DetikNews
Selasa 19 Februari 2019, 15:19 WIB

Peredaran Obat dan Pupuk Palsu Hantui Petani Brebes

Imam Suripto - detikNews
Peredaran Obat dan Pupuk Palsu Hantui Petani Brebes Contoh pupuk ilegal di sebuah kios di Kecamatan Jatibarang. Foto: Imam Suripto/detikcom
Brebes - Peredaran obat dan pupuk pertanian ilegal dan palsu marak di kalangan petani Brebes, Jawa Tengah. Obat-obatan dan pupuk ini tidak masuk dalam daftar di Kementan.

Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Brebes, Muhamad Furqon membenarkan adanya peredaran obat dan pupuk ilegal ini.

Selain dijual di toko pengecer obat pertanian, produk ilegal ini juga dipasarkan dengan cara door to door. Caranya dengan mendatangi kelompok-kelompok tani dan merayu mereka dengan harga murah.

"Mulanya dapat laporan dari kelompok tani di Desa Rancawulu. Saya cek ternyata benar. Modusnya pertama dengan mendatangi kelompok tani. Kedua dengan persaingan harga. Misalnya beli dua dapat satu," terang Muhamad Furqon saat ditemui di kantornya, Selasa (19/2/2019).

Dari laporan itu, pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Brebes menemui petani yang sudah membeli. Setelah dilakukan pengecekkan, ada kejanggalan dalam nomor register. Dimana nomor register itu tidak masuk dalam daftar Kementerian Pertanian.

"Saat dicek, nomor register tidak sesuai dengan peraturan Kementan, jadi patut dicurigai adalah obat dan pupuk palsu," imbuhnya.

Secara rinci diuraikan, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 24 Tahun 2011 tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida, nomor pendaftarannya harus terdiri dari huruf RI dan dilanjut dengan 14 digit. Jika nomor register tidak sesuai maka akan dikategorikan sebagai produk palsu dan ilegal.

Dari pengecekan di lapangan, saat itu juga petugas berhasil menemukan lima merek obat dan pupuk yang tak teregister. Lima produk tersebut masing-masing bermerek Biomaks (bio organik cair), Starflash (pestisida dengan zat pengatur tumbuh), Ultimax (insektisida), Biostar dan Deltox (fungisida).

Menurut penuturan Furqon, puluhan petani juga dilaporkan sudah membelinya. Sebab, harga yang dijual lebih murah dari kios atau toko obat. Apalagi dalam memasarkan dengan cara door to door.

Selain di Desa Rancawulu, petugas juga menemukan dua produk palsu di kios obat pertanian di Desa Kedungtukang Jatibarang. Dua produk ilegal tersebut masing-masing Vitrol (fungisida) dan pupuk cair merek Panther.

Rois Amri (32) pemilik kios mengaku baru sekali membeli produk tersebut. Dia mendapatkan produk obat itu dari sales keliling.

"Baru (buka) dua bulan ini. Dari awal Januari. Pas ada yang menawarkan produk, saya ambil beberapa untuk stok di toko. Tapi memang tidak tahu kalau produknya ternyata palsu (tidak terdaftar)," aku pemilik kios Amri Jaya Tani.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed