DetikNews
Jumat 22 Februari 2019, 15:51 WIB

Tiap Jumat, Penjual Soto di Muntilan Ini Gratiskan Dagangannya

Eko Susanto - detikNews
Tiap Jumat, Penjual Soto di Muntilan Ini Gratiskan Dagangannya Soto gratis di Muntilan. Foto: Eko Susanto/detikcom
Magelang - Penjual soto ayam khas Semarang ini, tiap Jumat menggratiskan sotonya untuk jamaah salat Jumat. Sebanyak 100 mangkok disediakan gratis bagi jamaah salat Jumat.

Bersedekah tersebut dilakukan penjual soto ayam khas Semarang, Haris Triyana (42), warga Kenatan RT 03/RW 13, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Saat ditemui di Masjid Al-Muslimin, Kendalgrowong, Muntilan, dia terlihat tengah menata mangkok soto yang siap disajikan di gerobaknya yang telah dimodifikasi digandeng dengan sepeda motornya.

Setelah terdengar suara azan, ia terus mengambil air wudu bergabung dengan jamaah salat Jumat untuk mendengarkan khotbah hingga selesai. Usai salat Jumat, ia terus menuju di gerobak sotonya untuk melayani para jamaah yang telah antre mengambil soto. Dalam waktu singkat 100 porsi soto habis, bahkan ada jamaah yang akan mengambil, tapi ternyata habis.

Salah satu jamaah salat Jumat Masjid Al-Muslimin, Teguh Tamtomo (54), warga Karangwaru, Muntilan mengatakan, untuk orang yang menggratiskan dagangannya seperti soto ayam Semarang di sini (Muntilan) baru bagi jamaah salat Jumat dan warga sekitar.

"Fenomena seperti ini (menggratiskan), di sini baru ini fenomena tempat usaha makan menggratiskan bagi jamaah salat Jumat dan masyarakat sekitar. Saya sudah dengar di kota-kota lain, keyakinan sedekah bagi kami (umat Islam) Allah akan mengganti lebih sekian kali lipat, keyakinan kami sudah terbukti digantikan berlipat ganda," tuturnya.


Dia pun tadi sempat menikmati satu mangkok plastik soto ayam khas Semarang yang disajikan Haris.

"Soto Semarang enak, memang khas rasanya berbeda dengan soto umumnya," tuturnya.

Sementara itu, Haris mengatakan, sebelum berjualan soto ini dulunya bekerja sebagai tukang parkir di Pasar Muntilan. Kemudian, mendengar kabar jika pasar tersebut akan direnovasi, terus membanting tulang berjualan soto. Dia dulunya keliling jualan sejak pukul 08.00 WIB, hingga menjelang magrib dan berlangsung hingga tiga tahun.

"Mulai buka soto ayam khas Semarang tahun 2013, dulunya jualan keliling dengan sewa gerobak per hari Rp5.000," katanya.


"Saat jualan keliling itu, kalau di jalan bertemu dengan orang yang bekerja membersihkan sampah saya kasih (soto). Atau di jalan berpapasan orang yang membutuhkan, saya kasih," katanya.

Namun demikian, usaha jualan soto tersebut sempat vakum beberapa tahun karena menjadi driver grap di Yogyakarta. Ia mengaku, selama menjadi driver grap jarang bertemu dengan keluarganya, kemudian memutuskan berjualan soto kembali di rumahnya.

"Sekarang ini, kami kembali jualan soto seperti dari awal lagi. Harga per mangkok Rp6.000, tapi kalau dipesan semangkok Rp7.000," kata bapak dua putera, seraya di rumah menjual hingga 100 porsi.

Suami dari Asih Sundari (24), tiap harinya berjualan soto di rumahnya. Namun demikian, khusus hari Jumat, sotonya digratiskan bagi jamaah salat Jumat di masjid yang ditujunya.

"Untuk sedekah ini awalnya saya dipesan orang untuk mengantarkan di masjid. Saya melihat ada orang yang tidak kebagian, saya kasihan sekali. Setelah itu, hati saya terketuk untuk bersedekah," ujar dia.

Untuk itu tiap Jumat, seperti biasanya pagi-pagi hari belanja di pasar membeli dua potong ayam kampung, maupun mangkok plastik. Setelah memasaknya selesai, ia kemudian menuju salah satu masjid. Setibanya di masjid menemui takmir meminta izin untuk bersedekah soto.

"Saya pilih masjid sendiri. Paling jauh masjid di daerah Borobudur, di Sawitan juga pernah dan masjid lainnya. Setelah melakukan sedekah seperti ini rasanya ayem. Saya yakin saja," ujarnya.

"Kalau ada jamaah yang nggak kebagian, saya sedih. Insya Allah, tiap Jumat akan terus kami lakukan," tutur dia.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
>