuhnya melihat anaknya murung, kenapa, itu akan dibantu psikolog," ujar dia.

Namun menurutnya, ADHA yang diasuh Yayasan Lentera itu dalam kondisi ceria. Retno menilai ADHA tersebut telah menerima hak dasar anak, yakni pendidikan dan kesehatan.


Bahkan Retno menilai penanganan ADHA di Kota Solo merupakan yang terbaik daripada di kota-kota. Dia meminta daerah lain agar mencontoh Solo dalam menangani ADHA.

"Selain pendidikan dan kesehatan, Pemkot Surakarta juga memberikan rumah singgah yang udaranya, situasinya sudah bagus untuk tumbuh kembang anak-anak. Ada mainan perosotan, ada ayunan. Nanti ke depan bisa saja untuk diberikan mainan lain," katanya.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, KPAI mengimbau agar pemerintah lebih banyak melakukan komunikasi dan sosialisasi. Sebab, menurut Retno, peristiwa penolakan sebelumnya terjadi akibat kurangnya komunikasi.


Adapun penolakan ADHA terjadi saat mereka menempati sekolah baru. Penempatan sekolah baru itu terkait dengan kebijakan penggabungan beberapa sekolah yang berdekatan menjadi satu.

"Menurut saya hanya masalah komunikasi, karena di sekolah lama diterima tapi di sekolah baru ditolak. Karena sekolah baru ini tidak disiapkan, harus ada sosialisasi dan komunikasi dulu," tutupnya.
(bai/sip)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com