DetikNews
Minggu 18 November 2018, 09:50 WIB

Menengok Jejak Misi Kemanusiaan di Museum Moesje Alt Semarang

Eko Susanto - detikNews
Menengok Jejak Misi Kemanusiaan di Museum Moesje Alt Semarang Foto-foto di Museum Moesje Alt Sumowono (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Kabupaten Semarang - Keberadaan Museum Moesje Alt di Sumowono, Kabupaten Semarang, ini belum banyak diketahui masyarakat luas. Museum ini menyimpan sejumlah catatan dan penggalan misi kemanusiaan seorang suster asal Belanda sebelum kemerdekaan.

Museum Moesje Alt berada di samping Gereja Sidang Jemaat Allah Alfa Omega Gambang Waluh, Dusun Gambang Waluh, Desa Kebonagung, Sumowono, Kabupaten Semarang. Museum ini dibangun pada tahun 2016 yang menempati lahan bekas gereja tersebut atas prakarsa Pendeta Karel S.

Untuk sampai di lokasi museum ini, dari Kota Sumowono mengambil arah menuju Temanggung, kemudian nanti belok kiri menuju arah Pringsurat. Dari Kota Sumowono sampai lokasi sekitar 6 km.
Menengok Jejak Misi Kemanusiaan di Museum Moesje Alt SemarangFoto Suster Moesje Alt dan barang miliknya (Foto: Eko Susanto/detikcom)

Pembangunan museum ini untuk mengenang jasa-jasa yang telah dilakukan Suster Moesje Alt saat menjalankan pelayanan di Dusun Gambang Waluh semenjak tahun 1916-1941. Saat berada di dusun tersebut, suster ini membangun gereja dan panti asuhan untuk menampung anak-anak yatim piatu dan janda-janda.

Bangunan museum ini berisi foto-foto kegiatan selama Suster Moesje Alt melakukan tugas di Indonesia. Selain di Gambang Waluh, suster ini melakukan kegiatan serupa di Surabaya, Manokwari (Papua), Temanggung, Tulungagung, Bandung, Sumatera, Kediri dan kota lainnya.

"Suster Moesje Alt terakhir berada di Gambang Waluh pada tahun 1941. Moesje Alt berada di Gambang Waluh sekitar 1916, beliau merupakan pendiri atau perintis gereja di sini," kata Kepala Dusun Gambang Waluh, Bambang Agus Tono, saat ditemui di lokasi museum, Minggu (18/11/2018).
Menengok Jejak Misi Kemanusiaan di Museum Moesje Alt SemarangKursi tandu yang sering diduduki Suster Moesje Alt (Foto: Eko Susanto/detikcom)

Di dinding tembok museum ini terpasang figura sejumlah foto-foto kegiatan Suster Moesje Alt selama berada di Indonesia. Baik itu, foto kenangan saat berada di Gambang Waluh, maupun lokasi lainnya.

Selain itu, ada kursi yang digunakan sebagai tandu saat suster akan menuju lokasi maupun meninggalkan lokasi Gambang Waluh. Ketika itu, warga menjemputnya dari Kota Sumowono, kemudian digotong dengan tandu ini menuju Dusun Gambang Waluh.

Adapun koleksi lainnya berupa lonceng gereja yang dulunya dibunyikan sebagai pertanda akan dimulainya ibadah. Lonceng tersebut dulunya jika dibunyikan bisa didengar hingga radius 5 km dari dusun tersebut. "Lonceng ini sebelum jatuh, bunyinya bisa terdengar hingga radius 5 km dari sini," ujarnya.
Menengok Jejak Misi Kemanusiaan di Museum Moesje Alt SemarangFoto kegiatan Suster Moesje Alt (Foto: Eko Susanto/detikcom)

Adapun sejumlah koleksi lainnya berupa puji-pujian dan alkitab dalam Bahasa Belanda. Koleksinya tersebut antara lain Clorieklokken (Pujian Bahasa Jawa), Christie In Ons, Overloiend Leven, Bergopwaarts, De Openbaring Van Johannes, Clorieklokken dan lainnya.

"Moesje Alt ini yang mendirikan gereja di Gambang Waluh. Dia dari negara Belanda, tapi bisa mendalami bahasa daerah. Saat mengajar anak-anak yatim piatu dan janda-janda menggunakan bahasa daerah. Keberadaan museum ini terbuka untuk umum," kata Pendeta Soelaiman (77).
Menengok Jejak Misi Kemanusiaan di Museum Moesje Alt SemarangFoto-foto kegiatan Foto kegiatan Suster Moesje Alt (Foto: Eko Susanto/detikcom)

Bambang Agus Tono menambahkan, saat peringatan 100 tahun Gereja Sidang Jemaat Allah Alfa Omega Gambang Waluh ada keluarga Moesje Alt dari Belanda yang datang. "Ketika itu datang satu orang dari Belanda," katanya.

Menengok Jejak Misi Kemanusiaan di Museum Moesje Alt SemarangBuku koleksi Foto kegiatan Suster Moesje Alt (Foto: Eko Susanto/detikcom)

(mbr/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed