Bangunan yang terkubur di bawah tanah itu terletak di kawasan perbukitan Menoreh, Dusun Sudimoro, Desa Bapangsari, Kecamatan Bagelen, Purworejo. Ditemukan para penambang batu andesit beberapa hari lalu.
Para penambang itu adalah pekerja tambang yang sedang melakukan pengerukan material tanah di area penambangan batu andesit milik PT Sekawan Bayu Perkasa (SBP). Saat ditemukan, benteng dalam keadaan tertimbun tanah setebal 2 meter.
(Foto: Rinto Heksantoro/detikcom) |
"Awalnya alat berat kami, bucket itu saat mengeruk tanah menyentuh benda keras semacam cor-coran setelah itu dibersihkan dan ternyata seperti ini, ada benteng pendem," kata Humas PT Sekawan Bayu Perkasa, Teguh Imam Waluyo Jati, saat ditemui detikcom di lokasi, Jumat (11/1/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski tertimbun tanah, benteng masih terlihat utuh dan kokoh. Bangunan dilengkapi dengan pintu dan sejumlah lubang pengintaian di sisi timur dan selatan yang menghadap ke arah laut selatan.
Pengkaji Pelestari Cagar Budaya dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng, Wahyu Broto Raharjo yang meninjau langsung benteng tersebut menuturkan bahwa bangunan itu merupakan peninggalan zaman penjajahan Jepang yang diperkirakan dibangun pada tahun 1942.
(Foto: Rinto Heksantoro/detikcom) |
"Bangunannya dengan panjang 5 meter, lebar 3 meter, tingginya sekitar 218 cm dan tinggi pintu 172 cm dengan lebar 70 cm. Diperkirakan benteng ini dibangun tahun 1942 atau 1943 oleh tentara Jepang," kata Wahyu.
Diduga kuat, bangunan sejenis masih tersebar di wilayah tersebut hanya saja keberadaannya belum diketahui lantaran tertimbun tanah.
Menurut catatan sejarah, benteng-benteng seperti itu dibangun sebagai pusat pertahanan dan pelatihan perang parit tentara Jepang. (mbr/mbr)












































(Foto: Rinto Heksantoro/detikcom)
(Foto: Rinto Heksantoro/detikcom)