Mengintip Khusyuknya Tradisi Potong Rambut Gimbal di Lereng Merbabu

Eko Susanto - detikNews
Rabu, 14 Nov 2018 15:39 WIB
Ritual potong rambut gimbal di Lereng Merapi. Foto: Eko Susanto/detikcom
Semarang - Tradisi potong gombak atau rambut gimbal anak-anak di lereng Merbabu, masih bertahan hingga sekarang. Warga melangsungkan tradisi ini secara turun temurun dari nenek moyangnya.

Seorang bocah bernama Amanda Dara Sofiana (4), warga Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang menjalani ritual tersebut hari ini. Ia merupakan anak pertama pasangan Beni Daryanto (24) dan Sukinem (24). Untuk waktu maupun pelaksanaan potong gombak dipilih pada hari Rabu Pon, (14/11/2018).

Sebelum dilakukan potong gombak, terlebih dilakukan prosesi tradisi nguwur-uwuri. Dalam prosesi ini tersedia sesaji antara lain jenang, pisang, nasi, tumpeng dan lainnya. Prosesi ini dipimpin oleh Sesepuh Vihara, Sarju, yang diawali dengan berdoa, kemudian Amanda dipangku dan dipayungi ibunya. Selain itu, di atas payung diberivkeranjang, kemudian Sarju menyebar beras kuning di atas payung tersebut.

Usai prosesi nguwur-uwuri, kemudian dilanjutkan dengan puja bakti serta doa bersama agar prosesi potong gombak berlangsung lancar dan aman. Dalam puja bakti inipun sempat diisi ceramah yang disampaikan Romo Pujianto dari Tuntang.

Adapun pemotongan rambut gimbal dilakukan sekitar pukul 11.00 WIB. Pemotongan rambut gimbal dilakukan Sesepuh Vihara, Sarju yang diawali dengan berdoa. Saat itu, juga ada sesajian meliputi jenang putih, nasi. Saat rambutnya dipotong, Amanda sempat menangis.


Ketika itu, warga lain yang hadir pun berupaya menenangkan Amanda yang menangis. Amanda pun sempat meminta dipangku neneknya. Setelah rambut gimbal dipotong, kemudian diletakan di mangkuk.

Usai rambut gimbal dipotong, Amanda kemudian didoakan di dekat tangga yang terbuat dari tebu, dengan anak tangganya terbuat dari pisang. Setelah itu, Amanda diminta memilih jajanan pasar yang tersedia. Bocah tersebut tampak memilih anggur dan manggis.

Ritual potong rambut gimbal di Lereng Merapi.Ritual potong rambut gimbal di Lereng Merapi. Foto: Eko Susanto/detikcom

Seorang tokoh masyarakat Dusun Thekelan, Sutopo (61) mengatakan, dulu ritual potong rambut gimbal dilakukan saat anak berusia7 tahun. Namun untuk sekarang, saat anak berusia 2 tahun atau 3 tahun sudah boleh dipotong gombaknya.


"Harapan dari orang tua kalau sudah dipotong, bebas dari gimbal tadi. Tapi kalau dari kecil (rambut gimbalnya) dipotong, kalau tidak diritual pasti tumbuh lagi, gimbal lagi," kata Sutopo di sela-sela prosesi potong gombak di Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Ritual potong rambut gimbal di Lereng Merapi.Ritual potong rambut gimbal di Lereng Merapi. Foto: Eko Susanto/detikcom

"Ini sudah turun temurun sejak nenek moyang. Sejak saya tahu, sudah ada upacara seperti ini. Bahkan dulunya sebelum tahun 1960-an pakai sajen-sajenan di samping ada jajanan pasar, ada pemotongan domba atau kambing, tapi sudah bisa diringkes (disederhanakan). Kepercayaan saya kan agama Buddha, dari kepercayaan saya tidak membunuh mahkluk lain, jadi latihan dari sedikit lama-lama kok baik sekali nggak perlu untuk memotong-motong (hewan), tapi jajan pasar pasti ada," katanya.

Ritual potong rambut gimbal di Lereng Merapi.Ritual potong rambut gimbal di Lereng Merapi. Foto: Eko Susanto/detikcom

Potongan rambut gimbal sang bocah kemudian akan dikubur di dekat hutan. Ayah Amanda, Beni Daryanto mengatakan, potong gombak merupakan tradisi yang ada di dusunnya sejak turun temurun. Dia mengungkapkan, Amanda berambut gimbal setelah sempat sakit dan dibawa ke rumah sakit. Saat pulang dari rumah sakit itulah, rambut Amanda menjadi gimbal.

"Harapan kami setelah dipotong ini, mudah-mudahan bisa berbakti sama orang tua, sehat selalu," tuturnya. (sip/sip)