'Tak Punya Beban Masa Lalu, Islam Indonesia Antitesis Islam di Arab'

Usman Hadi - detikNews
Jumat, 25 Jan 2019 14:31 WIB
Seminar Internasional tentang Islam Indonesia di UGM. Foto: Usman Hadi/detikcom
Sleman - Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dianggap sebagai motor Islam rahmatan lil alamin. Gerakan dakwah kedua organisasi ini dinilai bisa menginspirasi negara-negara Islam lainnya.

Kiprah NU dan Muhammadiyah ini dibahas dalam seminar internasional 'Islam Indonesia di pentas global: inspirasi damai Nusantara untuk dunia' yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, di Balai Senat UGM, Jumat (25/1/2019).

Hadir di acara ini Mantan Ketum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif, Katib Amm PBNU Yahya Cholil Staquf, Mantan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta, pengajar Arizona State University USA Mark R Woodward, Wamenlu Fachir dan sejumlah tokoh lainnya.

Dalam sambutanya, Fachir mengatakan Indonesia beberapa tahun terakhir memang serius mempromosikan Islam rahmatan lil alamin ke seluruh dunia. Untuk menyukseskan agenda ini pemerintah menggandeng sejumlah pemuka agama.

"Memproyeksikan Islam di Indonesia yang rahmatal lil alamin ke dunia sudah kita lakukan lebih dari 15 tahun. Ini adalah kerja bersama diplomasi dengan sejumlah tokoh agama," ucapnya.

Selain menggandeng pemuka agama, lanjutnya, pemerintah juga menggandeng dua organisasi besar di Indonesia yakni NU dan Muhammadiyah. Sejumlah agenda besar untuk mempromosikan Islam damai digelar melibatkan dua organisasi tersebut.

"Dengan Nahdlatul Ulama misalnya kita menyelenggarakan International Conference Islamic Scholars yang diinisiasi oleh almarhum KH Hasyim Muzadi. Bersama dengan Muhammadiyah kita menggelar World Peace Forum yang digagas Prof Din," sebutnya.

Selanjutnya, pemerintah Indonesia juga menggelar dialog lintas iman yang dihadiri pemuka agama dari 42 negara. Indonesia juga berupa mengenalkan Islam wasathiyah kepada negara-negara Islam seperti Afganistan dengan melibatkan NU dan Muhammadiyah.

"Pada 13 Desember yang lalu saya menutup program pengenalan Islam Wasathiyah bagi 63 generasi muda Afganistan selama 104 hari di tiga pesantren di Jawa Barat dan di Jawa Tengah. Ini adalah upaya kita menawarkan gagasan Islam yang damai," paparnya.

Buya Syafii Maarif menambahkan, kondisi negara-negara Islam di Timur Tengah memang memprihatinkan dan berada di titik nadir peradaban. Di tengah kekacauan dunia Islam ini muncul wajah Islam damai yang dimotori NU dan Muhammadiyah di Indonesia.

Buya Syafii Maarif saat bicara dalam seminar internasional di UGM. Buya Syafii Maarif saat bicara dalam seminar internasional di UGM. Foto: Usman Hadi/detikcom

"Islam Indonesia akan menjadi antitesis dengan Islam di pusatnya. Islam Indonesia tidak punya beban masa lampau, kalau di Arab, di Afrika Utama, itu konflik ideologi itu tajam sekali, mereka saling mengkafirkan," ungkapnya.

Sementara Mark R Woodward menjelaskan, kini wajah dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni NU dan Muhammadiyah telah berubah. Menurutnya, kerjasama di antara kedua organisasi ini di situasi sekarang sangatlah berarti.

Dijelaskannya, kerjasama antara NU dan Muhammadiyah bukanlah perkara tabu. Perbedaan pandangan di antara massa kedua organisasi besar ini tak lagi setajam dulu. Tokoh sentral kedua organisasi ini nyatanya beberapa kali sukses bekerjasama.

"Buku Ilusi Negara Islam, itu kerjasama antara Buya Syafii dengan Gus Dur. Itu proyek dari perspektif sejarah ini penting sekali. Ini contoh NU dan Muhammadiyah bisa kerjasama dengan hasil yang (hasilnya) sangat berarti," tutupnya. (ush/sip)