DetikNews
Sabtu 17 November 2018, 09:38 WIB

Kolam Lele Bundar Buatan Trimono, Solusi di Lahan Sempit

Eko Susanto - detikNews
Kolam Lele Bundar Buatan Trimono, Solusi di Lahan Sempit Foto: Eko Susanto/detikcom
Semarang - Budidaya ikan lele saat ini terus terus berkembang karena teknologi budidaya yang relatif mudah bagi masyarakat. Budidaya lele juga bisa dilakukan dilahan yang tidak terlalu luas atau dilahan sempit.

Trimono (33), warga Kabupaten Semarang yang membuat model pemeliharaan lele dengan bioflok. Budidaya dengan sistem bioflok yang dicetuskan membuatnya menjadi mitra Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ia pun harus keliling seluruh Indonesia untuk membuat kolam bundar budidaya lele dengan sistem bioflok tersebut.

Saat ditemui di rumahnya Dusun Duren RT 01/RW IV, Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, terdapat 24 kolam dengan model bioflok. Adapun bioflok ini merupakan sistem budidaya dengan memanfaatkan bakteri yang membentuk flok.

Trimono mengakui jika dulunya hobi memelihara lele dengan kolam konvensional. Semenjak 2001 sampai 2009 sudah menggunakan terpal, namun kolamnya masih konvensional.

"Ide ini karena petani condong kolam tanah, membutuhkan lahan luas, kemudian timbul untuk mengembangkan kolam praktis, efektif dan tidak memakan lahan luas. Kemudian dengan kolam bundaran dari terpal," kata Trimono saat ditemui di rumahnya, Jumat (16/11/2018).

Sistem bioflok ini, kata dia, munculnya sekitar tahun 2011-an di Wiradesa, Pekalongan. Ketika itu, di Pekalongan dikembangkan dengan media kolam bundar sebagai uji coba.
Kolam Lele Bundar Buatan Trimono, Solusi di Lahan SempitFoto: Eko Susanto/detikcom

"Yang buat kolam saya, sistemnya petani membutuhkan kolam yang baru, efektif dan budidaya lebih efektif. Kalau kolam konvensional lahan luas, hasil belum maksimal dan lele berbau tanah. Kemudian dengan uji coba muncul sistem yang lebih higienis dengan media kolam bundar dan berkembang sampai sekarang," tutur pria yang mengaku lulusan SMP, itu.

Dari uji coba kolam bundar di Pekalongan tersebut, katanya, membuat pejabat dari KKP yang tertarik mengembangkan sistem budidaya bioflok media kolam bundar.

"Setelah itu, saya digandeng KKP untuk mengembangkan cara budidaya bioflok. Kemudian sistem budidaya bioflok jadi project nasional sampai sekarang," ujarnya.

Adapun untuk pembuatan kolam bundar sebagai project, katanya, ukuran kolam bundar dengan diameter 3 meter, ketinggian 1 meter, yang diisi air setinggi 90 cm dan mampu menampung 3.000 ekor lele. Kemudian bahan membuat kolam berupa terpal, rangka besi 6 mili meter, karpet alang, pipa peralon dan lain-lainnya.

"Perkiraan satu kolam bundar dengan diameter 3 meter ini biayanya Rp 1,7 juta. Satu hari bisa membuat 10-20 kolam dengan catatan bahan telah siap. Biaya ini belum termasuk membuat saluran pembuangan air," katanya.

Untuk ukuran kolam bundar lainnya diameter 1 meter biaya Rp 700 ribu, diameter 1,5 meter Rp 850 ribu serta diameter 2 meter Rp 1 Juta. Nantinya setelah kolam jadi, kemudian diisi air dengan ditambah bakteri, tetes tebu, dedak dan lain-lainnya. Setelah itu, sekitar 3-4 hari kemudian baru diisi benih lele.

Kemudian di kolam tersebut ditambah dengan penyuplai oksigen. Selain itu, dalam kolam dipasang pipa yang disalurkan keluar sebagai pipa pengatur ketinggian air. Hal ini jika kolam misalnya terisi air hujan maupun diisi air sampai penuh, dengan sendirinya air dan kotoran maupun endapan lainnya akan keluar melalui pipa pengatur ketinggian tersebut.

"Keuntungan dengan bioflok ini lahan terbatas, hasil maksimal, kualitas daging ikan lebih bersih," ujarnya.

Adapun di kolam miliknya ada 24 kolam, yang terisi lele 20 kolam. Untuk kebutuhan makan ikan diberikan sehari dua kali pada pagi dan sore. Kemudian kebutuhan pakan berupa pelet, satu kolam butuh sekitar 300 kg pakan untuk kebutuhan 3.000 ekor lele selama 3 bulan.

"Rata-rata satu minggu panen 3-4 kolam, kemudian 3-4 kolam lainnya diisi benih lele. Lele yang dipanen diambil tengkulak sekarang perkilo Rp 17.000," ujar dia.

Pembuatan kolam bundar ini telah dilakukan di seluruh Indonesia. Bahkan saat ini masih melakukan pembuatan kolam bundar di Kudus, Jepara, Demak, Magelang, Banjarnegara, Salatiga dan Kabupaten Semarang.


(bgk/bgk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed