Perintis Bank Pribumi Pernah Pakai Kas Masjid demi Adang Rentenir

Arbi Anugrah - detikNews
Sabtu, 15 Des 2018 08:45 WIB
(Foto: Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas - Sejarah panjang berdirinya sebuah bank di Indonesia tidak lepas dari sosok Raden Aria (RA) Wirjaatmadja. Patih di Kota Purwokerto ini memimpin tiga orang pribumi mendatangi seorang notaris Belanda pada 16 Desember 1895 untuk mendirikan bank pertama di Indonesia yang diinisiasi oleh pribumi. Bank tersebut dinamai Bank Priayi Purwokerto, yang dikemudian hari dikenal luas sebagai Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Sejarah berdirinya bank pertama di Indonesia ini diulas dalam sebuah buku berjudul 'Raden Aria Wirjaatmadja, Perintis Bank Pribumi' yang diluncurkan di Banyumas, Kamis, 13/12/2018 malam. Penulisnya adalah Iip D Yahya yang mendapatkan kepercayaan dari keluarga RA Wirjaatmadja.

"Purwokerto adalah kota pertama di Indonesia yang didirikan bank oleh pribumi. Bank saat itu sudah ada, sejak Belanda datang mereka mendirikan. Tetapi oleh pribumi dan untuk kepentingan pribumi ini yang pertama. Itulah alasan saya membuat judul ini 'Perintis Bank Pribumi', karena dialah pribumi pertama yang mendirikan bank," kata Iip D Yahya.

Menurut dia, RA Wirjaatmadja merupakan tokoh penting Indonesia. Dalam penelusuran informasi tentang RA Wirjaatmadja yang didapatkannya dari keluarga, dokumen dari dalam maupun dan luar negeri, maupun pemberitaan media Belanda, disebutkan bahwa RA Wirjaatmadja mendirikan Bank Priayi Purwokerto untuk kesejahteraan masyarakat pribumi.

Dalam buku tersebut ditulis, pada 16 Desember 1895 RS Wirjaatmadja memimpin tiga pribumi Jawa lain yakni Raden Atma Sapradja seorang Ondercollecteur (wakil pengumpul pajak) Afdeling Purwokerto, Raden Atma Soebrata seorang Wedana Distrik Purwokerto dan Raden Djaja Soemitra seorang asisten wedana kelas satu Purwokerto. Mereka mendatangi Asistren Residen Purwokerto, Enginius Sieburgh, yang merupakan pejabat notaris untuk mencatat akta otentik permohonan badan hukum Bank Priayi Purwokerto.

"Mendirikan Bank Priayi Purwokerto dengan akte nomor 6 tanggal 16 Desember 1895 yang saya kutip dibelakang buku ini, jadi itu bukti otentik bahwa memang bank ini didirikan jadi tidak bisa dibantahkan dan pendirinya adalah 4 orang Jawa yang dipimpin oleh Patih Wirjaatmadja," jelasnya.


Dasar pemikiran RA Wirjaatmadja mendirikan bank pribumi adalah karena di Purwokerto saat itu, hampir seluruh pegawai pribumi Jawa dari yang pangkatnya paling rendah hingga bupati semuanya terlilit hutang pada rentenir. Bank pribumi diharapkan bisa menggantikan fungsi rentenir sebagai pemberi hutang, tetapi dengan bunga yang rendah dan terjangkau. Oleh karena itu, Bank Priayi Purwokerto juga disebut sebagai Bank Pertolongan.

Akta pengajuan notaris pendirian bank tersebut ditolak Gubernur Jenderal Belanda, karena aturan saat itu tidak boleh ada pribumi yang memimpin sebuah lembaga badan hukum. Untuk menyiasati aturan, hingga tahun 1904 Bank Priayi Purwokerto dipimpin oleh Wolff Van Westerrode, Asisten Residen Purwokerto pengganti E Sieburgh. Selama dipimpin Westerrode, RA Wirjaatmadja tetap membesarkan bank tersebut dari belakang layar. Bank tersebut berkembang luas sebagai bank pedesaan dan bank perkreditan rakyat.

Buku setebal 163 halaman itu dikerjakan dalam waktu 6 bulan ini. Selain mengungkapkan menceritakan awal mula mendirikan bank pertama di Indonesia, juga mengusahkan perjuangan RA Wirjaatmadja harus menyisihkan gajinya membesarkan bank demi membantu para pegawai pribumi yang terjerat rentenir.

Tentang penggunaan dana umat juga ditulis dalam buku itu. Ditulis juga bahwa demi mewujudkan cita-citanya menyejahterakan pribumi, setelah melalui diskusi panjang, tercetuslah pemikiran untuk meggunakan uang kas Masjid Purwokerto yang pengelolaannya di bawah administrasi kepatihan. Asisten Residen menyetujui itu dan meminta Wirjaatmadja untuk segera membentuk komisi pengelola keuangan dan dana masjid.

Namun pihak Gubernur Jenderal mengetahuinya dan RA Wirjaatmadja dipersalahkan. Sang Patih ditegur keras dan harus mengembalikan dana kas masjid tersebut. Berdasarkan nasihat Snouck Hurgronje pada 4 Maret 1893, pemerintah mengawasi semua kas masjid secara ketat. Kas Masjid tidak boleh digunakan untuk selain kepentingan masjid dan mengambil bunga atas pinjaman dana masjid itu riba dan diharamkan.

Setelah status berbadan hukum turun, dalam setahun aset Bank Purwokerto terus melesat dan dikenal luas, sejak saat itulah Bank Purwokerto menjadi perhatian seluruh tanah Jawa. Bahkan menjadi topik perbincangan dalam sidang parlemen di Belanda. Bank Purwokerto dianggap sebagai model sukses upaya pengentasan kemiskinan penduduk Jawa, terutama untuk melepaskan masyarakat dari cengkraman lintah darat.


Guru besar ilmu sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sugeng Priyadi, mengatakan peluncuran buku tersebut penting agar publik tahu tentang kepedulian RA Wirjaatmadja memperjuangkan nasib pribumi saat itu. Bahkan Wirjaatmadja sampai harus 'menyerempet bahaya' menggunakan uang kas pembangunan dan pegembangan masjid untuk membesarkan bank pertolongan pribumi tersebut.

Pada masa-sama itu memang orang-orang Purwokerto yang sering merayakan pernikahan, khitanan secara besar-besaran, padahal secara ekonomi tidak mampu. Karena terlalu memaksakan diri itu akhirmya mereka terjerat hutang kepada rentenir Cina. Tak cuma jelata, bahkan juga pribumi kalangan atas, terjerat lilitan retenir.

Menurut Sugeng, jika pada zaman sekarang ini, tindakan yang diambil Patih Wirjaaatmadja untuk membantu rakyat dengan menggunakan kas masjid mungkin sudah dianggap sebagai korupsi.

"Sehingga membuat Patih Wirjaatmadja mengambil langkah-langkah supaya menggunakan kas masjid. Tapi kemudian pejabat Belanda yang datang ke Purwokerto mengetahui penggunaan dana masjid sehingga marah dan meminta uang segera dikembalikan. Orang-orang yang diberikan pertolongan oleh Patih Wirjaatmaja akhirnya mengembalkan uang-uang. Dalam waktu yang tidak lama juga uang masjid itu kembali seperti semula," jelasnya.

Dia mengatakan jika di Banyumas khususnya di Purwokerto banyak sekali tokoh-tokoh nasional yang lahir dari kota kecil ini. Selain Wirjaatmadja, ada pula Margono Djojohadikusumo yang merupakan ahli koperasi yang akhirnya mendirikan Bank BNI 46. Margono adalah ayah dari ekonom Sumitro Djojohadikusumo, ayahanda Prabowo Subianto.

"Di sini banyak bankir-bankir, jadi luar biasa. Banyumas itu paling tidak ada Patih Wirjaatmadja dan Margono. Padahal Margono itu orang koperasi, jadi kalau tanpa beliau, koperasi Indonesia tidak akan semaju seperti sekarang," ungkapnya. (arb/mbr)