DetikNews
Jumat 11 Januari 2019, 16:59 WIB

Alami Gangguan Pencernaan, Balita di Purbalingga Berbobot 10 Kg

Arbi Anugrah - detikNews
Alami Gangguan Pencernaan, Balita di Purbalingga Berbobot 10 Kg Foto: Arbi Anungrah/detikcom
Purbalingga - Afri, balita berusia 4,5 tahun warga Purbalingga, Jawa Tengah terbaring lemas tanpa daya di Kamar Intensif, Ruang Cempaka, RSUD dr R Goeteng Taroenadibrata. Tubuhnya sekurus dengan berat badan hanya 10 kilogram, karena tidak ada asupan makanan yang masuk ketubuhnya. Ia mengalami gangguan pencernaan sehingga asupan makan tak terserap tubuhnya.

Anak ketiga pasangan Kusniarto (36) dan Munsiati warga Grumbul Candimaya Rt 13 Rw 6 Desa Candiwulan, Kecamatan Kutasari ini sudah 3 hari terakhir mendapatkan perawatan serius. Afri selalu muntah dan diare usai menyantap setiap asupan makanan, padahal nafsu makannya normal.

Sejak 3 bulan terakhir, dia mengalami gangguan pencernaan. Ia sering muntah dan diare usai makan. Padahal kondisi sebelumnya normal seperti anak-anak pada umumnya.

Namun pada nulan November lalu, Afri sempat menjalani pengobatan di RSUD dr R Goeteng Taroenadibrata karena mengalami gangguan pencernaan.

"Kemarin normal sehat, itu kan yang dikeluhkan yang 1 bulan terakhir tidak mau makan, kalau makanan masuk terus 5 menit muntah," kata Kusniarto kepada wartawan, Jumat (11/1/2019).

Kusniarto yang hanya bekerja sebagai buruh menceritakan saat Afri baru lahir sempat tidak mempunyai dubur, hingga harus dibuatkan lubang pembuangan melalui usus.

Setelah operasi, karena keterbatasan ekonomi yang mengharuskan kontrol setiap satu minggu, tidak dilakukan hingga 3 bulan lamanya. Besarnya biaya transportasi dari Purbalingga menuju Gombong saat itu menjadi masalah keluarga. Meskipun biaya kontrol gratis melalui BPJS.

"Dulunya dua kali operasi waktu bayi di RS PKU Muhammadiah Gombong, Kebumen karena disini (RSUD dr R Goeteng Taroenadibrata). Dulu belum memiliki peralatan yang memadai, jadi harus di rujuk ke Gombong untuk menjalani operasi pembuatan dubur dan operasinya saat usia 25 hari," kataanya.

"Dulu terlambatnya karena uang, karena untuk kontrol yang 1 minggunya saja harus menyiapkan Rp 400-500 ribu untuk transportnya. Kalau sakit yang ini tidak tahu ini penyakit apa, karena katanya lambung ususnya bocor gitu," jelasnya.

Saat kondisinya terus menurun lanjut dia, Afri yang merupakan anak ketiga iru tidak bisa makan lagi.
Alami Gangguan Pencernaan, Balita di Purbalingga Berbobot 10 KgFoto: Arbi Anungrah/detikcom

"Saat masih dirumah ya hanya tidur di sofa saja, makan apa saja 5 menit muntah 5 menit muntah, makanya terus diawasi langsung," katanya

Sementara Direktur RSUD dr R Goeteng Taroenadibrata, Purbalingga, dr. Nonot Mulyono mengatakan yang dialami oleh Afri bukanlah murni merupakan akibat gizi buruk. Tapi disebabkan oleh riwayat sejak lahir yang tidak mempunyai anus hingga harus menjalani 2 kali operasi di RS PKU Gombong. Hasilnya pun bagus selama ini hingga terjadi gangguan selama 3 bulan terakhir ini.

"Ya karena problem pencernaan, otomatis yang masuk di tubuh jadi sedikit, akhirnya jadi kurus, gizinya jadi berkurang. Jadi saya pikir murni karena penyakit. Kalau masalah sosial, kurang ekonomi kayaknya tidak," jelasnya.

Hingga saat ini, pihaknya mengakui jika belum dapat mendiagnosis apa penyakit yang dialami Afri hingga menyebabkan penurunan kondisi tubuhnya. Tim dokter yang menangani Afri saat ini masih berupaya untuk mencari penyakitnya yang berkaitan dengan pencernaan.

"Ini sedang dalam perawatan, diagnosis utamanya sedang kita cari, tapi kan gejala-gejala yang muncul kita tahu, misalnya ada intoleransi yang dikasih makan terus muntah dan diare. Itu sebenarnya efek dari penyakit utama, dan penyakit utamanya sedang kita cari karena dia dikasih makan keluar dan muntah, akibatnya berpengaruh terhadap asupannya, karena apa yang dimakan langsung keluar jadi tidak ada yang diserap," ujarnya.

Dia menjelaskan jika Afri sebelumnya sudah pernah dirawat pada bulan November 2017 lalu. Saat itu dokter mendiagnosis terdapat gerakan usus yang lambat, sehingga menyebabkan dorongan makanan yang masuk tidak dapat terolah dengan baik. Namun untuk dapat memastikan pihaknya sudah menyarankan pada keluarga agar Afri bisa mendapatkan penanganan yang lebih baik di RSUD Margono Soekardjo Purwokerto, namun keluarga menolak.

"Saat itu kondisinya belum seperti sekarang, belum kurus itu, diagnosisnya itu gerakan usus, problem percernaan tidak kunjung sembuh. Sebenarnya sudah disarankan untuk di rujuk ke Margono supaya lebih intens lagi, tapi keluarga menolak," ucapnya.

Dia mengatakan saat ini berat badan Afri hanya 10 kilogram dari berat normal anak seumurannya sekitar 15-20 kilogram. Meskipun keinginan makannya masih tinggi, tapi pihaknya menyarankan pada keluarga untuk tetap membatasi apa yang akan dimakan. Hal tersebut dilakukan agar tidak ada asupan yang dapat merangsang lambung secara berlebih hingga menyebabkan muntah dan diare kembali.

"Kondisi sejak masuk sudah lebih baik, tapi problem gizinya memang masih dalam perbaikan dan masih jauh dari harapan karena kondisnya juga masih seperti itu," ujarnya.


(arb/bgk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed