DetikNews
Kamis 14 Februari 2019, 16:26 WIB

Tekan Populasi dan Cegah Rabies, Kucing dan Anjing Dikebiri

Ragil Ajiyanto - detikNews
Tekan Populasi dan Cegah Rabies, Kucing dan Anjing Dikebiri Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom
Boyolali - Pemerintah Kabupaten (pemkab) Boyolali melakukan sterilisasi hewan peliharaan di masyarakat, khususnya kucing dan anjing. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan populasi dan mencegah penyakit hewan menular strategis (PHMS), seperti rabies.

"Sejauh ini memang belum ada kasus rabies di Boyolali. Kasus gigitannya sering, tapi selalu negatif rabies. Termasuk kera itu kan juga penular rabies, kasus (gigitan kera) di Desa Sendang (Karanggede) alhamdulillah juga negatif. Tetapi pencegahan kan tetap (perlu dilakukan)," ujar Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali, Juwaris, ditemui usai deklarasi kerjasama pemasangan instalasi ke peternak ayam broiler di Pendopo Alit Rumah Dinas Bupati Boyolali, Kamis (14/2/2019).

Menurut Juwaris, di Boyolali telah terjadi kasus gigitan anjing sekitar 17 kali. Namun, dari hasil pemeriksaan semuanya negatif rabies. Dikemukakan pula, jika terjadi gigitan anjing ke manusia, maka anjing tersebut tidak boleh dibunuh.

"Kenapa? Kita ambil sampelnya, itu penyebab rabies atau tidak. Kalau nggak rabies, orangnya aman. Tetapi kalau rabies, orangnya harus ada perlakuan karena nanti bisa menular," jelasnya.

Ia mengatakan hewan pembawa penyakit rabies antara lain anjing, kucing dan kera. Gejala-gejalan hewan yang menderita rabies antara lain anjingnya tidak normal, yang tadinya penurut kemudian menjadi agresif dan suka menggigit.

Untuk populasi anjing dan kucing di Boyolali, Juwaris mengaku belum bisa menghitung. Pihaknya mengimbau pemilik hewan peliharaan tersebut untuk melapor ke Disnakan.

"Apabila nanti terjadi hal-hal tak diinginkan, pengobatannya kita bisa aktif," katanya.

Juwaris mengatakan sterilisasi dilakukan untuk pencegahan populasi kucing dan anjing di Boyolali. Selain itu juga untuk mengetahui atau melakukan pemeriksaan, hewan itu pembawa rabies atau tidak.

"Tapi sejauh ini yang ditemukan di UPT-UPT, aman ya (tidak ditemukan rabies). Tapi paling tidak mengurangi populasi," tandasnya.

Kegiatan sterilisasi tahap awal ini sasarannya yakni hewan yang dipeliharan masyarakat. Hal itu karena mudah dijangkau dibandingkan yang liar.

"Sebenarnya kalau dirasa populasi hewan liar sangat mengkhawatirkan, ya nanti dikurangi populasi. Tapi sekarang kan belum ada keluhan," kata dia.

Penyakit hewan menular strategis di Boyolali yang diwaspadai antara lain antraks, rabies dan flu burung.

"Itu penyakit-penyakit yang betul-betul kita cegah," tegas dia.

Ia menamabhakn kegiatan sterilisasi menjalin kerjasama dengan Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jateng IV serta sejumlah petshop di Boyolali serta Lima UPT Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di Boyolali.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnakkan Boyolali, Afiany Rifdania, menambahkan program steril bersubsidi ini dilaksanakan di lima Puskeswan. Sasarannya hewan pembawa rabies dan bisa menularkan toksoplasmosis dan leptospirosis.

"Kami khawatir populasinya yang sudah cukup banyak dan liar. Jadi kami mengadakan kegiatan ini supaya mengurangi populasi yang ada di lapangan," terang Afiany Rifdania.

Pihaknya berharap, masyarakat dan komunitas pecinta hewan semakin mengenal lebih dekat dengan Puskeswan. Sehingga peduli dengan kondisi kesehatan hewan peliharaan mereka, termasuk anjing dan kucing.


(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed