90 Tahun Lalu, Kongres Perempuan Digelar di Dalam Joyodipuran

Pradito Rida Pertana - detikNews
Sabtu, 22 Des 2018 19:12 WIB
Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Yogyakarta - 90 tahun lalu tepatnya 22-25 Desember 1928 digelarlah Kongres Perempuan pertama. Kongres digelar di Dalem Joyodipuran Yogyakarta, tepatnya di Jl Brigjen Katamso Nomor 23 atau dulu bernama Jl Kintelan, Kampung Dipowinatan, Kecamatan Mergangsan.

Bangunan bercat putih yang masih asli terawat dengan baik dan di halaman ada beberapa pohon Sawo Kecik. Dalem Joyodipuran seluas 6.500 meter persegi ini sekarang menjadi kaantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bangunan ini menjadi saksi sejarah berlangsungnya Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22-25 Desember 1928 lalu.

Hari ini, Sabtu (22/12/2018) Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan, Kemendikbud RI di tempat itu menggelar berbagai acara untuk merefleksikan kembali semangat kongres pertama perempuan Indonesia.
hari ibu

"Kami sengaja mengambil tempat di Dalem Dipowinatan atau yang saat ini dikenal dengan Dalem Joyodipuran untuk mengingatkan kembali bahwa kongres perempuan pertama diselenggarakan di tempat tersebut," kata Direktur Sejarah Ditjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Triana Wulandari.

"Baru sekali ini (Seminar 90 tahun kongres perempuan) digelar. Sengaja saya gelar di sini (Dalem Joyodipuran) agar masyarakat tahu kalau ini tempat bersejarah dan juga untuk merefleksikan kondisi pada saat Kongres pertama)," lanjut diaa saat ditemui di Dalem Joyodipuran.

Menurutnya kongres perempuan pertama merupakan titik awal dan tonggak sejarah bagi gerakan perjuangan perempuan dalam kebangsaan dan pergerakan emansipasi di Indonesia.

"Di kongres (Perempuan pertama) dulu membahas masalah-masalah seperti buta huruf, kesehatan wanita, pendidikan, nikah dini, kawin paksa dan perdagangan perempuan. Di seminar ini sama, membahas permasalahan yang berkaitan dengan perempuan saat ini," paparnya.

Menurutnya saat ini perlu membangkitkan semangat juang kaum perempuan untuk terus mengambil perannya ditengah sejarah perjalanan bangsa.

Disinggung mengenai bertepatannya 90 tahun kongres pertama perempuan dengan peringatan hari Ibu, Triana menyebut bahwa hari Ibu baru disahkan Pemerintah sekitar tahun 1950-an.

"Jadi hari Ibu itu bukan mother's day ya, tapi hari Ibu itu kontribusi untuk bangsa, walaupun kodratnya perempuan sebagi ibu. Dan dengan refleksi kongres perempuan pertama ini, saya harap kaum perempuan terus menciptakan terobosan-terobosan yang cepat dan tepat di segala lini kehidupan," katanya.

Secara terpisah Ketua Umum PP Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini menambahkan masalah pernikahan dini masih banyak terjadi di Indonesia. Hal itu merugikan kaum perempuan yang seharusnya masih dapat mengenyam pendidikan untuk memperoleh masa depan yang cerah. Karena itu Pemerintah diharap lebih perhatikan kaum perempuan di Indonesia.

"Persoalan perkawinan anak masih jadi persoalan utama bangsa ini, dan itu membuat perempuan terkadang tidak mendapat tempat yang sepantasnya. Jadi seharusnya Pemerintah meningkatkan perhatian kepada kaum perempuan agar bisa mengenyam pendidikan, karena itu sangat penting," katanya.

Selain itu masih mencuatnya persoalan TKW yang kerap diperlakukan semena-mena di luar negeri. Menurutnya, hal itu dikarenakan minimnya pendidikan.

Padahal, jika mengenyam pendidikan yang layak kaum perempuan bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak dan tidak perlu menjadi TKW. (bgs/bgs)